Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai mereda.
Meski titik api utama telah padam, masyarakat di sekitar wilayah terdampak tetap diminta mewaspadai bahaya asap terhadap kesehatan.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Nova Maryani MMR SpAn, mengatakan paparan asap kebakaran bisa mengganggu kesehatan, termasuk pada orang yang sebelumnya dalam kondisi sehat.
Menurut Nova, tingkat gangguan kesehatan bergantung pada intensitas dan durasi paparan.
“Paparan asap selama beberapa hari dapat memicu iritasi hingga gangguan saluran pernapasan. Jika berlangsung lebih lama, dampaknya dapat semakin luas,” katanya dalam laman UMY.
Asap kebakaran, jelas dia, mengandung partikulat berukuran sangat kecil serta berbagai gas hasil pembakaran.
Salah satunya karbon monoksida (CO), yang dapat mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Sementara penanganan karhutla Bromo telah memasuki hari ke-12 pada Jumat (14/8/2026) yang diperkirakan mencapai 1.120 hektare luas terdampak.
Meski titik api utama atau firespot tidak lagi ditemukan, tim gabungan masih melakukan pendinginan terhadap delapan titik panas (hotspot) yang tersisa.
Nova mengingatkan masyarakat tidak hanya mengandalkan masker untuk melindungi diri dari paparan asap.
Ketika asap pekat, warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menutup jendela dan ventilasi rumah.
Jika tersedia, masyarakat juga dapat menggunakan penyaring udara dengan filter HEPA.
Langkah ini diperlukan karena sebagian partikel asap berukuran sangat kecil sehingga masih berpotensi terhirup ke dalam paru-paru meski seseorang telah menggunakan masker.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri bila mengalami gejala berat, seperti sesak napas yang semakin parah, batuk berdarah, kesulitan beraktivitas, atau perubahan warna bibir menjadi kebiruan.
Nova juga menilai pemerintah dan pihak berwenang perlu memperkuat sistem peringatan dini ketika kualitas udara mulai memburuk.
“Pemantauan kualitas udara dan kondisi kesehatan warga perlu dilakukan selama paparan asap masih berlangsung,” tambahnya.
Dengan titik api utama yang telah padam, perhatian kini tidak hanya tertuju pada pencegahan munculnya kembali api, tetapi juga pada dampak jangka pendek paparan asap terhadap kesehatan masyarakat serta pemulihan lingkungan di kawasan Bromo.
