Jakarta (iddaily.net) – Fenomena naiknya air laut menggenangi daratan atau biasa disebut banjir rob seringkali merugikan masyarakat.
Di Surabaya, banjir rob kerap terjadi di kawasan Kalianak bagian Surabaya Barat dan Timur.
“Banjir rob yang terjadi di Kalianak merupakan fenomena alamiah siklus pasang surut air laut. Pasang surut ini dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari yang bisa terjadi kapan saja selama 24 jam. Kalianak yang bertempat di muara yang merupakan zona merah juga mengaminkan hal ini,” ujar Dosen pengajar Program Studi Magister Manajemen Bencana, Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra S T M Sc dilansir dari laman News Unair.
Namun yang perlu diingat, tegas dia, yakni penyebab lebih besar yang lebih mengkhawatirkan.
Land subsidence atau penurunan muka tanah di Surabaya khususnya di bagian timur dan utara juga menjadi pemicu akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan.
Penurunan muka tanah ini juga diperburuk dengan perubahan tata guna lahan atau land use dari hulu serta sepanjang pesisir Kalianak yang bisa mengurangi kekuatan daerah resapan.
Selain itu adanya pemanasan global menjadi titik perhatian, yang mana menimbulkan kenaikan muka air laut yang cukup signifikan dengan rata-rata sekitar 0,3 – 0,6 cm yang terakumulasi setiap tahunnya.
Fenomena banjir rob umumnya lazim terjadi, tetapi jika diikuti dengan frekuensi, kuantitas berlebih serta durasi yang makin panjang patut menjadi sorotan.
“Sekarang banjir rob dapat terjadi lima hingga enam kali dengan ketinggian 30-40 cm yang berperan sebagai ancaman yang cukup serius,” tambahnya.
Selain itu, sistem drainase atau saluran jalur pembuangan air hujan, darat, serta masuknya air laut ketika terjadi pasang yang mengalami pendangkalan.
“Hal ini terjadi karena sedimentasi secara alami dengan mengendapnya material padat seperti pasir, lumpur, dan tanah yang terbawa oleh air. Kapasitas dari drainase yang menyebabkan penampang saluran semakin sempit,” tegasnya.
Sampah yang terkumpul secara sembarangan di laut juga berperan mempercepat proses sedimentasi yang ada pada penampang saluran.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan mitigasi yaitu mitigasi struktural yang bersifat fisik dan non-struktural yang berbentuk kebijakan serta regulasi.
Kemudian, perbaikan tanggul atau pintu air dengan sistem flat gate yang secara otomatis tertutup saat terjadi pasang air laut serta pembangunan polder atau kolam retensi di daerah rendah seperti Kalianak untuk menampung limpasan.
Selanjutnya pada mitigasi non-struktural, pemerintah dapat berupaya membuat sistem peringatan dini atau early warning system berupa sirine atau notifikasi darurat yang dapat memprediksi pasang surut dan cuaca ekstrem.
Solusi banjir rob di Kalianak pada dasarnya harus terintegrasi dengan baik di tengah kawasan yang padat penduduk serta aktivitas ekonomi yang cukup tinggi.
“Pertama dengan memperkuat sistem pompa dan pintu air yang beroperasi secara adaptif dengan jadwal pasang. Hal ini terwujudkan dengan memanfaatkan teknologi IoT yang dipasang sensor yang dapat memberikan informasi. Jadi saat air laut mulai naik, pintu air akan ditutup secara otomatis, lalu pompa akan dihidupkan untuk menguras genangan air ke laut,” jelasnya.
