05 February 2009

ITS Dipercaya Bina 50 Desa Pesisir Perbatasan

Press Release

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah dipercaya oleh Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) untuk membantu membina desa-desa di pesisir Indonesia, terutama di wilayah perbatasan negara.


Program kerjasama berdasarkan MOU yang ditandatangani awal Desember 2008 lalu, itu secara resmi telah diluncurkan oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorkamla, Laksamana Madya TNI Budhi Hardjo, pada 3 Februari lalu di Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kerjasama ini diwujudkan melalui keikutsertaan ITS dalam kegiatan-kegiatan Program Pemberdayaan dan Pembinaan Masyarakat Pesisir. Nantinya, ITS melalui dosen dan mahasiswanya, diharapkan untuk berperan aktif menjadi penyuluh dalam kegiatan-kegiatan penyuluhan dan pelatihan untuk masyarakat pesisir.

“Selain itu, nantinya temuan-temuan dosen ITS dalam bidang Teknologi Tepat Guna (TTG) diharapkan juga dapat diterapkan atau digunakan di desa-desa sasaran,” jelas Prof Ir Djauhar Manfaat MSc PhD, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS.
Untuk tujuan itu, dosen-dosen penemu ini diharapkan juga akan dilibatkan guna membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Rencananya, ada sekitar 50 desa yang akan menjadi sasaran pembinaan yang tersebar di beberapa provinsi. Di antaranya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan dua pulau di Mindanau Selatan. Desa-desa yang terpilih memang terletak pada daerah-daerah perbatasan antara Indonesia dan negara-negara tetangga.

Ini sesuai dengan tugas utama dari Bakorkamla sendiri. Yakni untuk mengkoordinasi pelaksanaan tugas dan fungsi keamanan, keselamatan kapal dan penegakan hukum di laut di Indonesia. Badan ini beranggotakan sekitar 12 pemangku kepentingan (stakeholders), antara lain Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, Departemen Pertahanan, Departemen Keuangan, Departemen Hukum dan HAM, Departemen Luar Negeri, Mabes TNI, Mabes TNI AL, Mabes Polri dan lain-lainnya. Badan ini diketuai oleh Menko Polhukam dan dalam pelaksanaan hariannya dikepalai oleh Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar).

Program Pemberdayaan dan Pembinaan Masyarakat Pesisir ini merupakan salah satu program utama Bakorkamla di tahun 2009. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan, pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir melalui berbagai bidang kegiatan yang bersifat konstruktif maupun pembinaan SDM sesuai skala prioritas.

Selain itu, juga untuk meningkatkan pengetahuan pengembangan usaha mata pencaharian alternatif, dan memantapkan potensi dan usaha pengelolaan sumber daya laut yang dimiliki oleh masyarakat setempat.

“Waktu pelaksanaan program di 50 desa ini direncanakan bisa berlangsung mulai Februari hingga Oktober 2009 mendatang,” ujar Djauhar. Jenis-jenis kegiatannya antara lain berupa ceramah dan penyuluhan, bakti kesehatan dan sosial, memberikan bantuan atau pengadaan atau rehabilitasi khususnya bantuan peralatan TTG, membantu budidaya misalnya ikan, rumput laut, kerang mutiara, serta memberikan pelatihan.

Menurut Djauhar, dengan adanya program pembinaan bagi desa pesisir perbatasan ini diharapkan juga mampu mengembalikan rasa nasionalisme masyarakat setempat agar tidak lagi tertarik untuk mengais rezeki di negeri tetangga yang berbatasan. Sebab mereka sudah bisa memberdayakan sendiri sumber-sumber alam yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomiannya. (HUMAS-ITS, 5 Februari 2009)

Tranparency International Indonesia: Surabaya Menempati Peringkat Ke-31 Kota Terkorup

Iman D. Nugroho, Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya menempati peringkat ke-31 dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2008. Dari 50 kota se-Indonesia yang disurvei Transparency International Indonesia (TII), Surabaya hanya mendapatkan skor 4,26. Skor itu di bawah Malang, Jember dan Kediri yang menempati urutan ke-13, 14 dan 15. Sementara itu, Kota Jogjakarta, Palangkaraya dan Banda Aceh menempati tiga besar dengan nilai tertinggi 6,43 yang didapatkan Jogjakarta. Urutan terbawah ditempati oleh Kupang, Tegal dan Manokwari. “Data ini menunjukkan , Pemerintah Kota Surabaya belum serius melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi di Surabaya,” kata Anita Rahman Akbarsyah dari TII, Kamis (5/2) ini di Surabaya.


Lebih jauh Anita menjelaskan, data yang dilansir TII ini adalah fakta bahwa masih ada penjabat pemerintah Surabaya yang terjebak dalam prilaku korupsi. Salah satu contohnya adalah kasus korupsi yang melilit Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Kota Surabaya. Seperti diketahui, kasus itu menyeret Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Surabaya Bunari dengan jumlah uang Negara yang dikorupsi sebesar Rp. 1,5 miliar. Sebelumnya, kasus korupsi juga terjadi di dermaga Kalimas Pelabuhan Antar Pulau Tanjung Perak Surabaya. Dalam kasus itu, enam pegawai negeri sipil diperiksa secara intensif karena diduga terlibat pungutan liar.

Selain mengukur tingkat korupsi di 50 kota di Indonesia, TII juga mengungkapkan indeks suap yang terjadi di 15 institusi public. Yang mengejutkan, institusi kepolisian menempati posisi teratas, dengan nilai rata-rata uang transaksi korupsi yang beredar sebesar Rp.2.273.000,-. Namun, jumlah uang yang paling besar justru terjadi di pengadilan di Indonesia. Jumlah rata-rata uang yang beredar hingga mencapai Rp.102.412.000,- Uniknya, korupsi juga terjadi di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan jumlah uang korupsi sebesar Rp.1.678.000,-.

Wakil Walikota Surabaya, Arief Affandi berkomentar datar atas data yang ditunjukkan oleh TII ini. Menurut mantan pimpinan redaksi sebuah media terbesar di Jawa Timur ini, pemerintah memang membutuhkan koreksi terus menerus dari masyarakat. “Ini semacam evaluasi bagi pemerintah kota, dan kami memastikan akan ada sanksi dari pemerintah kepada oknum pelaku korupsi yang terungkap, pasti akan kita pecat,” kata Arief Affandi. Arief mencontohkan kasus yang menimpa Kadishub Surabaya, Bunari. “Kalau memang polisi menentukan Bunari bersalah, pasti akan kita sanksi,” katanya.

Sementara itu Gunawan Hadi Susilo, Kepala Bagian Pengawasan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) mengatakan Indonesia masih menghadapi berbagai kendala pemberantasan korupsi. Mulai aspek strukturan, kulturan, instrumental dan manajemen. “Seperti lemahnya koordinasi, sifat ewuh pakewuh hingga peraturan yang tumpang tindih, ini harus kita akui,” katanya. Meski demikian Menpan meyakinkan adanya percepatan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. “Dan ini adalah upaya bersama, tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja,” katanya.

04 February 2009

Polisi Harus Mengusut Tuntas Kasus Suap Pada Wartawan

Press Release

Perkembangan kasus Kasus Uji Kir pada Dinas Perhubungan Kota Surabaya yang mengindikasikan adanya keterlibatan wartawan, harus diusut tuntas oleh polisi. Seperti yang dimuat Harian Surya Surabaya edisi Rabu, 4 Februari 2009, ada 14 wartawan yang menerima jatah Rp.10 juta/bulan. Tertulis di Surya, penyidik menemukan fakta adanya wartawan yang mendapat jatah bulanan dari UPT PKB Wiyung yang dibagi dengan jumlah minimal Rp. 10 juta/bulan. Jumlah itu bervariasi. Mulai Rp. 500.000 dan Rp. 750.000 per bulan.


Atas hal itu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mendorong polisi untuk mengusut tuntas dan menjelaskan secara rinci siapa-siapa wartawan yang mendapat jatah uang suap itu. Hal ini penting, mengingat kredibelitas wartawan secara keseluruhan dipertaruhkan. Meskipun AJI Surabaya menyadari belum tentu nama wartawan dan media yang ada di dalam list itu memang benar menerima. Namun, setidaknya rincian itu merupakan upaya klarifikasi.

Seperti diketahui, suap pada wartawan diatur dalam UU no.40 tahun 1999 pada Pasal 7 ayat dua yang menyebutkan Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Di dalam Kode Etik Jurnalistik Pasal 6 tertulis, Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Hal ini berarti Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. Suap yang dimaksud adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Surabaya, 4 Februari 2009

Donny Maulana
Ketua

Iman D. Nugroho
Sekretaris I


03 February 2009

Perusahaan Tutup, Buruh Kediri Demonstrasi

Iman D. Nugroho, Kediri

Penetapan Upah Minimum Kota/Kabupaten yang seharusnya mulai ditetapkan pada Januari 2009, tidak berjalan mulus. Di Kota Pare, Kediri Jawa Timur, sebuah perusahaan menutup usahanya secara sepihak karena mengaku tidak mampu memenuhi UMK sebesar Rp.856.000,-. Akibatnya, sekitar 600-an buruh kehilangan pekerjaannya. Selasa (3/2) ini mereka menggelar demonstrasi di depan gerbang perusahaan menuntut dipekerjakan kembali.




Berkah Menetes di Goa Maria Lourdes


Iman D. Nugroho, Kediri

Hujan baru saja berhenti saat Yakobus menyalakan lilin sesembahan miliknya di Goa Maria Lourdes, Puhsarang, Kediri, Jawa Timur, Senin (2/2) siang ini. Dengan cekatan, laki-laki kelahiran Surabaya itu meletakkan lilin di berundakan tertinggi. Tepat di bawah patung Bunda Maria setinggi 3,5 meter. "Hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada Bunda Maria, setelah beberapa malam lalu saya bermimpi dipanggil Beliau,"kata Yakobus pada The Post.


Yakobus memang datang secara khusus ke Goa Maria Lourdes Kediri untuk berdoa. Pemuda yang tinggal di Bandung, Jawa Barat ini, tengah dililit konflik kehidupan yang luar biasa. "Semoga usai berdoa di sini, jalan saya akan dimudahkan," katanya. Untuk menunjukkan kesunggugannya, Yakobus berencana menginap beberapa malam untuk menunggu "petunjuk" selanjutnya.

Goa Maria Lourdes adalah salah satu bagian dari kompleks gereja katolik Puhsarang di Kediri Jawa Timur. Berbeda dengan kebanyakan gereja yang hanya berfungsi sebagai tempat berdoa, gereja yang terletak di lerang Gunung Wilis Kediri ini memiliki berbagai fungsi sekaligus. Mulai daerah wisata, pemakaman, camping ground, tempat penitipan abu jenazah, pendidikan kesusteran hingga tempat pertemuan. Letaknya yang menjadi satu dengan penduduk Desa Puhsarang menambah unik komplek gereja seluas 13,5 Ha ini.

Gereja Puhsarang didirikan pertama kali oleh insinyur asal Belanda, Romo Hendricus Maclaine Port atas permintaan Pastor H. Wolters C.M pada tahun 1936. Hendricus Maclaine Port adalah arsitek yang juga membangun museum Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sekilas, bangunan utama gereja Puhsarang tampak seperti kapal yang tertempel di bukit kecil. Konon, Hendricus Maclaine Port ingin mengingatkan peristiwa sajarah terdamparnya kapal Nabi Nuh usai bencana air bah.

Di bangunan utama terdapat bejana baptis, sakristi dan tempat pengakuan doa. Semua ada di bawah kubah yang di tiap sudutnya dihiasi dengan simbolisasi empat penulis Injil. Matius (digambarkan sebagai manusia bersayap), Markus (digambarkan dengan singa bersayap), Yohannes (digambarkan sebagai burung rajawali) dan Lukas (yang dilambangkan lembu jantan). Altarnya dipahat sedemikian rupa, sehingga tampak seperti rusa yang sedang minum. Di atas altar terdapat relief yang disusun dari batu bata merah dan dilekatkan dengan gula aren.

Keunikan desain juga bisa dinikmati di bagian luar bangunan utama yang terbuat dari batu kali yang banyak terdapat di desa Puhsarang. Gapura bernama St. Yosef itu melengkung bak lonceng besar. Di bagian atasnya terdapat lonceng gereja. Setiap jam, lonceng yang disebut Menara Hendricus itu selalu berdentang sebagai tanda waktu. Dalam sejarahnya, Gereja Puhsarang direnovasi sebanyak empat kali. Semuanya untuk memperkuat bentuk bangunan, tanpa mengubah desain aslinya.

Renovasi terbesar dilakukan tahun 1999, di jaman Romo Emilio Rossi. Selain mengganti total bahan baku bengunan utama dari kayu menjadi baja, arsitek Ir. Harry Widyanto, Ir. Rusly dan Ir. Djoko mendisain fasilitas-fasilitas baru. Seperti gedung serbaguna Emaus, Taman Hidangan Kana, Bumi Perkemahan dll. Renovasi juga memperbesar sarana berdoa dengan membangun Goa Maria Lourdes, Colombarium Pieta, Jalan Salib dan Pondok Rosario.

Dan dari semuanya Goa Maria Lourdes adalah "inti" dari gereja Puhsarang. Floreanus Josep (F.J.) Lasijo, salah satu pengurus gereja Puhsarang menceritakan, Goa Maria Lourdes adalah replika dari goa Maria Lourdes di Pegunungan Pyrena, Prancis Selatan. Seperti di ketahui di Pyrena terdapat sebuah goa tempat gadis Bernades Soubirouos bertemu dengan perempuan yang dipercaya sebagai perwujudan Bunda Maria pada tahun 1858. Hingga kini, goa itu dijadikan tempat ziarah umat kristiani. "Nah, goa Maria Lourdes di Kediri ini adalah replikanya," terang Lasijo.

Meski hanya replika, pembangunan goa Maria Lourdes di Kediri tidak bisa serampangan. Lasijo menceritakan, Kepausan Vatikan memberikan prasyarat khusus untuk membuat replika goa Laourdes Prancis. Tempat yang akan membangun replika haruslah memiliki gereja, goa, sumber air suci, jalan salib, parkir yang luas untuk pengunjung, pasar dan dekat dengan aliran sungai. "Tidak semua tempat memiliki syarat-syarat seperti itu, di Indonesia, hanya di Puhsarang saja yang memiliki semua prasyarat itu, dan sudah disetujui oleh Vatican," kata Lasijo.

Goa buatan itu terbuat dari semen dan batu-batuan setinggi 18 meter dengan lebar 17 meter. Di bagian kanan terdapat patung Bunda Maria setinggi 3,5 M. Di bagian tengah, terdapat altar besar yang digunakan oleh para romo saat memimpin misa. Terdapat 12 sumber air suci yang mengalir di bagian kiri bawah goa. Sebagain orang mempercayai, air ini memiliki khasiat kesehatan. Tak jarang pengunjung membawa pulang air suci itu sebagai pengobatan alternatif.

Selain goa Maria Lourdes, replika Jalan Salib bukit Golgota juga merupakan "kekuatan" dari kompleks gereja Puhsarang. Terdapat 15 stasi penggambaran perjalan Yesus Kristus mulai Vonis Mati, Membawa Salib, Terjatuh Beberapa Kali, Bertemu dengan Bunda Maria, Penyaliban, Kematian hingga Penggambaran Makam Kosong (karena Yesus Kristus diyakini sudah diangkat ke surga). Ada 100 patung seukuran manusia digunakan dalam proses jalan salib ini.

Di antara semua fasilitas yang ada, ritual peribadahan Malam Jumat Legi adalah puncak dari semua aktivitas di Gereja Puhsarang. Dalam acara inilah, sekitar 3000-an umat kristiani dari berbagai penjuru Jawa, Bali bahkan seluruh Indonesia berkumpul di taman di depan Goa Maria Lourdes untuk melakukan misa. Keunikan acara ini terletak pada pelaksanaan misa yang dilakukan pada malam hari. "Meski menggunakan doa Katolik, banyak juga orang di luar Katolik yang mengikuti acara ini, sekedar merasakan keheningan untuk lebih dekat dengan Tuhan, atau menikmati tembang-tembang gamelan Jawa Timuran yang biasanya digunakan," kata Lasijo.

Tujuan ribuan orang itu hanya satu: Mengharapkan berkah yang menetes di Goa Maria Lourdes.

01 February 2009

Berharap Ada Ikan yang Lengah,..

photo by Iman D. Nugroho, Kediri, Jawa Timur

Naiknya volume air saat musim hujan, adalah berkah bagi masyarakat yag tinggal di sepanjang kali. Salah satunya di perbatasan Kota Mojokerto-Kota Sidoarjo, Jawa Timur. Minggu (1/2) ini mereka beramai-ramai untuk menyeser (mencari ikan dengan memasang jaring besar di sepanjang aliran sungai. Ikan-ikan yang "tidak beruntung" secara tidak sengaja akan masuk ke jaring saat mereka terseret derasnya arus.

.: Halaman Populer