Jakarta (iddaily.net) – BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di IKN dan Kaltim, Antisipasi Kekeringan dan Karhutla
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI Angkatan Udara, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Operasi tersebut dilakukan untuk membantu mengatasi defisit air di Waduk Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku bagi kawasan IKN, sekaligus mengantisipasi meningkatnya titik panas dan risiko karhutla di Kalimantan Timur.
Waduk Sepaku Mengalami Penurunan Cadangan Air
BMKG menyebut cadangan air di Waduk Sepaku terus mengalami penurunan sejak Juli 2026.
Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Untuk membantu menambah ketersediaan air, OMC di kawasan IKN dilaksanakan pada 22–27 Agustus 2026.
Dalam operasi ini, penyemaian awan dilakukan ketika terdapat potensi awan yang dapat dioptimalkan untuk menghasilkan hujan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa OMC bukan berarti menciptakan awan atau hujan dari kondisi yang tidak ada.
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya.
Jika kondisi awan mendukung, penyemaian dilakukan untuk mempercepat proses turunnya hujan sekaligus memperluas wilayah yang mendapatkan hujan.
Selain mengatasi kekurangan air, OMC juga dilakukan untuk membantu penanganan karhutla.
BMKG mencatat jumlah titik panas di Kalimantan Timur pada 1–23 Agustus 2026 mencapai 13.273 titik.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 35,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika Indonesia juga menghadapi puncak musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino.
Kondisi ini membuat ancaman karhutla di Kaltim perlu mendapat perhatian, terutama ketika kondisi lahan semakin kering.
Kutai Barat dan Paser Mengalami Hari Tanpa Hujan
Kondisi kekeringan juga terlihat dari periode Hari Tanpa Hujan (HTH).
Data BMKG per 20 Agustus 2026 menunjukkan sejumlah wilayah Kaltim mengalami HTH dengan kategori sangat pendek hingga panjang.
Durasi HTH terpanjang tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser, masing-masing mencapai 28 hari berturut-turut.
Kondisi tanpa hujan dalam waktu panjang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan membuat vegetasi maupun lahan lebih mudah terbakar.
OMC untuk Karhutla di Berau
Selain wilayah IKN, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di Kabupaten Berau.
OMC untuk penanganan titik panas di Berau berlangsung pada 24–28 Agustus 2026 atas permintaan pemerintah daerah melalui BNPB dan BMKG.
Pelaksanaan OMC tidak hanya mempertimbangkan jumlah titik panas, tetapi juga melihat potensi pertumbuhan awan di wilayah sasaran.
BMKG memantau potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Timur pada 23–31 Agustus berada pada kategori sedang hingga tinggi, terutama di wilayah bagian utara.
Namun potensi pertumbuhan awan diprakirakan menurun pada 28–31 Agustus, sehingga sebagian besar wilayah Kaltim berpotensi mengalami kondisi cuaca yang lebih kering.
BMKG juga memperkirakan potensi hujan di Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara pada 24–26 Agustus.
Setelah itu, intensitas dan sebaran hujan diprakirakan menurun pada periode 27 Agustus–1 September.
Asap Karhutla Bisa Menyebar ke Wilayah Lain
BMKG juga memantau pergerakan asap akibat karhutla di Kalimantan Timur.
Menurut BMKG, asap umumnya bergerak ke arah barat laut hingga timur laut, bahkan berpotensi melewati batas administratif menuju Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi dapat meluas mengikuti arah angin.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah tambahan untuk menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Agustus 2026.
BMKG juga terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan untuk menentukan wilayah yang memungkinkan dilakukan operasi modifikasi cuaca.
Upaya tersebut menjadi bagian dari mitigasi menghadapi musim kemarau 2026 yang berlangsung bersamaan dengan pengaruh El Nino.
