Jakarta (iddaily.net) – Tim peneliti UGM, BRIN dan IDI setempat memanfaatkan sumber daya pangan lokal yang melimpah di wilayahnya yakni tempe dan pisang sebagai peningkatan asupan gizi, khususnya bagi kelompok yang paling rentan, ibu hamil dan balita.
Tempe merupakan sumber protein nabati berkualitas tinggi yang kaya protein, zat besi, kalsium, seng, folat, vitamin B, serta senyawa bioaktif seperti isoflavon dan peptida bioaktif hasil fermentasi yang memiliki aktivitas antioksidan dan mendukung pertumbuhan.
Sementara pisang Utri menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi, serat pangan, kalium, vitamin B6, vitamin C, serta senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan.
Dilansir dari laman UGM, upaya pencegahan stunting yang tidak hanya berfokus pada anak tetapi juga pada kesehatan dan status gizi ibu.
“Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan tumbuh kembang anak, sehingga dukungan terhadap kesehatan dan kecukupan gizi ibu hamil menjadi salah satu investasi terbaik untuk mencegah stunting di masa depan,” jelas Digna Niken Purwaningrum, S.Gz MPH PhD, Ketua Program Pengabdian FK-KMK UGM.
Digna menuturkan, pihaknya melakukan serangkaian penelitian dan analisis kandungan gizi yang dilakukan oleh Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, kedua bahan tersebut diformulasikan menjadi produk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sesuai dengan kebutuhan gizi ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.
“Kombinasi zat gizi makro, mikronutrien, dan senyawa bioaktif dari tempe dan pisang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu menyusui dan anak sebagai upaya pencegahan stunting melalui pola makan bergizi seimbang,” paparnya.
Digna mengatakan salah satu inovasi utama yang dikembangkan adalah pendekatan peer trainer.
Model pembelajaran berbasis komunitas yang melibatkan kader dan ibu binaan tahun pertama sebagai pelatih bagi kader baru di wilayah perluasan.

Pendekatan ini dinilai efektif karena pengetahuan disampaikan oleh sesama anggota komunitas yang memahami konteks lokal dan tantangan sehari-hari masyarakat.
“Selain mempercepat transfer pengetahuan, pendekatan peer trainer juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap program sehingga mereka dapat menjalankan program secara mandiri,” tuturnya.
Bagi Digna, sebuah program akan lebih bermakna bila dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di masyarakat dan dilakukan melalui kolaborasi yang kuat.
Oleh karena itu, tim FK-KMK siap untuk terus bekerja sama dalam berbagai upaya peningkatan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, maupun kelompok rentan lainnya melalui inovasi-inovasi berbasis masyarakat.
Digna berharap kegiatan ini menjadi salah satu contoh bahwa pangan lokal yang tersedia di masyarakat memiliki potensi besar untuk mendukung upaya pencegahan stunting.
Melalui pengolahan yang tepat, bahan pangan lokal dapat menjadi makanan yang lezat, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, termasuk bagi mereka yang sering mengalami penurunan nafsu makan selama kehamilan.
Ia juga berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan sebagai menu PMT, direplikasi oleh kader di wilayah lain, bahkan membuka peluang untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
