Jakarta (iddaily.net) – Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi.
Gunung api tersebut hingga Kamis, 20 Agustus 2026, masih berstatus Level III atau Siaga.
Berdasarkan laporan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), aktivitas Merapi masih ditandai dengan kegempaan dan guguran lava pijar.
Dalam periode pengamatan, tercatat 94 kali gempa guguran dan 63 kali gempa hybrid atau fase banyak.
Aktivitas tersebut menunjukkan masih berlangsungnya pergerakan material dan suplai magma di tubuh Gunung Merapi.
Selain kegempaan, BPPTKG juga mencatat guguran lava pijar yang meluncur ke arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak.
Jarak luncur maksimum guguran lava pijar mencapai sekitar 2 kilometer dari puncak Merapi.
Secara visual, asap kawah berwarna putih tipis juga teramati membumbung hingga sekitar 300 meter dari puncak.
Kondisi cuaca di sekitar Merapi berubah antara cerah dan mendung, dengan suhu sekitar 16,4 hingga 23,9 derajat Celsius.
Potensi Bahaya Merapi
Dengan status masih Level III Siaga, masyarakat diminta tetap memperhatikan potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya berada di sekitar Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar hujan, terutama ketika hujan deras terjadi di kawasan puncak dan hulu sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
BPPTKG mengimbau masyarakat di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk tidak melakukan aktivitas di zona bahaya serta terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
Informasi aktivitas Merapi juga terus dipantau melalui kanal resmi BPPTKG dan Badan Geologi Kementerian ESDM.
