Jakarta (iddaily.net)-Produktivitas inovasi bukan sekadar tentang berapa banyak paten yang dihasilkan, tapi kemampuan suatu bangsa untuk mentrasformasi ide kreatif menjadi nilai ekonomi dan sosial secara konsisten.
Lebih detail lagi, produktivitas inovasi menyangkut kemampuan negara membangun ekosistem pengetahuan.
Menyangkut pula kapasitas adaptasi terhadap perubahan global.
Serta, menyangkut kecepatan transformasi institusi.
Dan, menyangkut kemampuan mengubah kreatifitas menjadi daya saing nasional.
Produktivitas inovasi sekarang bersifat sistemik, dengan melibatkan negara-pasar-civil society.
Dan, melibatkan dunia kampus maupun dunia industri.
Pula, digerakkan digital dan berbasis data.
Di mana AI, maha data, otomatisasi, dan ekonomi platform menjadi penggerak utama.
Serta, berdimensi geopolitik.
Karena, inovasi akan menentukan posisi tawar negara dalam percaturan geopolitik global.
Tentu juga berbasis jaringan.
Sebab, negara tak mungkin inovatif jika mengisolasi diri.
Pastilah mengharuskan negara memiliki arah kebijakan yang berorientasi keberlanjutan.
Coz, inovasi era sekarang terkait erat dengan transisi energi, pangan, kesehatan, dan pertahanan.
Dengan demikian, produktivitas inovasi adalah mesin strategis negara untuk mempertahankan relevansi, otonomi, daya saing, dan kesejahteraan pada era kompetisi global.
Sekarang, produktivitas inovasi makin menemukan urgensinya bagi negara-bangsa manapun. Karena, negara tak bisa lagi mengandalkan tenaga kerja murah.
Inovasi adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan daya saing negara.
Dan, di tengah ketegangan geopolitik global, maka kemandirian inovasi teknologi menjadi menjadi instrumen kedaulatan nasional.
Di samping itu, perubahan iklim dan revolusi AI, menuntut inovasi tinggi untuk solusi baru yang tak bisa diselesaikan dengan cara lama.
Krusial pula terkait bonus demografi yang membutuhkan saluran produktif.
Sebab jika tanpa inovasi, maka pengangguran terdidik akan meningkat.
Akan terjadi brain-drain.
Lebih dari itu, populasi muda akan bisa menjadi beban sosial-politik. Etc.
Mengingat sedemikian krusialnya arti penting produktivitas inovasi, maka upaya memberdayakan dan memperkuatnya harus disegerakan.
Sejauh ini yang diyakini sebagai cara efektif untuk untuk memperkuat produktivitas inovasi mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan secara simultan.
Pertama, “membangun ekosistem inovasi nasional”. Negara harus menghubungkan universitas, industri, pemerintah, investor, etc. Inovasi hanya bisa berkembang jika institusi-institusi itu saling terhubung. Negara harus menjadi fasilitator stratejik untuk itu.
Kedua, “membangun budaya inovatif”. Budaya inovatif membutuhkan keterbukaan ide, apresiasi terhadap kreativitas, toleransi terhadap kegagalan, etc. Tanpa budaya inovatif, investasi teknologi sering gagal menghasilkan terobosan.
Ketiga, “mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan”. Negara harus mendorong industri kreatif, AI nasional, green economy, dan digital economy. Prinsipnya mengubah ekonomi ekstraktif menjadi ekonomi inovatif.
Keempat, “memperkuat institusi dan tata kelola”. Karena inovasi memprasyaratkan adanya kepastian, kecepatan, perlindungan, dan insentif jangka panjang.
Kelima, “investasi pada human capital”. Peningkatan kualitas pendidikan dibarengi dengan soft skill semacam berpikir kritis dan berjiwa wira usaha. Etc.
Tentu ada innovation barriers. Seperti budaya takut gagal.
Berupa birokrasi yang menghukum kegagalan eksperimen, pasti akan mematikan kreativitas.
Atau, hambatan berupa lembah kematian, yaitu celah antara hasil riset dengan komersialisasi pasar.
Terutama karena kurangnya modal awal.
Dan, hambatan dalam bentuk aturan hukum yang tertinggal dari perkekmbangan teknologi.
Sampai di sini, menjadi makin terlihat betapa produktivitas inovasi tak ditentukan oleh individu, tapi oleh kualitas ekosistem struktur nasional.
Dalam kerangka nasional itu, negara harus melakukan langkah lintas sektoral.
Harus pula diyakini, bahwa inovasi tak selalu tumbuh dari pasar.
Negara lah yang justru harus mengambil risiko strategis.
Negara juga harus menentukan arah kebijakan teknologi nasional.
Singkat cerita, inovasi bukanlah sesuatu yang kebetulan, tapi hasil kreasi struktural.
Berhal demikian, negara inovatif lahir dari desain institusi yang tepat.
Negara memiliki peran sentral.
Bukan sekadar regulator pasif, tapi orkestrator transformasi inovasi.
Dan, dalam kerangka penguatan produktivitas inovasi, maka kolaborasi menjadi lebih penting daripada individualisme.
Produktivitas inovasi muncul dari jaringan institusional yang kuat.
Pengetahuan adalah sumber kekuatan utama negara.
Ekonomi masa depan negara selalu ditentukan kapasitas produksi pengetahuan.
Ujungnya, kualitas institusi menentukan keberhasilan inovasi.
Tanpa tata kelola baik, inovasi sulit berkembang berkelanjutan.
Negara yang gagal mengembangkan produktivitas inovasi akan mengalami stagnasi ekonomi, ketergantungan struktural, dan kemunduran geopolitik.
Nah!
