07 January 2010

[Think Sport] PSSI, Lihat Mimpi Mereka,..

Jojo Raharjo

Matahari hampir tenggelam di barat Jakarta. Di tengah lalu-lalang manusia di kawasan Pasar Tanah Abang, seorang ayah mempercepat langkahnya. Kostum tim nasional Indonesia berwarna hijau, lengkap dengan syal merah putih terlilit di leher. Di dadanya tergendong anak laki-laki berusia 3,5 tahun.

Mereka melangkahi beberapa pedagang kaki lima sebelum melompat ke dalam bis Koantas Bima jurusan Tanah Abang-Lebak Bulus, yang rutenya melewati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, tempat pertandingan lanjutan kualifikasi Grup B Piala Asia, Rabu (6/1).

Erang, begitu nama bapak itu, mengaku pekerja di sebuah perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. “Sebenarnya tadi belum waktunya pulang kerja, tapi saya nekat kabur. Sudah lama saya rencanakan nonton Indonesia main lawan Oman bareng anak saya,” kata Erang. Dari rumahnya di kawasan Harmoni, mereka naik angkot ke arah Tenabang, sebelum berpindah ke Koantas Bima bertarif Rp 2.000,- per orang itu.

“Ini kali pertama Malone saya ajak nonton bola di Senayan,” kata Erang yang memang hampir tak pernah melewatkan kesempatan menyaksikan langsung tim nasional bertanding. “Kalau cuma pertandingan liga, saya tidak suka,” tambahnya.

Iya, nama anak itu, Malone, terinspirasi dari bintang NBA. Karl Anthony Malone, forward legendaris Utah Jazz dan LA Lakers. Duduknya kadang terguncang di pangkuan ayahnya, di atas bis yang membelah Petamburan, Slipi hingga Senayan, Mungkin ia terus membayangkan, seperti apa Stadion Utama yang berdiri 48 tahun lalu itu.

Sampai mereka turun di pintu seberang Taman Ria, memburu tiket pertandingan yang belum terpegang tangan. “Kalau masih ada tiket murah, mau beli yang Rp 20 ribuan saja,” teriak Erang. Hari itu, Panpel PSSI mendistribusikan 46 ribu tiket dalam tiga nominal. Kelas VIP Rp 100 ribu, Kelas Utama dan Kelas I Rp 50 ribu, serta Kelas II Rp 20 ribu.

Pemandangan lain tergelar di pintu masuk stadion dari sisi Patung Panah, Jl. Asia Afrika. Hendro, kenek Kopaja 66 Jurusan Manggarai-Blok M memboyong dua anaknya untuk mendukung tim Garuda. Yang sulung bernama Beckham Arvian Putra, 10 tahun, bersama adiknya Ari Arvian Ferguson, 6 tahun. Keduanya dilengkapi slayer merah putih bertulis “Indonesia”. Bapak dan anak itu tinggal di gang kecil kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

“Ini kesempatan pertama mereka nonton tim nasional. Sebelumnya, saya pernah mengajak anak ke Senayan mendukung Persebaya saat melawan Persija,” kata perantau asal Karangpilang, Surabaya ini.

Malone, Beckham, dan Arvi, Anak-anak itu mengecap pengalaman bersejarah mendukung tim merah putih di Senayan. Tentu, pengalaman pertama akan berkesan dalam diri mereka. Namun, apa yang terjadi? Di lapangan, Charis Yulianto dan kawan-kawan seperti diajari cara bermain bola dalam setengah lapangan oleh anak anak teluk asuhan Claude Le Roy. Pertandingan bubar dengan skor 1-2 untuk Oman.

Dan, kali pertama sejak 1996, Indonesia bakal absen di Putaran Final Piala Asia di Qatar tahun depan. Ada hiburan dalam pertandingan itu saat Hery Mulyadi, seorang penonton asal Cikarang, nekat turun ke lapangan dan merebut bola untuk menjebol gawang Ali Al Habsi, kiper Oman yang berlaga di klub Liga Inggris, Bolton Wanderers.

Bulan kian memeluk Jakarta. Para penonton pulang sebagai pihak tertakluk. Malam itu, Malone, Beckham, dan Arvi pun menutup hari bersejarahnya dengan mimpi. Mimpi sebagai negara pecundang.

*analisa olahraga lain klik di sini.

06 January 2010

Ingki, Jurnalis Penulis Nisan Gus Dur

Iman D. Nugroho

Ingki Rinaldi kebingungan. Seorang laki-laki setengah tua tiba-tiba memanggilnya, dan memintanya melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan seumur hidup. "Saya diminta untuk menuliskan nama Gus Dur di nisannya," kata jurnalis harian Kompas ini.

Ingki menghentikan sejenak ativitas menulis berita melalui Blackberrynya, Selasa [5/1/10] malam, di sela-sela tujuh hari tahlilan meninggalnya KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Tangan kirinya menutupi wajahnya. Ia sesenggukan. Seperti kebanyakan orang yang tertusuk kesedihan dengan berita kematian Gus Dur, 30 Desember 2009 lalu, Ingki pun demikian. Laki-laki kelahiran 15 Februari 1981 dan bertugas sebagai jurnalis Kompas di wilayah Jombang itu pun tak bisa memungkiri kesedihan yang teramat dalam atas peristiwa itu. "Banyak hal yang saya pikirkan ketika itu," kenang bapak satu anak ini.

Apalagi, Ingki mengalami kejadian tidak terduga terjadi 31 Desember 2009. Beberapa jam sebelum Gus Dur dimakamkan. "Seorang laki-laki tua memanggil saya di tempat itu," kata Ingki sambil menunjuk sebuah bangunan yang terletak di bagian utara ponpes Tebuireng. Laki-laki yang hingga saat ini tidak diketahui identitasnya itu meminta Ingki menuliskan nama KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di nisan yang akan dipasang di makam.

"Dengan sopan saya sempat menolak, tapi dia tetap ingin saya melakukannya," kenang Ingki. Ingki sama sekali tidak membayangkan. Dirinya harus menuliskan nama tokoh besar seperti Gus Dur di nisannya. Ada kekhawatiran, kegelisahan dan perasaan tidak nyaman untuk melakukan hal itu. Namun, permintaan itu seperti tidak bisa ditolak. "Tolonglah, mas," kata Ingki menirukan permohonan penulisan nisan itu. Dengan perasaan berkecamuk, Ingki pun melakukannya. Satu persatu, nama Gus Dur pun di tolehkan di atas nisan.

"Mungkin karena grogi atau apa, saya sempat salah saat menuliskannya," kenang penggemar lagu Benyamin S. ini. Nama ABDURRAHMAN pun terlalu panjang untuk nisan beton itu. Tidak ada lagi tempat untuk kata WAHID. "Mungkin kata WAHID-nya harus ditulis dengan huruf 1 [Wahid artinya 1 dalam bahasa Arab], tenang saja mas," kata laki-laki itu menenangkan. Beruntung, masih ada nisan kosong lain sebagai ganti. "Untuk nisan kedua ini, saya salah lagi, tulisannya miring," kenangnya. Mau tidak mau, nisan itu harus diganti. Di nisan ketiga inilah, tulisan itu dianggap paling pas.

Entah mengapa, kesalahan menulis nama Gus Dur di nisan itu membuat Ingki semakin galau. Ada kekhawatiran, hal itu merupakan firasat yang buruk. "Ketika bertemu dengan Gus Sholah [KH.Sholahuddin Wahid, adik Gus Dur], saya sempat menanyakan hal itu," kata Ingki. Gus Sholah meminta Ingki untuk tidak berpikir macam-macam. "Insya Allah, itu artinya baik," kata Gus Sholah seperti ditirukan Ingki.

"Sampai saat ini, nisan itu yang dipakai di pemakaman Gus Dur," katanya.

Tujuh Hari Gus Dur Milik Rakyat

Iman D. Nugroho

Puluhan ribu orang hadir di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Selasa [5/1] malam ini untuk menghadiri Tahlilan, doa bersama tujuh hari meninggalnya KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Hadir juga dalam acara ini, Sholahuddin Wahid, Yenny Wahid dan suaminya, budayawan Emha Ainun Nadjib dan jajaran pengurus Tebu Ireng. Di jalanan, masyarakat mengenang Gus Dur dengan berbagai cara.





















04 January 2010

[ Atmosphere] Harus Dikupas

Syarief Wadja Bae

Jiwa mana yang rela melihat cintanya terkoyak, sedang talangan sungai belum selesai dihitung.

Diantara kepingan perih yang mampir pada lembaran malam-malam kita, ada yang harus diusap segera. bercak becek yang menempel dicermin kita.

Jangan terlalu lama tenggelam dalam isak kehilangan. jangan sampai mimpi kita digulung waktu. Kalbu yang dibungkus mendung akan dihapus cahaya bulan, karena lelaki itu telah mengumandangkan Alif dikuping hati matahari.

Karena kenyataan harus dikabarkan maka harus kita kupas semua isyarat yang tersirat, agar padang hijau kita semakin sedikit durinya. Ikhlaskan kepergiannya karena kuncinya ada ditelapak kaki Ibu.

awal Januari 2010

puisi lain, klik di sini
graphic by images.free-extras.com

Dibunuh atau Tidak, Jelaskan Hal Kematian Gus Dur!

Iman D. Nugroho

Masih tentang kematian mantan Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kali ini tentang isu yang sempat beredar dari sebuah SMS yang mengatakan bahwa ada kematian Gus Dur adalah buah dari pembunuhan. Tidak tanggung-tanggung, pihak yang dituduh melakukan pembunuhan itu adalah lingkaran SBY. Bantahan pun mengalir. Termasuk pihak keluarga Gus Dur. Case closed? Tunggu dulu..

Sebelum SMS pembunuhan itu menghebohkan, penjelasan Shinta Nuriyah, istri Gus Dur, tentang matinya CCTV saat SBY menjenguk Gus Dur di RSCM, menjelang kematian Gus Dur, sedikit merisaukan. Apalagi, alasan tentang kematian CCTV yang menghubungkan ruang Gus Dur diperiksa dan ruang tunggu keluarga Gus Dur itu tergolong aneh. "Butuh daya listrik yang lebih besar, sehingga harus dimatikan," kata Shinta Nuriyah yang kemudian menyurus Fariz Dhohir, Istri Yenny Wahid, untuk masuk ke ruangan itu.

Singkat cerita, Fariz pun menangis. "Saat itu dokter mengabarkan tentang meninggalnya Gus Dur," kata Shinta seperti dimuat di Metro TV. Saya bukan orang yang paham tentang kelistrikan. Tapi, silahkan cacimaki saya kalau mengatakan CCTV tidak akan membuat listrik di RSCM terganggu. Lalu mengapa harus dimatikan? Dan Shinta pun merasa keanehan ini perlu diclearkan dengan menyuruh Fariz untuk ke ruangan tempat Gus Dur dirawat. Ujungnya pun bisa diketahui, Gus Dur dinyatakan meninggal dunia 30 Desember 2009 pukul 18.45 wib.

Perihal kematian CCTV itu pun tertutup oleh shock nasional atas kematian Gus Dur. Semua televisi memberitakan tidak henti-hentinya. Mulai dari RSCM, Ciganjur hingga pemakaman Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Media massa cetak memberikan porsi luar biasa. Harian Kompas, memuat hal kematian ini di enam halaman.

***

Kematian memang sesuatu yang sudah digariskan. Tapi bagaimana kematian itu datang, menjadi hal penting yang perlu dijelaskan ke pihak-pihak yang berhak mendapatkannya. Dalam skala kecil adalah keluar, dan dalam skala besar adalah publik. Ketika Munir meninggal dunia di pesawat terbang ke Belanda, publik merasa gelisah dengan orange juice yang diminum Munir dalam penerbangan itu. Kecurigaan muncul menyangkut adanya "sesuatu" di dalam orange juice itu. Lalu bagaimana dengan Gus Dur?

Pertanyaan tentang matinya CCTV, dan membuat proses kematian Gus Dur yang seharusnya bisa diketahui oleh keluarga, menjadi titik pijak pertanyaan ini. Hak keluarga untuk mengetahui dengan lengkap perihal kematian Gus Dur, dihilangkan oleh matinya CCTV. Apakah ini tidak cukup untuk menjadi alasan perlunya polisi menyidik hal ini? Kalau dalam kasus kematian Munir saja muncul kegelisahan, mengapa dalam kasus kematian Gus Dur, tidak boleh ada kegelisahan?

Dalam buku Investigasi Pelanggaran HAM, Panduan untuk Investigasi Hukuman Mati di Luar Proses Hukum, Sewenang-wenang dan Seketika yang diterbitkan oleh Elsam, memuat beberapa hal penting yang harus dilakukan bila ditemukan adaya proses kematian yang tidak wajar. Tidak wajar dalam kematian Gus Dur didasari oleh matinya CCTV, yang pada ujungnya membuat hak keluarga untuk mengetahu kematian itu secara untuk, menjadi tercederai.

Pemotretan adalah hal pertama yang harus dilakukan. Dalam pemotretan itu dicatat pula posisi, keadaan, suhu mayat, kepucatan dan kekakuan. Setelah itu, tangan mayat harus dilindungi dengan mengunakan kantung kertas atau plastik. Pencatatan temperatur di sekitar mayat, dengan pengujian darah akan sangat bermanfaat untuk mengindentifikasi sesuatu yang mencurigakan.

"Catat identitas semua orang yang berada di tempat kejadian, dapatkan informasi dari saksi-saksi, termasuk siapa yang melihat jenazah terakhir saat hidup terakhir kali, dan wawancarai petugas medis yang mungkin telah menyentuh mayat," tulis buku itu. Apabila jenazah itu sudah dirawat di RS (seperti dalam kasus kmatian Gus Dur), maka contoh darah, foto sinar X, dan catatan RS harus didapakan.

Apakah semua hal itu sudah dilakukan dalam kematian Gus Dur?

*Beda santri dan tentara, klik di sini.
*Gerimis di Ciganjur 30 Desember 2009, klik di sini.
*Sebelum aku terlelap, Gus,..

02 January 2010

Kartunis Nabi Muhammad Terus Diburu

Iman D. Nugroho | dari berbagai sumber


Kehidupan Kurt Westergaard, kartunis asal Denmark yang menggambar kartun rekaan Nabi Muhammad SAW, hidup dalam keterancaman. Awal Januari ini, rumahnya di Denmark membekuk seorang pria yang berusaha memasuki rumah Kurt tanpa izin. Sebelumnya, ada dua orang lain yang berusaha membunuh pria kelahiran 13 Juli 1935 dengan bom.

Kurt mulai banyak dikenal ketika koran Denmark Jyllands Posten menerbitkan Kartun Muhammad. Termasuk kartun milik Kurt sendiri. Dalam kartun itu digambarkan sosok orang yang merupakan gambaran Nabi Muhammad sedang mengenakan sorban dari bomb. Kontan saja, penerbitan itu melukai perasaan Umat Muslim di seluruh dunia yang tidak memperbolehkannya menggambar sosok Muhammad.

Reaksi yang sama sekali tidak diperkirakan oleh Kurt sebagai kartunis profesional. Dalam sebuah interview di tahun 2009, Kurt menjelaskan, penggambaran kartun itu adalah opini dirinya pada peristiwa terorisme yang marah di seluruh dunia. "Saya hanya ingin menggambarkan asal usul ideologi keliru para terorist itu," katanya.

Apakah Kurt membenci Nabi Muhammad atau Islam? Tidak ada referensi mengenai hal ini. Namun yang pasti Kurt tidak pilih-pilih dalam mengkritik siapa saja yang dianggap tidak benar dalam ukurannya. Politisi Belanda, Geert Wilders' yang dikenal sebagai pemrakarsa film Fitna (yang juga mengkritik Islam), juga dikritik Kurt dalam bentuk kartun. Sebabnya, Geert menggunakan kartunnya di film Fitna, tanpa izin darinya. Geert digambarkan juga memiliku bom di atas kepalanya.

Popularitas yang juga membahayakan itu pun disadari oleh Kurt. Banyak teman dekatnya yang memperingatkan Kurt atas kemungkinan adanya ancaman pembunuhan terhadapnya. "Itu akan menjadi salahku sendiri," katanya. Meski demikian, Kurt tidak berubah. Terutama kekritisannya. Seperti pada imigran yang datang ke Denmark. "Mereka datang ke sini (Denmark) tanpa apa-apa, dan kami (Warga Denmark) memberi mereka semuanya dan hanya ingin mereka menghormati demokrasi. Itupun tidak mereka lakukan," katanya.

Karena keteguhan itu juga, Kurt menerima Sappho Award, penghargaan yang diberikan oleh Free Press Society Denmark untuk jurnalis yang mengkombinasikan profesionalitas dan menolak berkompromi.

Membela Lingkaran SBY Melalui "Gurita Tak Berdata"

Iman D. Nugroho

Sebuah email masuk ke email saya, Sabtu (2/1/10) ini. Judul email itu sederhana saja: Gurita Tak berdata. Bisa ditebak, isi email sepanjang 15 halaman MS Word dengan font 11 itu tak lain adalah "jawaban" atas buku George Junus Aditjondro, Membongkar Gurita Cikeas, Dibalik Skandal Bang Century. "TOlong, nama saya jangan disebut-sebut di Iddaily," kata sang pengirim email yang juga tidak bersedia disebutkan alamat emailnya ini.

Gurita Tidak Berdata berisi tentang analisa atas tulisan-tulisan George yang dimuat dalam bukunya. Mulai Bab Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century, Bab Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas, Bab Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center, hingga yang terakhir bab Kesimpulan buku Gurita Cikeas setebal 183 halaman itu.

Menurut sang penulis, buku George mengungkap pendapat pribadi penulis yang digambarkan melalui tiga fenomena pokok. Tudingan Jaringan Bisnis dan Politik Presiden dan keluarganya, Tudingan Pemanfaatan jaringan, untuk pemenangan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 dan Tudingan Keterkaitan jaringan dengan kasus Bank Century. "Analisis bersifat sangat sumir, cenderung tendensius dan spekulatif, serta Lebih mengedepankan logika politik daripada menggunakan logika formal dalam menilai dinamika sosial politik yang terjadi," tulis sang pengirim.

Dari Moerdaya ke Ani Yudhoyono

Di dalam tabel yang disajikan, pembuat tulisan ini mencoba mengkritisi hal yang bersentuhan lansung dengan "lingkaran" SBY. “Sebelum Bank Century diambil alih oleh LPS, Boedi Sampurna, seorang cucu pendiri Pabrik Rokok PT HM Sampoerna, Lim Seng Thee, masih memiliki simpanan sebesar Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan simpanan Hartati Moerdaya sekitar Rp. 321 Milyar. Keduanya sama-sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu” (Hal. 14-15)," demikian tertulis.

Bantahan dari paparan George itu adalah tidak adanya data-data simpanan Boedi Sampoerna dan Hartarti Moerdaya, serta tidak disebutkan sumbernya. Hasil Klarifikasi dengan Hartati Murdaya (entah kapan dan dimana klarifikasi itu dilakuan), Hartati mengaku tidak pernah menyimpan dana di Bank Century. Bahkan pemimpin Walubi itu baru tahu adanya Bank Century setelah ramai diberitakan di Media Massa.

Juga soal Aliran dana Sampoerna ke Harian Jurnal Nasional (Jurnas), Blora Centre dan Jurnal Bogor, (hal, 23,24,25). Disebutkan di dalam buku milik George, “Sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi Jurnas, Ramadhan Pohan merangkap sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, Think Tank Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang pertama. Barangkali ini sebabnya, kalangan pengamat politik di Jakarta mencurigai bahwa dana kelompok Sampoerna juga mengalir ke Blora Cente.” (hal. 24)

Menurut penulis Gurita Tidak Berdata, tulisan George itu tidak memiliki data yang valid. Karena Penulis hanya berbekal data sekunder, tanpa referensi langsung dari nara sumber terkait. Apalagi, sudah dibantah langsung oleh Ramadhan Pohan dihadapan George J Aditjondro pada siaran langsung Kabar Pagi TV One Tanggal 29 Desember Pukul 07.30

Termasuk adanya aliran dana PSO LKBN Antara sebesar Rp. 40,6 milyar, ke Bravo Media Center. "Lalu, adakah kontribusi finansial Rully bagi kampanye Capres dan Cawapres SBY-Boediono? Ada. Bersama Direktur LKBN Antara, Dr. Akhmad Mukhlis Yusuf, Separuh dari dana PSO (Public Service Obligation) LKBN Antara yang berjumlah Rp. 40,6 milyar mengalir ke Bravo Media Center, salah satu Tim Kampanye SBY-Boediono (Hal.29-30)."

Hal ini, menurut email bantahan ini, sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dana PSO LKBN Antara yang Rp. 50 milyar dialirkan 40,6 milyar untuk Bravo Center. Dan, Dirut LKBN Antara, Akhmad Muchlis Yusuf pun sudah membantahnya pada siaran langsung Kabar Pagi TV One Tanggal 29 Desember Pukul 07.30.

Dan yang tidak kalah penting adalah tentang keterkaitan promosi Batik Allure dengan Ibu Negara, Ani Yudhoyono (Hal. 56 hingga 57). “,Adanya potensi konflik kepentingan antara Ny. Ani Yudhoyono sebagai pembina yayasan itu, dan perusahaan batik baru yang telah mengorbitkan anak dan cucunya sebagai ikon, belum banyak disorot orang.” Pernyataan ini, menurut penulis bantahan, tidak didukung sumber referensi yang akurat dan hanya berdasarkan spekulasi penulis.

*pemukulan George Junus Aditjondro ke Ramadhan Pohan, klik di sini.
*Analisa lain soal Bank Century, klik di sini.
*Download buku Gurita Cikeas by George Junus Aditjondro, klik di sini.

ps. butuh edisi lengkap email ini, kirim email ke iddaily@yahoo.com

Perbedaan Santri dan Tentara

Fully Syafi


















Kali ini saya ingin menekankan pada perbedaan. Dalam foto yang saya ambil di sela-sela acara pemakaman KH. ABdurrahman Wahid atau Gus Dur ini, ada satu adegan yang mendiskripsikan perbedaan santri dan tentara. Mulai perbedaan warna (topi dan songkok), hingga susunan barisannya (teratur dan tidak teratur). Sesekali, mengetengahkan perbedaan yang kontras cukup menarik dalam fotografi.

*analisa foto lain, klik di sini.

Between Circuit and the Bustle Embroidery

Iman D. Nugroho

This woman is very unique. Between her busy embroidering, she instead chooses to be female race cars driver. And the great thing is she became the first woman who is won on classical car race. “I will continue my activity as a driver until I get bored and back to my regular activity; embroidery,” she said.

The first Classic Car Race of 2009 which held by the Indonesian Association of Old Cars Lover (PPMKI) is facing something “weird”. On the event, a woman who is the driver of VW Beatle has won three of six stages on that event which held on Sentul Circuit of Bogor , West Java . “When I open my helmed after I had pass the finish line, other drivers and crews was surprised when they see me,” Dwi Yuni Purbayanti said.

No wondering why drivers and crews was shock, Dwi Yuni Purbayanti or familiarly called as Yuni is the only female race cars driver on that event. Especially, this mother of three children- Tiffany Anandhini Putri, Dinda Unyil and Duduy Itu Gue- are physically looking like a man. “When I use my race costume with helmed, I believe you will never know that I am a female, haha,” she said.

Yuni’s first moment with car was happened on 1997, when her husband Asmarwan, has decided to take over her brother service station, Rektas which location on Pasar Minggu of South Jakarta . She never thought that it will become a way to get a new interesting activity. “I just thinking, our new service station its will like ordinary service station in Jakarta , but I was wrong,” she said. When she acquainting with many VW mechanics, she has realized change her ordinary service to VW only is a good idea. “So, we decide to change it, and its work!” she said.

01 January 2010

Gerimis di Ciganjur 30 Desember 2009

Iman D. Nugroho

Gerimis menyelimuti Cilandak, Jakarta, 30 Desember 2009, ketika sebuah mushola kecil di tepi jalan Raya Cilandak itu mengabarkan kematian KH. Abdurrahman Wahid. "Pengumuman, telah meninggal dunia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sore tadi jam 18.45 wib. Jenazah akan dibawa ke rumah duka di Ciganjur," kata takmir masjid melalui pengeras suara.

###

Suasana di depan rumah mantan Presiden RI ke-4 terlihat sepi. Hanya beberapa pengurus Pondok Pesantren Ciganjur yang berlalu lalang di halaman depan rumah di belakang Masjid Al Munawaroh. Itu. "Tolong, sepeda motor diparkir di sebelah sana, ini akan digunakan sebagai jalan masuk utama," kata seorang bersarung dan berpeci, salah satu pengurus Ponpes Ciganjur. Beberapa orang lain berjaga di sekitar gerbang utama yang masih lengang.

"Bapak, belum datang. Bu Nyai [Shinta Nuriyah] dan keluarga lain juga masih di RSCM," kata penjaga gerbang yang enggan disebutkan namanya. Di selasar Masjid Al Munawaroh, beberapa orang sibuk membelah bambu, menempelinya dengan kertas kuning, menjadikan bendera tanda duka cita. Khas Betawi. Satu persatu, jurnalis dari berbagai media massa mulai berdatangan, bersamaan dengan riuh penduduk sekitar yang datang. "Maaf sekali lagi, saya tidak bisa memberikan penjelasan apa-apa, kita tunggu saja," kata penjaga gerbang, seiring gerimis datang dan pergi.

"Para penta'ziah, silahkan masuk ke masjid, kita membaca tahlil dan Yasin untuk Gus Dur, monggo,.." kata takmir Al Munawaroh melalui pengeras suara. Tak lama berselang, masjid itu pun "hidup". Tahlil dan Yasin pun menggema dari sekumpulan orang yang duduk membentuk lingkaran. Menebarkan kekhusukan, di sela-sela gerimis. Beberapa orang menyeka air matanya. Beberapa lain tertunduk.

###

"Kepergian" Gus Dur malam itu mengagetkan banyak orang. Sakit yang dideritanya, dengan berkali-kali datang dan pergi dari rumah sakit, tetap tidak bisa menjadi pembenar kematiannya. Dorce, artis transseksual yang mengaku teman dekat Gus Dur pun bahkan sempat mencaci makin Sundari Soekotjo, penyanyi yang mengabarkan hal kematian itu padanya. Apalagi Shinta Nuriyah, yang kebingungan saat melihat Presiden Susilo Bambang Yudhonoyo datang ke RSCM, menjelang kematian Gus Dur. "Maaf, bu, kami sudah berusaha maksimal," kata seorang dokter RSCM mengabarkan kematian Gus Dur untuk pertama kali.

Di masjid Al Munawaroh, kenangan atas tokoh kontroversial itu tiba-tiba menyapa. Kembali di tahun 90-an, di pengadilan tinggi Surabaya, Gus Dur datang mendampingi dua penganut agama Konghucu yang berjuang mempertahankan keyakinan dan budayanya. Menurut Gus Dur, manusia harus diberi kesempatan menjalankan keyakinannya. Sama halnya ketika Gus Dur membela Dorce, salah satu pelaku transseksual [mengubah jenis kelamin] dari caci maki berdasar isu keagamaan.

Bagi Nahdliyin-sebutan untuk orang Nahdlatul Ulama[NU]- Gus Dur adalah segalanya. Sebagai pembawa trah-garis keturunan- pendiri NU Hasyim Ashari, membuatnya menjadi sandaran vertikal maupun horisontal. Di ponpes Salafiah Safiah Asembagus, Sitobondo, beberapa saat sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, kedatangan Gus Dur membuat seluruh desa bersolawat. Tak sedikit yang menanggis tersedu. Terharu melihat panutannya bersedia datang, dan menyalami tangan Nahdliyin yang tersorong untuk bersalaman.

Di Gedung DPR/MPR tahun 1999, Gur Dur yang terpilih menjadi Presiden RI ke-4, tidak ragu mengajak Megawati Soekarno Putri, Pimpinan PDI Perjuangan yang kalah bersaing di ranah pemilihan presiden, untuk duduk di kursi Wakil Presiden. Untuk pertama kalinya, Indonesia dianugerahi presiden setelah Soeharto tumbang. Salawat berkumandang di Gedung Rakyat itu. Meski, belum genap dua tahun, Gus Dur dipaksa turun dengan peristiwa lambaian tangan Presiden bercelana pendek di selasar Istana Negara yang tak terlupakan itu,..

###

Gerimis masih menyirami Ciganjur, ketika mobil jenazah hitam itu memasuki pelataran, mengantar jenazah Gus Dur untuk diterbangkan ke ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur untuk dikebumikan esok hari. Orang-orang menangis sambil bersalawat. Air mata dan gerimis tak henti mengguyur Ciganjur 30 Desember 2009,..

#keterangan foto: keranda di masjid Al Munawaroh, depan rumah Gus Dur di Ciganjur.
#foto-foto Ciganjur lain klik di sini
#puisi Gus Dur klik di sini


.: Halaman Populer