Jakarta (iddaily.net) – Gempa NTT berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah warga. Sektor pendidikan juga terdampak cukup parah.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat 1.377 sekolah mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 502 sekolah mengalami kerusakan berat.
Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat pada Kamis, 20 Agustus 2026 dalam konferensi pers daring.
“Dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di tujuh kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” kata Wakil Menteri (Wamen) Kemendikdasmen, Atip Latipulhayat, dilansir dari MetroTV.
Kerusakan sekolah membuat proses pembelajaran di sejumlah wilayah terdampak harus menyesuaikan kondisi darurat.
Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat bencana untuk membantu sekolah tetap menjalankan kegiatan pendidikan.
Pendataan kerusakan masih menjadi bagian dari proses penanganan pascagempa karena kondisi di lapangan terus diperbarui oleh pemerintah dan pemerintah daerah.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Dampak terhadap sektor pendidikan terjadi ketika aktivitas kegempaan di NTT masih berlangsung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 3.394 gempa susulan hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB.
Dari jumlah tersebut, 26 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5, sedangkan 99 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2.
Pemerintah terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap fasilitas yang terdampak, termasuk sekolah, agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara bertahap sesuai kondisi di masing-masing wilayah.
