Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur pada awal September 2026.
Sejumlah kawasan gunung dan perbukitan dilanda kebakaran, mulai dari Gunung Semeru, Wilis, Ungup-Ungup, Arjuno-Welirang, hingga Gunung Butak dan Bukit Sariwani.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (4/9/2026), titik kebakaran terpantau di Gunung Semeru, Gunung Wilis, Gunung Ungup-Ungup, Gunung Arjuno-Welirang, serta Bukit Sariwani.
Penanganan dilakukan tim gabungan yang terdiri atas BPBD, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Tahura Raden Soerjo, Perhutani, TNI/Polri, Manggala Agni dan relawan.
Berikut Detail yang dirangkum dalam laman BNPB:
1. Gunung Semeru
Karhutla di kawasan Gunung Semeru menjadi salah satu yang paling serius.
Kebakaran pertama kali dilaporkan pada 26 Agustus 2026 dan masih memerlukan penanganan hingga awal September.
Area yang terbakar berada di sekitar Blok Ranukembang, Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, termasuk sekitar Pos 1 jalur pendakian serta wilayah barat Ranu Kumbolo di wilayah Kabupaten Malang.
BNPB memperkirakan luas area terbakar mencapai 1.888,91 hektare.
Pemadaman menghadapi medan yang sangat terjal serta angin kencang yang dapat mempercepat perambatan api.
Helikopter PK-DAP yang dikerahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga sempat mengalami kendala sistem kelistrikan dan bucket sehingga operasi water bombing belum dapat dimaksimalkan.
Sebelumnya, BPBD Jawa Timur mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing.
Dalam operasi pada 2 September, helikopter dengan kapasitas bucket 1.000 liter telah melakukan 21 kali water bombing dengan total 21.000 liter air hingga pukul 12.00 WIB.
Kalaksa BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan pemadaman udara dilakukan di kawasan bagian barat Pos 1 Pendakian, tepatnya di tebing Punggungan Desa Ranupane.
Sementara Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengingatkan warga Desa Ranupani untuk tetap waspada karena titik api ditemukan sekitar 400 meter dari Pos 1 jalur pendakian atau sekitar satu kilometer dari permukiman warga.
“Dari perkiraan petugas di lapangan, lokasi tersebut berjarak sekitar 1 kilometer dari pemukiman warga Desa Ranupani,” kata Isnugroho dalam keterangannya.
Untuk keselamatan pengunjung, aktivitas pendakian Gunung Semeru telah ditutup sejak 26 Agustus hingga batas waktu yang belum ditentukan.
2. Gunung Wilis di Nganjuk dan Kediri Terbakar
Karhutla juga terjadi di kawasan Gunung Wilis yang meliputi wilayah Kabupaten Nganjuk dan Kediri.
Kebakaran dilaporkan sejak 30 Agustus 2026. BNPB mencatat area yang terbakar sementara mencapai sekitar 16 hektare, terdiri atas lima hektare di Kabupaten Nganjuk dan 11 hektare di Kabupaten Kediri.
Kebakaran berada di sejumlah petak kawasan hutan, antara lain Petak 109 RPH Parang dan Petak 144 RPH Kanyoran.
Tim gabungan melakukan penyisiran dan pemantauan terhadap titik api yang masih bisa dijangkau.
Vegetasi yang terdampak antara lain serasah, ranting, rumput, ilalang dan tanaman lainnya.
3. Kebakaran Gunung Ungup-Ungup Merembat ke Kawasan Ijen
Kebakaran baru juga terjadi di kawasan Gunung Ungup-Ungup, Kabupaten Banyuwangi, pada 3 September 2026.
Api kemudian meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso dan BNPB memperkirakan luas area terbakar sementara sekitar 20 hektare pada 4 September.
Medan yang terjal, licin dan berbahaya menjadi salah satu kendala utama bagi petugas untuk menjangkau titik api melalui jalur darat.
Perkembangan terbaru menunjukkan api merambat hingga kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen.
Dikutip dari Antara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kemudian menutup sementara TWA Kawah Ijen demi keselamatan wisatawan dan penambang belerang.
Pasalnya, kebakaran yang semula berada di kawasan Gunung Merapi Ungup-Ungup terus meluas menuju kawasan wisata tersebut.
4. Gunung Arjuno-Welirang Terbakar dan Masih Mengeluarkan Asap
Karhutla juga terjadi di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan.
Kebakaran dilaporkan sejak 3 September 2026. Hingga 4 September, kepulan asap masih terlihat di kawasan tersebut.
Tim gabungan melakukan penyisiran dan pembasahan di kawasan Lembah Kidang.
Penanganan melalui jalur darat kemudian dilanjutkan di lokasi yang masih memungkinkan dijangkau.
Luas area yang terdampak masih dalam pendataan dan sejauh laporan BNPB tidak ada korban jiwa.
5. Gunung Butak Terbakar Meski Sempat Padam
Gunung Butak di wilayah Malang menjadi salah satu lokasi yang mengalami kebakaran berulang pada awal September.
Kebakaran pertama terjadi di Petak 100 RPH Pujon Selatan, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Perhutani sebelumnya menyatakan api berhasil dipadamkan pada 1 September.
Administratur Perhutani KPH Malang Kelik Djatmiko mengatakan petugas kemudian melakukan monitoring dan penyisiran untuk memastikan tidak ada titik panas baru.
Namun, titik api kembali ditemukan pada Jumat (4/9/2026).
Kelik mengatakan api kembali menyala sekitar pukul 10.00 WIB di lokasi yang sama.
“Api menyala kembali sejak jam 10 pagi tadi setelah sebelumnya sudah padam, titiknya sama,” kata Kelik kepada dilansir dari Antara.
Kebakaran kemudian ditangani dengan pemadaman darat dan Udara, bahkan helikopter BPBD Jawa Timur dikerahkan untuk melakukan water bombing.
Namun, operasi udara tersebut dihentikan sementara karena angin kencang.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan operasi water bombing berlangsung sekitar pukul 08.00 hingga 13.30 WIB dan dilakukan sebanyak delapan kali.
Sekali penerbangan, helikopter mampu membawa sekitar 1.000 liter air.
Selain pemadaman udara, sekitar 30 personel gabungan dari BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kota Batu, TNI, Polri, Perhutani, Masyarakat Peduli Api dan relawan juga melakukan penanganan dari darat.
6. Bukit Sariwani Probolinggo Ikut Terbakar
Kebakaran juga dilaporkan di Bukit Sariwani, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat (4/9/2026).
Kepulan asap masih terlihat dari lereng bukit. Kondisi medan yang terjal menyulitkan petugas melakukan pemadaman dari jalur darat.
BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Probolinggo melakukan asesmen, koordinasi dan pemantauan.
Jika titik api dapat dijangkau, pemadaman akan dilakukan secara manual.
BNPB menyatakan tidak ada korban jiwa dan luas area yang terbakar masih dalam pendataan.
Polisi Siapkan Penegakan Hukum
Meluasnya karhutla membuat aparat kepolisian Jawa Timur juga meningkatkan langkah pencegahan.
Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan pencegahan dilakukan melalui edukasi, patroli dan kolaborasi.
Namun, apabila ditemukan pembakaran hutan atau lahan yang memenuhi unsur pidana, polisi akan melakukan penegakan hukum.
“Pencegahan kami kedepankan melalui edukasi, patroli dan kolaborasi. Namun apabila ditemukan pembakaran hutan atau lahan yang memenuhi unsur tindak pidana, Polri akan melakukan penegakan hukum secara profesional, tegas dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” kata Jules.
Polda Jatim juga meningkatkan pemetaan wilayah rawan, patroli terpadu, kesiapan personel dan sarana prasarana serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
Pemerintah Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca
Upaya penanganan karhutla di Jawa Timur juga diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kementerian Kehutanan bersama BMKG menggelar OMC untuk membantu pengendalian karhutla.
Untuk Jawa Timur, operasi dijadwalkan berlangsung 3–9 September 2026 menggunakan pesawat CASA A2104.
Sasarannya antara lain kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Arjuno dan wilayah lain di Jawa Timur.
Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan Dwi Januanto Nugroho mengatakan pengendalian karhutla tidak hanya ditujukan untuk melindungi ekosistem hutan, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan bergantung pada lingkungan sekitarnya.
Enam Kawasan Jadi Perhatian
Dengan perkembangan hingga 5 September 2026, karhutla di Jawa Timur menunjukkan pola yang cukup luas.
Kawasan yang mendapat perhatian antara lain:
– Gunung Semeru – Lumajang/Malang
– Gunung Wilis – Nganjuk/Kediri
– Gunung Ungup-Ungup – Banyuwangi/Bondowoso
– Gunung Arjuno-Welirang – Pasuruan
– Gunung Butak – Malang/Batu
– Bukit Sariwani – Probolinggo
Kondisi setiap lokasi berbeda. Semeru tercatat memiliki area terbakar paling luas, sedangkan kebakaran Ungup-Ungup telah merambat menuju kawasan wisata Ijen.
Gunung Butak juga menunjukkan bahwa api dapat kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan padam.
BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan pegunungan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuka lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila melihat titik api atau kepulan asap kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Wisatawan diminta mematuhi seluruh penutupan kawasan yang diberlakukan pengelola.
Hingga Sabtu (6/9/2026) pagi, perkembangan karhutla masih dinamis.
Data luas area terbakar dan lokasi titik api dapat berubah seiring proses pemadaman, asesmen lapangan dan pemantauan petugas.
