Jakarta (iddaily.net) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan penguatan dan perluasan OMC dilakukan sebagai langkah proaktif untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi secara terpadu.
BMKG juga mendorong respons cepat dan terintegrasi dari berbagai pihak untuk menghadapi potensi peningkatan karhutla dan kekeringan.
“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal dalam keterangan di laman BMKG.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan penyemaian awan melalui OMC kini diintensifkan.
Saat ini, OMC berlangsung di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
BMKG juga menyiapkan Posko OMC Pekanbaru untuk mendukung penanganan karhutla di Riau serta Posko OMC Bandung untuk mengantisipasi kekeringan di Jawa Barat.
Menurut Seto, OMC dilakukan untuk memicu pembentukan hujan di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem.
Namun, operasi tersebut tetap bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan awan yang dapat disemai.
“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi,” ujar Seto.
Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama.
BMKG juga terus berkoordinasi dengan BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup dalam upaya penanganan karhutla.
Sepanjang 2026, BMKG telah menggelar 17 kali OMC khusus untuk mitigasi karhutla di sejumlah wilayah rawan, antara lain Aceh, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Selain untuk mengantisipasi karhutla, BMKG merancang OMC untuk membantu mengisi waduk dan danau sebagai langkah menghadapi dampak El Nino.
Tiga operasi pengisian waduk sebelumnya telah dilakukan di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.
Ke depan, BMKG menargetkan OMC di empat lokasi strategis, yakni Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.
BMKG menegaskan mitigasi kekeringan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kebencanaan.
Berbagai sektor, termasuk pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, dan kehutanan, perlu menyiapkan langkah antisipasi sesuai dampak yang dihadapi.
Pada sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal awal musim tanam serta pemilihan varietas tanaman yang tahan kondisi kering.
Sementara pengelola sumber daya air dan energi perlu menghitung ketersediaan air baku, menentukan volume air bendungan, serta mengantisipasi pengaruh kondisi tersebut terhadap produksi listrik tenaga air.
Di sektor kesehatan, BMKG mengingatkan minimnya curah hujan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria serta ancaman heat stroke akibat cuaca panas ekstrem.
BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi prediksi iklim untuk mendukung langkah adaptasi dan mitigasi di berbagai sektor terdampak.
