Demonstrasi penuntasan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, berlangsung di Surabaya, Jumat (7/9). Demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan Komunitas Pembela HAM Jawa Timur itu menekankan masuknya kasus Munir dalam babak baru yang paling penting. Yakni, digelarnya sidang Peninjauan Kembali (PK) atas tersangka Pollycarpus dengan rekaman pembicaraan antara Pollycarpus dan Mantan Direktur Garuda Indra Setiawan sebagai bukti baru (novum).
07 September 2007
05 September 2007
Olimpiade Sains Nasional Jauh Bawah Standart Internasional

Perjalanan pemenang Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke-VI untuk bisa menjadi peraih medali dalam Olimpiade Sains Internasional akan cukup berat. Bukan hanya karena kemampuan peserta dari negara lain yang jauh di atas peserta olimpiade sains Indonesia, namun standarisasi OSN yang berada jauh di bawah Olimpiade Sains Nasional juga menjadi persoalan tersendiri.
Hal itu dikatakan Ketua Tim Juri OSN ke-VI bidang Komputer dan Informatika, Suryana Setyawan pada The Jakarta Post, Rabu (5/9) ini. Suryana menjelaskan, dalam bidang Komputer dan Informatika yang dilombakan di OSN memiliki bobot soal yang jauh lebih ringan dari Olimpiade Sains Internasional dalam bidang yang sama.
“Karena itu, juara dalam OSN dalam bidang apapun, termasuk Komputer dan Informatika, tidak langsung bisa diikutkan pada Olimpiade Sains Internasional karena hampir pasti nilai mereka akan nol, karena bobot soal di Olimpiade Sains Internasional jauh lebih tinggi,” kata Suryana. Untuk itu perlu adanya mekanisme Pelatihan Nasional (Pelatnas) bagi peserta olimpiade sains internasional.
Dalam Pelatnas itu, pemenang OSN akan digembleng dengan materi-materi baru dan lebih mendalam. Bahkan sampai materi-materi yang setingkat dengan materi Sarjana S1, atau bahkan lebih. “Soal-soal yang ada di Olimpiade Sains Internasional setingkat SMA sudah setingkat materi sarjana, dan hal itu tidak diajarkan di sekolah menengah di Indonesia,” kata Suryana.
Dalam pembukaan Olimpiade Sains Nasional ke-VI yang berlangsung di Surabaya Selasa-Kamis (4-6/9), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. DR. Bambang Sudibyo mengatakan standart soal pada OSN ke-VI sudah disetarakan dengan Olimpiade Sains Internasional. Salah satu tujuannya, agar pemenang OSN bisa langsung berkiprah dalam tingkat dunia.
Dalam perhelatan yang diikuti oleh 1182 peserta setingkat SD/SMP dan SMA itu, Kontingen Jawa Tengah mengirimkan peserta paling banyak, sejumlah 111 siswa. Disusul DKI Jakarta dengan 97 siswa dan Jawa Timur sejumlah 70 orang. Semuanya akan berlomba dalam delapan mata pelajaran. IPA, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, Komputer dan Ekonomi. Jawa Tengah, sebagai Juara Umum pada OSN ke-V lalu, bertekad mempertahankan gelar juara.
Suryana Setyawan mengungkapkan, salah satu alasan tidak samanya standarisasi OSN dengan Olimpiade Sains Internasional adalah kemampuan siswa yang tidak merata. Para siswa dari kota-kota besar yang ada di Jawa misalnya, seperti Jakarta, Jogjakarta, Bandung dan Surabaya misalnya, memiliki kesempatan untuk mendapatkan fasilitas yang lebih lengkap dari pada siswa di luar Jawa. Kondisi itulah yang membuat pembuat soal OSN harus memilih soal-soal yang tingkat kesulitannya tingkat Medium.
Didi Supriyadi, peserta OSN ke-VI mata pelajaran Ekonomi asal Tegal Jawa Tengah mengaku sudah memperlajari jenis soal yang sama sebelum berlaga di Surabaya. Meski begitu, dia mengaku masih kesulitan dengan soal-soal yang dilombakan di OSN. “Perlu ada logika-logika peserta, tidak semuanya text book, yah,..mudah-mudahan berhasil,” kata Didi, Siswa SMA I Tegal Jateng ini pada The Post.
Irwan Yahya siswa SMA St. Aloysius Bandung yang merupakan peserta OSN untuk ketagori Komputer dan Informatika mengungkapkan, dari empat soal yang diberikan, dua di antaranya adalah soal yang mudah, sementara dua lain cukup sulit. “Meski sulit tapi saya bisa mengerjakan, yah minimal medali perunggu lah,..haha,” kata Irwan yang dalam seleksi tingkat Provinsi menduduki peringkat pertama serta diprediksi menjadi salah satu pemenang ini.
Berbeda dengan Didi dan Irwan, Azlan Indra dari Riau mengaku kesulitan saat mengerjakan soal yang diberikan kepadanya. Meskipun dirinya sudah mengaku mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Surabaya. “Wah,..saya kesulitan, karena yang dilombakan berbeda dengan yang dipelajari di sekolah,” katanya.

04 September 2007
Didemo Mahasiswa, Presiden SBY Meminta Anggaran Pendidikan Tidak Diselewengkan
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta peningkatan anggaran pendidikan disertai dengan perbaikan sistem dan dasar hukum. Sistem dan dasar hukum dibangun untuk mengarahkan anggran pendidikan itu agar sampai ke sasarannya. "Maksudnya (anggaran pendidikan-red) jangan diselewengkan kesana-kemari," kata Presiden SBY dalam kuliah umum berjudul Transformasi Indonesia Dalam Era Globalisasi di Kampur C Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (4/9) ini.Penegasan Presiden SBY menyangkut anggaran pendidikan itu adalah jawaban dari surat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unair kepada Presiden SBY. Dalam surat itu BEM Unair meminta pemerintah tidak hanya terjebak dalam jumlah anggaran pendidikan semata. Melainkan, perlu adanya tujuan dan sasaran yang akan dicapai oleh pendidikan di Indonesia. "Saya setuju dengan pemikiran mahasiswa, karenanya dengan kemampuan yang ada kita serius dalam peningkatan anggaran dengan penggunaan yang terarah pula," kata Presiden SBY.
Di hadapan 500 peserta kuliah umum yang terdiri dari civitas akademiki universitas dari seluruh Jawa Timur itu Presiden SBY menjelaskan, keterarahan yang dimaksud salah satunya berarti tidak menggunakan anggaran pendidikan dengan boros dan betul-betul memperbaiki inftrastruktur yang ada, Termasuk menyediakan fasilitas buku yang murah."Saya teruskan kepada Mendiknas Bambang Sudibyo untuk dicermati lagi, agar kenaikan anggaran pendidikan kita yang tahun ini meningkat 12,3 persen betul-betul mendapatkan sasarannya," kata Presiden SBY.
Dalam suratnya, BEM Unair juga mengaskan sikap mereka yang menolak Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang saat ini sedang digodok DPR-RI. Menurut SBY, mahasiswa memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Menurutnya, sebuah sistem baru yang akan diterapkan pasti didalamnya terdapat sisi negatif dan positif. Hanya saja, Presiden SBY mengajak mahasiswa untuk meyakini tujuan dan sasaran yang akan dicapai RUU BHP adalah tepat.
Kedatangan Presiden SBY ke Surabaya Selasa ini sempat disambut dengan demonstrasi ribuan mahasiswa dari berbagai kelompok. Dalam pengamatan The Jakarta Post, ada empat kelompok yang berdemonstrasi menyambut SBY. Mulai dari kelompok Gema Pembebasan, Kelompok organisasi mahasiswa, PMII, HMI, GMKI, LMND dll hingga kelompok kampus Unair dan Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Ada tiga isu besar yang diusung mahasiswa dalam demonstrasi menyambut Presiden SBY. Pertama adalah penolakan atas kecilnya anggaran pendidikan dalam APBN yang senilai 10,8 persen dari seluruh anggaran, Kapitalisasi Pendidikan Nasional dengan mendorong Perguruan Tinggi menjadi Perusahaan terbatas (PT) serta tidak tuntasnya kasus semburan lumpur Lapindo Brantas Inc di Sidoarjo yang hingga saat ini belum diselesaikan.
"Kecilnya anggaran pendidikan adalah bukti bahwa pemerintah tidak serius memperbaiki kondisi pendidikan, padahal di sisilain dengan bergantinya status perguruan tinggi menjadi PT, maka hanya kelompok masyarakat yang kaya saja yang bisa mengenyam pendidikan," tulis mahasiswa salam selebarannya.***
02 September 2007
Triumph Over Adversity
01 September 2007
Bertarung di Warung Catur Surabaya
Tiba-tiba tangan Didik memegang ujung Benteng berwarna hitam. Menggesernya ke kanan, mendekati Raja berwarna putih. “Skak mat!” kata Didik bersemangat, sambil tangannya menekan panel jam catur bermerk Jerger Schachuhr. Cholil terperangah. Memegang ujung buah catur Raja dan menggulingkannya tanda menyerah. Didik pun tampil sebagai pemenang.
Pertarungan Didik dan Cholil Kamis (30/8) sore kemarin adalah salah satu aktivitas yang dilakukan di Warung Catur Surabaya. Setiap hari, di warung yang terletak di Jl. Bratang Wetan Surabaya itu berlangsung bertandingan catur. Berbeda dengan pertandingan catur yang biasanya dilakukan sambil lalu, pertandingan catur di Warung Catur Surabaya adalah salah satu “fasilitas” yang disediakan secara khusus oleh warung itu.
Karena itulah, warung Catur Surabaya bisa jadi adalah satu-satunya warung di Indonesia yang menjadikan permainan catur sebagai menu utama. Di warung seluas 200 meter persegi ini, pengunjung bisa menikmati snack dan soft drink sambil bermain catur sepuasnya. “Seperti namanya, di warung inilah pengunjung bisa bermain catur sepuas mungkin, meski hanya memberi secangkir kopi,” kata Wijaya Rusli, pengelola Warung Catur Surabaya.
Kehadiran Warung Catur di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari peran Antonius Harianto. Antonius yang juga Sekretaris Umum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jawa Timur itu adalah orang yang merelakan rumah miliknya di Kawasan Bratang Wetan Surabaya digunakan sebagai warung catur. Ide itu bersambut ketika dilontarkan kepada Wijaya Rusli. Pada 17 Januari 2007, Warung Catur Surabaya pun resmi dibuka.
Hebatnya, meski hanya mendeklarasikan diri sebagai warung dengan modal usaha hanya senilai Rp.2-3 juta, namun Warung Catur Surabaya memiliki agenda jangka panjang yang cukup menantang. Yakni menjaring pecatur-pecatur muda handal dan membangun sekolah catur. Meski dengan cara yang sederhana, yakni mendata pecatur-pecatur yang sering mangkal di tempat itu, dan membentuk sebuah klub catur. Melalui klub catur itulah diperkenalkan aturan-aturan internasional dalam dunia catur.
Seperti penggunaan jam catur bermerk Jerger Schachuhr buatan jerman, hingga melakukan pencatatan (notasi) setiap pertandingan catur. Notasi itu digunakan sebagai sarana mengevakuasi tiap pertandingan yang sudah dilakukan. “Para pecatur akan mengetahui perjalanan pertandingan, termasuk kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan berharap bisa meningkatkan kemampuan pada pertandingan selanjutnya,” ungkap Wijaya.
Dalam waktu yang bersamaan, pecatur muda ditawari untuk belajar lebih jauh tentang catur. Hingga saat ini, jumlah pemain-pemain muda yang menyatakan tertarik untuk belajar catur tergolong banyak. Diperkirakan, pada tahun depan sekolah catur itu akan berdiri.
Selain itu, Warung Catur juga menggelar berbagai event pertandingan catur. Paling tidak, dalam satu tahun, Warung Catur akan menggelar dua pertandingan besar non master. Selama delapan bulan berdiri saja, sudah dua event catur digelar di luar Surabaya. Seperti di Gresik dan Sidoarjo. “Hanya pertandingan catur non master saja, tapi cukup membanggakan bagi kami, karena yang ikut hingga ratusan orang,” ungkap Wijaya. Para pemenang pertandingan non master itu kemudian akan didorong untuk berani beradu nyali dalam pertandingan catur Kategori yang menentukan predikat Master Nasional.
Didik S. Projo, Cholil dan Suhadi adalah penggemar catur yang merasakan manfaat bermain catur di Warung Catur itu. Didik yang sehari-hari adalah pegawai di salah satu perusahaan swasta itu mengaku kehadiran Warung Catur seakan memberi ruang kepada dirinya untuk merealisasikan hobby bermain caturnya. Hampir setiap hari, terutama saat jam makan siang tiba, Didik selalu mampir ke Warung Catur. “Di sela-sela makan siang, saya bermain catur,” kata Didik yang pada Juli 2007 lalu berhasil meraih gelar Master pada pertandingan catur di Surabaya ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.: Halaman Populer
-
Story | Photo | Video Ketika Berlin masih terbelah oleh tembok yang memisahkan Berlin Timur dan Berlin Barat, checkpoint (poin pemeriksaan...
-
Pelecehan terhadap tiga wartawan di Kabupaten Aceh Barat Daya oleh Bupati Abdya Akmal Ibrahim, pada Rabu (21/11) lalu berbuah perlawanan. Ti...
-
Iman D. Nugroho JFC. Jember Fashion Carnaval (JFC)-8 digelar di Jember, Jawa Timur, Minggu (2/8) ini. Dalam event itu, ditunjukkan 600-an ...
-
*Sudah ada beberapa perubahan naskah di tulisan ini. Penggunaan kata "prasejarah", telah dihapus. Dengan ini kesalahan telah diperbaiki. Pe...
-
KEBAKARAN TRUK Sebuah truk tanki pengangkut bahan bakan solar terbakar di Meulaboh, Sabtu (1/12) ini. Dalam kebakaran yang disebabkan oleh p...
.: Tema
Budaya
Sosial
Jurnalistik
Hukum
Politik
Opini
Bencana
Luar Negeri
Pendidikan
Lingkungan Hidup
Olah Raga
Video Klip
Kabar Dari Seberang
Aceh
Kesehatan
Humor
Cerita Pendek
Catatan Netherlands
Mampir Berlin
Timor Barat
Catatan Iman
Kok gitu?
Teknologi Informasi
All about sex
Central Borneo
Second Opinion
Agenda
Hiburan
Jambi Sumatera

