Jakarta (iddaily.net) –Komando Operasi (Koops) TNI Habema menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya warga sipil bernama Melkiana Dwitau dalam insiden gangguan tembakan di sekitar TK J2, Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (2/7/2026).
Dalam keterangannya, Koops TNI Habema menegaskan bahwa setiap jatuhnya korban sipil merupakan duka yang tidak diharapkan.
Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas personel TNI di wilayah Papua.
Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, serta pemetaan lokasi, Koops TNI Habema menyebut rangkaian gangguan tembakan diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata yang dipimpin Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit.
Menurut kronologi yang disampaikan, tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga.
Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa.
Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.
Koops TNI Habema menyatakan bahwa selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan.
Saat itu kondisi cuaca dilaporkan hujan disertai kabut tebal yang membatasi jarak pandang sehingga personel memilih bertahan di posisi perlindungan (stelling) sambil memantau perkembangan situasi.
Keputusan tersebut, menurut Koops TNI Habema, diambil sebagai langkah untuk menghindari risiko terhadap masyarakat sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Hasil analisis spasial yang dilakukan menunjukkan ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter.
Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
Koops TNI Habema menyebut temuan tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis yang masih terus dilakukan bersama bukti-bukti lapangan lainnya guna mengungkap secara objektif kronologi insiden.
Menurut Koops TNI Habema, peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas kelompok bersenjata di sekitar kawasan permukiman tidak hanya mengancam aparat keamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Oleh karena itu, setiap tindakan personel TNI ditegaskan selalu dilakukan secara selektif, terukur, profesional, serta mengutamakan keselamatan masyarakat.
Koops TNI Habema juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta memberikan kepercayaan kepada proses penyelidikan yang dilakukan berdasarkan fakta lapangan dan bukti teknis.
Institusi tersebut menegaskan komitmennya terhadap transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan masyarakat dalam penanganan peristiwa tersebut.
Di akhir pernyataannya, Koops TNI Habema berharap situasi keamanan di Papua semakin kondusif sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang, anak-anak dapat belajar dengan aman, pelayanan kesehatan berjalan tanpa hambatan, serta pembangunan dapat terus berlangsung demi terwujudnya Papua yang damai, aman, dan sejahtera.
BUPATI INTAN JAYA
Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan Bupati Intan Jaya menyampaikan protes dan kekecewaan atas situasi keamanan di wilayahnya beredar luas di media sosial dan menjadi perhatian publik.
Dalam video tersebut, Bupati Intan Jaya tampak menyampaikan bahwa korban dalam sejumlah insiden yang terjadi di wilayahnya merupakan warga sipil.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap aparat negara dan Pemerintah Indonesia yang, menurutnya, belum mampu membedakan antara warga sipil dan anggota kelompok bersenjata.
Bupati menyebut kondisi keamanan di Kabupaten Intan Jaya saat ini sedang tidak baik.
Ia menyampaikan keprihatinan atas rangkaian peristiwa yang, menurut keterangannya, kembali menimbulkan korban jiwa di tengah masyarakat.
Dalam pernyataannya, Bupati menyinggung insiden yang disebut terjadi pada 30 Juni 2026, di mana seorang hamba Tuhan bernama Elianus Agimbau dilaporkan meninggal dunia akibat penembakan di kawasan pangkalan ojek Mbamogo.
Ia juga menyebut pada hari yang sama seorang warga sipil bernama Okto Tigau diduga menjadi korban penembakan di Kampung Mamba.
Menurut pernyataan tersebut, jenazah korban baru ditemukan keesokan harinya.
Video yang beredar di media sosial itu disebut sebagai bentuk protes Bupati Intan Jaya terhadap situasi keamanan yang terjadi di daerahnya serta sebagai bentuk keprihatinan atas jatuhnya korban sipil.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari TNI maupun aparat berwenang terkait pernyataan yang disampaikan Bupati Intan Jaya dalam video tersebut.
Informasi mengenai kronologi dan penyebab kedua insiden tersebut masih menunggu hasil penyelidikan serta klarifikasi dari pihak terkait.
