Jakarta (iddaily.net) – BMKG memberikan pendampingan teknis kepada pemerintah daerah di Flores pascagempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Pendampingan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi jangka panjang dan rekonstruksi wilayah yang terdampak gempa.
BMKG menilai pemetaan kondisi tanah penting untuk mendukung pembangunan kembali permukiman dan fasilitas publik yang lebih tahan gempa.
BMKG Siapkan Peta Mikrozonasi
BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei mikroseismik dan makroseismik.
Survei tersebut bertujuan mengetahui respons lokal tanah terhadap guncangan gempa.
Hasilnya akan digunakan untuk menyusun peta mikrozonasi yang dapat menjadi dasar rekomendasi tata ruang serta desain bangunan tahan gempa.
Peta dan rekomendasi tersebut nantinya diserahkan kepada pemerintah daerah, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Gempa Susulan Masih Dipantau
BMKG menyebut tren gempa susulan menunjukkan adanya pergeseran klaster sumber gempa ke arah barat.
Meski magnitudo gempa susulan relatif lebih kecil dibandingkan gempa utama M 7,7, masyarakat tetap diminta waspada karena gempa susulan berada pada kedalaman dangkal, sekitar 10 KM sehingga tetap dapat berdampak terhadap keamanan bangunan.
BMKG juga terus memperbarui informasi gempa susulan secara berkala pada pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB untuk disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat.
BMKG Pantau Potensi Gempa Lebih Lanjut
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan BMKG akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa di Flores.
“BMKG berupaya tidak sekadar memberikan peringatan dini, tetapi juga pendampingan untuk mitigasi sehingga pembangunan kembali fasilitas publik dan permukiman warga dapat menyesuaikan dengan peta kerentanan tanah serta dinamika seismik di wilayah Flores,” ujar Faisal di Kantor Bupati Manggarai, dilansir dari BMKG.
Dia menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan akan terjadi gempa yang lebih besar hanya karena rangkaian gempa susulan masih berlangsung.
Pemantauan tetap dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Faisal menjelaskan bahwa tren gempa susulan menunjukkan pergeseran klaster sumber gempa ke arah barat.
Meski magnitudo gempa susulan relatih lebih kecil dibanding gempa utama M 7,7, warga tetap perlu waspada karena kedalaman yang dangkal pada kisaran 10 km dapat berdampak terhadap keamanan bangunan.
Kendati demikian, pelepasan energi secara berkala melalui rangkaian gempa ini merupakan mekanisme alamiah yang relatif lebih aman untuk mencegah penumpukan energi seismik besar secara mendadak.
Faisal menjamin transparansi data dengan terus memperbarui informasi gempa susulan setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB, yang disebarluaskan kepada seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat di tingkat pusat hingga daerah.
“Terkait ketakutan akan ada gempa yang lebih besar atau tsunami lagi dalam beberapa hari ke depan, secara teoretis gempa besar tidak dapat terjadi di sumber yang sama dalam waktu berdekatan. BMKG juga akan terus memantau perkembangannya,” tandas Faisal.
Sementara itu, Bupati Manggarai Herybertus Geradus Laju Nabit menyambut positif pendampingan teknis dari BMKG, khususnya untuk mengevaluasi ketahanan fisik bangunan bertingkat dan mengkaji ulang kelayakan struktur di kawasan rawan guncangan, seperti wilayah Kecamatan Reok.
“Kami merasa perlunya penyesuaian regulasi standar bangunan, mengingat kerentanan yang ada, akan berisiko bagi bangunan yang memiliki lebih dari dua lantai,” tandas Hery.
Pada kesempatan ini, Faisal beserta jajaran melakukan inspeksi aloptama dan seluruh bangunan UPT BMKG di wilayah Flores.
Peninjauan langsung pada lokasi terdampak bertujuan memastikan keandalan sistem peringatan dini sekaligus mengevaluasi tingkat kerentanan infrastruktur daerah.
Sistem Peringatan Dini Diperkuat
Selain melakukan pemetaan, BMKG juga memfasilitasi Warning Receiver System (WRS) New Generation berbasis web di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai.
Sistem tersebut ditujukan untuk mempercepat penyebaran informasi peringatan dini. Ke depan, WRS akan diintegrasikan dengan informasi prakiraan cuaca dan iklim yang dibutuhkan pemerintah daerah.
Bangunan di Kawasan Rawan Jadi Perhatian
Pemerintah Kabupaten Manggarai menyambut pendampingan BMKG, terutama untuk mengevaluasi ketahanan bangunan bertingkat di kawasan rawan guncangan.
Evaluasi tersebut diperlukan karena sejumlah wilayah memiliki kerentanan terhadap guncangan gempa.
Penyesuaian standar bangunan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko korban dan kerusakan ketika gempa terjadi.
Mitigasi Tidak Berhenti Setelah Gempa
Pendampingan BMKG di Flores menunjukkan bahwa mitigasi gempa tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi.
Pemetaan kondisi tanah, evaluasi bangunan, penguatan sistem peringatan dini, serta penyusunan tata ruang yang mempertimbangkan risiko gempa menjadi bagian penting dari proses pemulihan jangka panjang.
Dengan langkah tersebut, pembangunan kembali di wilayah terdampak diharapkan dapat lebih memperhatikan kondisi geologi dan tingkat kerentanan terhadap gempa.
