Kolomnis

Diana AV Sasa [Book for Good], Jojo Raharjo [Sport], Fully Syafi [Photo Corner], Balgis Muhyidin [Me and My Family], Syarief Waja Bae [Atmosphere], Agung Purwantara [Nol Kilometer].

Mailing Address: Gubeng Airlangga I no.7 Surabaya, East Java
mobilephone: +62.81.334.075.034 or +62.81.6544.3718
email: iddaily@yahoo.com.
Iddaily[dot]net menerima kiriman antikel, berita, puisi, agenda kegiatan dan foto. Setiap karya yang dirikim dan dimuat, menjadi hak penuh dari pembuat. Kirim ke email: iddaily@yahoo.com




HEADLINENEWS


Semua karya jurnalistik yang anda kirim melalui email iddaily@yahoo.com, akan kami publikasikan di kolom ini. Dilarang mempublikasi seluruh materi di news-blog ini akan tanpa seizin dari pengelola.

27 June 2007

Pengungsi Pasar Porong Tetap "Dicuekin"

Perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pemerintah Propinsi Jawa Timur untuk segera "menyelesaikan" tuntutan pengungsi Pasar Porong ditanggapi dingin oleh pengungsi. Bahkan, pengungsi menilai seruan itu adalah bukti bahwa Presiden SBY tidak memahami "peta" korban lumpur.

"Perintah untuk segera menyelesaian pengungsi masih masih bertahan di Pasar Porong hingga hari ini, adalah bukti bahwa SBY tidak memahami "peta", karena kami menolak Perpres no.14 tahun 2007 yang berisi pembayaran 20 persen ganti rugi. Kami menginginkan 50 persen, karena itu yang paling adil," kata Abimanyu, dari Paguyuban Rakyat Desa Renokenongo yang ada di pengungsian pada The Jakarta Post, Rabu (26/06) ini.

Abimanyu meminta SBY mengetahui bahwa masyarakat korban lumpur Lapindo saat ini sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan. Ada yang sepakat dengan pembayaran 20 persen seperti yang diamanatkan Perpres 14 tahun 2007, ada yang menolak sama sekali, tapi juga ada yang menuntut pembayaran lebih tinggi sekitar 50 persen plus 30 hektar lahan. "Yang sampai saat ini bertahan di pengungsian adalah yang meminta 50 persen plus 30 hektar lahan, kalau mau menyelesaikan, bayar tuntutan kami," kata Abimanyu.

Jumlah 50 persen ganti rugi itu dituntut karena nilai itu adalah nilai yang masuk akan untuk membangun rumah dan memulai membangun sandaran hidup dengan membuka lapangan pekerjaan yang sudah hilang karena lumpur Lapindo. Sementara lahan 30 hektar itu adalah lahan ganti rugi milik warga Renokenongo yang sudah terandam lumpur.

Karena tuntutan yang berbeda itulah, pengungsi di Pasar Baru Porong menilai perintah SBY kepada Pemkab dan Pemprov untuk menyelesaikan tuntutan pengungsi yang hingga saat ini masih bertahan, hampir pasti tidak akan terlaksana. Buktinya, hingga Rabu sore, belum ada satu pun aparat pemerintah yang mendatangi pengungsian untuk mengajak bicara pengungsi. Seperti yang diperintahkan SBY.

Abimanyu khawatir, selama ini SBY mendapat informasi yang salah. Beberapa perwakilan yang mengaku warga korban lumpur dan datang ke Jakarta, termasuk yang datang ke kediaman SBY di Cikeas Bogor, tidak representasi korban lumpur sebenarnya. "Sepertinya ada kesengajaan untuk menutupi fakta sebenarnya kepada SBY, mungkin karena keboborokan penenganan akan terbongkar bila presiden benar-benar paham dengan apa yang terjadi," kata Abimanyu.

Foto: Potret pengungsi di Pasar Baru Porong, Rabu (27/06).


Full Story......

26 June 2007

SBY Hanya Putar-Putar Di Udara Saja,..

HANYA PENGAMATAN UDARA.
Keinginan pengungsi semburan lumpur Lapindo di Pasar Baru Porong untuk bertemu Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Selasa (26/06) ini, kandas. Sekitar pukul 10.10 WIB, SBY dan rombongannya hanya melakukan pengamatan udara di areal semburan dan pond lumpur dengan menggunakan helicopter.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono hanya menyaksikan kondisi pengungsi dan pusat semburan lumpur Lapindo dari udara, Selasa (26/06) ini. Padahal di lokasi pengungsian Pasar Baru Porong, warga sudah siap-siap menyambut SBY dengan demonstrasi menuntut penyelesaian kasus semburan lumpur Lapindo.

Pengamatan udara Presiden SBY dilakukan sekitar pukul 10.10 WIB. Ketika itu, SBY dan rombongannya datang dari base off Lanudal Juanda melalui sisi utara pusat semburan menuju ke selatan. Di atas pond Jatirejo, SBY dan rombongannya berbelok ke arah barat menuju ke lokasi pengungsian di Pasar Baru Porong. Di atas Pasar Baru Porong, dua helicopter putih itu mengarah ke utara, melintas di atas Jalan Raya Porong kembali menuju ke pusat semburan.

Kali ini, dua helicopter itu terbang sedikit lebih rendah. Hampir sejajar dengan asap putih yang terus keluar dari pusat semburan. Terus melintas di atas pond cincin utama dan kembali menuju ke pond Jatirejo, dan melanjutkan ke arah Pasar Baru Porong. Baru kemudian bergerak ke arah utara kembali ke base off Lanudal Juanda.

Saat SBY melintas dua kali di atas pusat semburan dan lokasi pengungsian, Jalan Raya POrong yang biasanya dibuka untuk kendaraan umum, kali ini ditutup total. Bahkan, pusat semburan yang biasanya bebas diakses siapa pun, termasuk wartawan pun kali ini "dibersihkan" dari warga. Pengamatan SBY dari udara ini membuat pengungsi pasar porong kecewa. Mereka menggelar demonstrasi atas hal itu.***

Full Story......

18 June 2007

Sesama Korban Lumpur Bentrok


Dua kelompok korban lumpur panas Lapindo Brantas Inc, terlibat bentrokan di Sidoarjo, Senin (18/06) pagi. Mereka merasa ada upaya untuk mendiskreditkan satu sama lain dan membuat posisi masing-masing kelompok kehilangan kredibilitasnya. Polisi terpaksa melakukan blokade masing-masing kelompok dan memfasilitasinya dalam sebuah pertemuan darurat di tepi jalan.

Bentrokan itu terjadi di perempatan Jl KH Mukmin-Jl Sunandar Priyo Sudarmo, yang berlokasi di tengah kota Sidoarjo. Ketika itu, massa Perumahan Tanggulangin Angun Sejahtera (Perumtas) akan berdemonstrasi di depan kantor Tim 16. Tim 16 adalah perwakilan warga yang dibentuk untuk menyalurkan aspirasi warga korban lumpur dari empat kecamatan di Porong Sidoarjo yang menjadi korban lumpur.

Namun dalam perjalanannya, Tim 16 dianggap tidak menyalurkan aspirasi masyarakat. Bahkan, cenderung membela kepentingan Lapindo Brantas Inc dan Pemerintah, serta mengabaikan keinginan warga. Bahkan, warga merasakan adanya upaya dari oknum Tim 16 yang mencoba mencari keuntungan dengan memanfaatkan proses administrasi warga korban lumpur. "Seperti menjual surat verifikasi yang seharusnya diberikan gratis kepada warga, malah dijual seharga Rp.160 ribu," kata Hendro, warga Perumtas pada The Post.

Yang paling menyakitkan, Tim 16 mengirim surat ke Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai pihak yang selama ini menjalankan proses teknis pembayaran ganti rugi, untuk tidak percaya "kelompok" lain selain Tim 16. "Inikan berarti Tim 16 ingin mengatakan bahwa kelompok yang tidak sepakat denan kebijakan Tim 16 adalah kelompok liar," kata Hendro. Karena itulah, Senin ini warga melakukan demonstrasi di kantor Tim 16, dan berunjung bentrokan.

Sementara itu berdasarkan pengamatan The Jakarta Post di areal lokasi pembuangan lumpur ke Kali Porong atau spillway, lumpur dari penampungan semakin deras dan tidak mampu lagi dikendalikan. Ketinggian lumpur sudah mampu merendam jembatan darurat balley, yang menghubungkan Desa Mindi dan Desa Besuki. Padahal jembatan itu adalah akses satu-satunya bagi ribuan warga Besuk bila ingin keluar dari desanya menuju Jalan Raya Porong.

Kondisi itu membuat warga di sekitar spillway ketakutan. M. Soleh, warga pajarakan terpaksa melakukan evakuasi barang-barang miliknya. Dia khawatir, dalam waktu dekat, lumpur akan mulai menerjang desanya dan menenggelamkan semuanya. "Dari pada terlambat, kami memilih untuk menyelamatkan barang-barang dulu," kata M.Sholeh pada The Post. Istri yang yang sedang hamil empat bulan dan seorang anaknya pun rencananya akan diselamatkan. "Tapi saya masih belum pasti akan kemana,..," katanya.

Teks Foto: Jembatan yang mulai terendam lumpur.

Full Story......

17 June 2007

Memilih Untuk "Jamuran"

Jamuran, bagi kebanyakan orang adalah kondisi yang sangat mengganggu. Berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan tumbuhan parasit itu. Namun, tidak bagi penduduk Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Karena tumbuhnya jamur, berarti meningkatnya taraf hidup bagi masyarakat di daerah yang pada masa lalu dikenal sebagai kawasan maling kendaraan bermotor itu.

Kaiman adalah salah satu penduduk Bulukambang yang menggantungkan hidupnya pada jamur. Melalui budidaya jamur Tiram Putih, laki-laki berusia 47 tahun itu berhasil keluar dari krisis keuangan yang menderanya. Tidak hanya itu, jamur juga membuat bapak dua anak ini menjadi budidayawan sukses dengan 10 tenaga kerja. "Jamur benar-benar merubah hidup saya dan keluarga," katanya pada The Jakarta Post, Sabtu (16/06) ini.

Perkenalan Kaiman dengan jamur, berawal dari sulitnya kondisi keuangan keluarga pada tahun 2005. Ketika itu, menurunnya jumlah penyewa truk, membuat Kaiman tidak mampu lagi menghidupi keluarga dari penghasilan sebagai sopir truk. "Selama 15 tahun menjadi sopir truk, tiba-tiba saya harus berganti pekerjaan, bingung sekali saya saat itu," kenang Kaiman. Di tengah kebingunannya, seorang teman asal Blitar, Jawa Timur memberi ide untuk membudidayakan jamur.

Meski sempat ragu, Kaiman memilih untuk mempelajari proses pembiakan jamur. Merasa masih kurang mahir, Kaiman pergi ke rumah seorang kenalannya di Wonosobo, Jawa Tengah untuk memperdalam ilmu per-jamuran. "Selama beberapa minggu saya di Blitar dan Wonosobo untuk belajar, tapi sepertinya belum cukup," kata Kaiman. Setiap praktek di rumahnya di Bulukandang, hanya kegagalan yang diperoleh.

Meski begitu, Kaiman bersikeras untuk terus mencoba. Surat kendaraan bermotor miliknya dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman sejumlah Rp.10 juta dari bank. Sejumlah Rp.6 juta digunakan untuk membeli peralatan pembiakan jamur, seperti membeli alat sterilisasi, plastik tempat pembiakan dan membangun kumbung (bangunan khusus dari anyaman bambu-red). Sisanya, digunakan untuk membeli bahan-bahan pembuat jamur, seperti agar-agar, gula, kentang dan air suling.

Setiap malam, laki-laki bertubuh ceking itu meluangkan waktu untuk membuat benih jamur. Dengan mencampur agar-agar, gula, kentang dan air suling dalam sebuah panci, dan direbus hingga 10 jam lamanya. Selalu saja ada kesalahan produksi. Mulai hasil pembibitan benih yang terlalu asam sampai benih tidak tumbuh sempurna. "Beberapa bulan mencoba, hasilnya selalu tidak maksimal, hanya cukup untuk makan sebulan saja, belum lagi dipotong untuk membayar cicilan bank," katanya.

Keberuntungan mulai berpihak pada Kaiman setelah bulan keenam. Setiap bibit jamur yang disemainya, tumbuh sempurna. Bahkan, di bulan keenam itu juga, Kaiman menerima order sebanyak 10 ribu baklok (sebutan untuk satu buah benih jamur-red). Padahal ketika itu, jumlah jamur milik Saiman hanya 1000 baklok. "Terpaksa order itu harus saya tolak, meski begitu, pada bulan keenam, saya sudah balik modal," katanya.

Semakin lama, budidaya jamur milik Kaiman terus meroket. Pada tahun 2006, dirinya terpilih sebagai salah satu pengajar pelatihan budidaya jamur yang diadakan HM. Sampoerna bagi warga Bulukandang. Sejak saat itu, ada 40 keluarga di desa itu yang membuka usaha budidaya serupa. Kaiman sendiri, memilki 10 pekerja. "Saya merekrut pemuda-pemuda desa yang dulu banyak berprofesi sebagai maling sepeda motor, karena mereka pengangguran," katanya.

Selain membuka kursus mengajar, HM. Sampoerna juga memberikan bantua modal berupa 1000 baklok bibit jamur senilai 30 juta bagi 20 kepala keluarga. Masing-masing keluarga mendapatkan Rp.1,5 juta. Dengan sistem pembayaran 50:50 untuk setiap jamur yang berhasil dipanen. "Hampir seluruh petani jamur di Bulukandang bekerjasama untuk budidaya dan pemasaran jamur," kata Kaiman yang kini sudah memiliki dua kumbung seluas 20x70 m2. Penghasilan bersih yang didapatkannya mencapai Rp.7,5 juta/bulan.

Dalam pengamatan The Jakarta Post, setiap kumbung terdiri dari dua ruangan yang memiliki fungsi beragam. Ruangan pertama khusus digunakan untuk pembiakan bibit jamur dan pencampuran bibit itu dengan ketam (sisa penggergajian kayu). Sementara ruang kedua yang tertutup dari cahaya sinar matahari, digunakan sebagai tempat perkembangan jamur. Keseluruhan proses pembibitan hingga panen, dibutuhkan waktu selama 45 hari.

Kaiman mewakili penduduk Bulukandang yang menggantungkan hidupnya dari budidaya jamur mengharapkan pemerintah bersedia mengucurkan dana pinjaman lunak untuk mereka. Dana itu akan digunakan untuk pengembangan budidaya jamur, guna memenuhi kebutuhan permintaan jamur yang menunjukkan peningkatan. "Kami terpaksa menolak tawaran eksport ke Taiwan dan China sebanyak 5 kwintal perminggu, karena tidak ada modal untuk menaikkan produksi," katanya. Sementara ini, Jamur Bulukandang dipasarkan hanya di sekitar Kabupaten Pasuruan. Seperti Surabaya, Malang, Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan sendiri.

Sebuah perusahaan pengelola lapangan golf Taman Dayu di Prigen adalah salah satu menjadikan jamur Bulukandang sebagai andalan menu. Taman Dayu yang juga tetangga desa Bulukandang sekaligus menjadikan budidaya jamur Bulukandang sebagai target CSR."Kami ingin masyarakat Bulukandang tidak hanya memiliki kemampuan membudidayakan jamur, tapi bagaimana mereka mampu memasarkannya," kata J.Johny Budiono, General Manager Taman Dayu.

Karena itu, Taman Dayu sedang berupaya untuk melakukan berbagai pelatihan manajeman dan pengemasan jamur. Pada titik akhirnya, akan ada peningkatan pendapatan bagi masyarakat Bulukandang. "Kalau jamur dijual dalam kemasan yang bagus, mungkin akan lebih menguntungkan daripada dijualmentahan saja," kata Johny. Di Taman Dayu, jamur Bulukandang disajikan sebagai menu masakan, bersanding dengan menu Eropa dan China yang ditawarkan di tempat itu.

Full Story......

15 June 2007

KA Penataran Anjlok


ANJLOK. Kereta Api Penataran jurusan Blitar-Surabaya, anjlok di Gedangan Sidoarjo, Kamis (15/06) ini. Kejadian itu sempat membuat jalur kereta api lewat selatan terganggung beberapa jam. Hingga siang ini, evakuasi masih dilakukan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Full Story......

Retrolide Level 42


RETROLIDE. Penggemar jazz Surabaya dihibur oleh kehadiran grup jazz asal Inggris Level 42, Kamis (14/06) malam di Hotel Shangri-La. Malam itu, grup yang dimotori oleh Mark King sebagai bassis dan vokalis itu benar-benar memuaskan publik jazz Surabaya. Kehadiran Level 42 sekaligus mempromosikan album terbarunya, Retrolide.

Full Story......

11 June 2007

Menjaga "Rumah Bersalin" Penyu di Pantai Sukamade

Mendung tebal memayungi Pantai Penyu Sukamade, Banyuwangi, Jumat (8/6/2007) malam ini. Bintang-bintang yang tersebar di langit, hanya sesekali menunjukkan wajahnya, setelah itu kembali tenggelam dalam gulungan mendung. Pantai pun gelap gulita. Di antara gelapnya malam itu, dua Polisi Hutan Resort Sukamade terus beraktivitas. Menjaga pantai yang selama ini menjadi "rumah bersalin" penyu.

Pantai penyu Sukamade di Banyuwangi dan Pantai Puger di Jember, adalah dua pantai di Jawa Timur yang sering dijadikan lokasi pendaratan penyu liar untuk bertelur. Namun, sejak beberapa tahun lalu, hanya pantai Sukamade yang masih eksis dikunjungi penyu. Hampir setiap malam, selalu ada penyu yang "mampir" ke pantai yang berjarak 239 KM dari Ibukota Jawa Timur Surabaya itu. Untuk bertelur, atau sekedar bermain-main di pasir pantai.

Dalam catatan tahun 2006 lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan ProFauna Indonesia, pelanggaran hukum terhadap binatang penyu terus terjadi. Pada itu, Polisi Air Polda Bali menangkap 2 kapal yang mengangkut ratusan penyu. Bahkan, di tahun yang sama, Kepolisian Nusa Tenggara juga menangkap satu kapal yang berusaha menyelundupkan penyu.

Investigasi yang dilakukan ProFauna Indonesia menghasilkan data beragamnya cara perdagangan penyu. Mulai perdagangan dalam bentuk daging, telur, karapas dan souvenir yang terbuat dari bagian tubuh penyu. Pantai Puger Jember, sebagai satu rangkaian pantai SUkamade adalah salah satu pusat penjualan ilegal penyu. Selain itu, pergadangan juga dilakukan di Pantai Teluk Penyu Cilacap Jawa Tengah, Pangandaran Jawa Barat, Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Pangumbahan Sukabumi dan Pantai Samas Yogyakarta.

Telur penyu, menjadi salah satu bagian dari kehidupan penyu yang paling banyak diperdagangkan. Selain, minyak penyu, souvenir terbuat dari penyu dan daging penyu. Penyu jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu lengkang (Lepidochelys olivacea) adalah jenis penyu yang sering dijual bebas.

Setiap tahun, sekitar 1000-2000 ekor penyu dibunuh untuk dijual. Puluhan lain tertangkap tidak sengaja oleh nelayan yang kemudian membunuhnya. Hal itu jelas bertentangan dengan UU Nomer 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi. Ancaman pelanggaran pasal ini adalah hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Di Banyuwangi sendiri, telur penyu banyak dijual di Pasar Kota Banyuwangi dan Pasar Kecamatan Jajag, Banyuwangi. Biasanya pedagang menawarkan dagangannya di pagi hari, secara diam-diam. Meskipun beberapa tahun belakangan jumlah penjual telur penyu jauh berkurang. "Sudah beberapa tahun ini sudah sulit mendapatkan telur penyu, kalau pun ada jumlahnya sedikit dan sangat mahal," kata Bambang, penduduk Sarogan pada The Post. Satu butir telur dijual Rp.1500-2000/butir.

Dengan semangat untuk melindungi telur penyu dari tindak pencurian itulah, patroli polisi hutan dilakukan setiap hari. Termasuk di pantai penyu Sukamade. Tepatnya pada malam hari, waktu di mana penyu mendarat di pantai dan bertelur. Patroli biasa dimulai sekitar pukul 19.00 WIB hingga menjelang waktu terbitnya matahari.

Jumat malam lalu, The Jakarta Post mengikuti proses penjagaan pantai bersama dua petugas polisi hutan Resort SUkamade, Slamet dan Jumadi. Di tengah gelapnya malam, dua polisi hutan itu mengawali penjagaan dengan perjalanan menembus hutan bakau, satu-satunya jalan menuju pantai penyu. Setelah itu, keduanya menggunakan gethek (perahu bambu) untuk menyeberangi Kali Gethek seluas 20-an meter.

Sesampainya di bibir pantai, keduanya berbagi tugas. Dua orang petugas berjaga di sisi barat dan timur pantai yang berjarak 3,5 KM. Berjalan di pantai penyu pada malam hari hanya diterangi cahaya bulan dan bintang. Remang-remang, bisa terlihat banyaknya bekas-bekas jalur pendaratan penyu di pasir pantai. Termasuk beberapa lubang bekas sarang telur.

Salah satu standart operation procedure (SOP) dalam penjagaan penyu adalah tidak diperbolehkan menyalakan kegiatan yang menghasilkan cahaya. Seperti senter dan menyalakan api. Penyu adalah binatang yang sensitif dengan cahaya lampu. Penyu akan mengurungkan niatnya untuk mendarat bila insting mereka menganggap cahaya adalah tanda hadirnya "predator" manusia. Senter hanya bisa digunakan bila penyu sudah melakukan aktivitas bertelur.

"Biasanya, pencuri telur penyu beraksi di malam yang gelap seperti ini," kata Jumadi, salah satu Polisi Hutan yang bertugas malam itu. Benar juga. Malam itu, sekitar pukul 00.30 WIB, polisi hutan sempat memergoki beberapa orang yang dicurigai sebagai pencuri telur penyu. Mereka menyaru sebagai nelayan dan pencari ikan. Meski akhirnya mereka dilepas karena tidak ditemukan bukti telah terjadi pencurian telur penyu. "Mereka mengatakan hanya mencari ikan dengan memancing," kata Slamet.

Dalam pengamatan The Jakarta Post, gerombolan yang mengaku pemancing itu terlihat membawa karung dan sekrop (alat penggali tanah). Selain kerasnya medan, keterbatasan peralatan adalah salah satu hambatan yang harus dihadapi polisi hutan. Tidak adanya alat komunikasi berupa handy talky (HT) menjadikan Senter menjadi satu-satunya alat komunikasi yang mereka miliki. Bila ada penyu yang mendarat di pantai, biasanya senter berubah fungsi sebagai alat morse untuk memberitahu petugas yang lain. "Nyala tiga kali berarti ada penyu yang mendarat, itupun dilakukan kalau penyu benar-benar sudah bertelur," kata Slamet.

Tidak adanya senjata api, tidak membuat nyali polisi hutan surut. Meski mereka mengaku akan mengalami kesulitan bila ada pelaku menyerangan yang menggunakan senjata tajam, bahkan senjata api rakitan. "Anda bisa lihat sendiri, malam membuat kita tidak bisa melihat sekeliling, kalau ada tembakan, bagaimana kita membalasnya?" kata Slamet.

Ketua LSM ProFauna Indonesia Asep R. Purnama mengatakan, penjagaan yang dilakukan polisi hutan sangat tidak evektif. Tidak adanya fasilitas yang memadai, membuat penjagaan itu sia-sia. Tidak adanya perahu karet untuk melakukan pengejaran di laut misalnya akan menyulitkan pengejaran. "Aktivitas pencurian itu dilakukan lewat laut, polisi hutan di Sukamade tidak memiliki perahu itu, apa mau berenang!" kata Asep R. Purnama pada The Post.

Juga kondisi pantai Sukamade yang sangat mudah dijangkau baik melalui jalan darat susur pantai, maupun dengan perahu nelayan, membuat celah pencurian terus terbuka. Belum lagi jumlah petugas yang sangat sedikit. Untuk mengamankan resort Sukamade yang luasnya 10 hektar lebih, hanya ada tujuh petugas. Lima polisi hutan dan dua Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). "Mutlak harus ada penambahan petugas penjagaan," kata Asep.

Dan Telur Pun Menjadi Tukik

Menjaga pantai penyu Sukamade, berarti pula menjaga salah satu siklus terpenting dalam perkembanganbiakan penyu. Mulai menjaga agar kawasan pantai penyu Sukamade tetap nyaman bagi penyu, sampai menjaga penyu agar bisa bertelur dengan tenang. Selanjutnya, menyelamatkan telur penyu dari predator alami dan membantu penetasan telur menjadi tukik atau anak penyu.

Setelah itu, melepaskan kembali tukik-tukik itu ke laut lepas agar berkembang menjadi telur dewasa. Tugas itulah yang menjadi kewajiban pokok Polisi Hutan Resort dan petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Resort Sukamade. Setiap hari, tujuh anggota resort Sukamade secara bergantian menjaga bibir pantai. Bila ada penyu yang mendarat di pantai dan bertelur, dengan cekatan petugas yang kebetulan berjaga saat itu mengambil seluruh telurnya dan membawa ke tempat menetasan di kantor Resort Sukamade yang akrab disebut Wisma Sukamade.

Lokasi penetasan telur terletak di bagian belakang wisma seluas hampir dua hektar itu. Ketika The Post mengunjungi lokasi itu Jumat (8/6/2007) itu ada 57 ember plastik yang berisi 30-80 telur setiap embernya. Setiap hari, keadaan masing-masing telur itu diperiksa dan dicatat. "Telur-telur ini akan berada di ember selama tiga bulan, ketika waktunya tiba, telur akan dipindah ke tempat penetasan yang lebih luas, dan dibiarkan menetas menjadi tukik," kata Jumadi Tukik-tukik itu kemudian dipindah ke ember khusus berisi air laut. Tujuannya untuk memperkenalkan tukik pada ekosistem laut.

Bila jumlahnya mencapai ratusan ekor, baru kemudian tukik-tukik itu dilepas ke laut. "Bisa saja melepas tukik-tukik itu sejak awal, namun banyaknya predator membuat kemungkinan hidup tukik-tukik itu semakin kecil," kata Jumadi. Proses penetasan yang dilakukan polisi hutan dan PEH dinilai keliru oleh LSM ProFauna Indonesia melalui Ketua LSM ProFauna Indonesia Asep R. Purnama. Kepada The Post Asep mengatakan, cara yang selama ini dilakukan polisi hutan itu membuat tukik semakin tidak mengenal lingkungannya. Bahkan, cara yang tidak alami itu membuat tukik tidak bisa survive di alam bebas.

"Seharusnya, tukik-tukik itu dibiarkan menetas di pantai tempat induknya menetas, dan dibiarkan langsung kembali ke alam bebas," kata Asep. Hal itu mutlak dilakukan. Karena ada mekanisme alamiah dari tukik utuk mengenali tempat ia ditetaskan. Insting itu juga yang kemudian dipakai panduan untuk kembali menemukan lokasi tempat ia dilahirkan, bila tukik itu sudah tumbuh menjadi penyu dewasa yang siap bertelur. "Kalau dia ditetaskan di darat, maka tukik akan kehilangan kesempatan untuk mengenali pantai tempat ia ditetaskan, dia akan kesulitan menjadi tempat bertelur di kemudian hari," jelas Asep.

Cara penanganan telur penyu hingga menjadi tukik yang paling ideal, menurut Asep, bisa dilakukan dengan cara yang diperkenalkan Prof. Colijn Lympus asal Selandia Baru. Profesor yang serius melakukan penelitian soal penyu ini memiliki lahan khusus yang sengaja diisolasi untuk pendaratan dan peneluran penyu. Isolasi itu termasuk menjauhkan telur penyu dari predator alami dan predator tidak alami, seperti manusia.

Atau, ProFauna menawarkan sistem ecoturism. Menjadikan ekosistem sebagai daya tarik turis. Cara ini, melibatkan masyarakat sekitar pantai tempat pendaratan penyu. "Masyarakat akan merasa memiliki pantai penyu itu, sekaligus menjadi bagian dari kelompok yang menjaga kealamian penyu, karena kealamian itu yang juga bisa dijual sebagai daya tarik, yang pada ujungnya akan menguntungkan warga sekitar juga," kata Asep.

Serunya Perjalanan Ke Pantai Penyu


Pantai penyu Sukamade terletak di bagian selatan Kota Banyuwangi. Lokasi ini adalah bagian dari Taman Nasional Meru Betiri (TMNB) seluas 55.845 ha. Untuk menjangkau pantai ini, perjalanan bisa dilakukan dari Surabaya melalui Kabupaten Jember, dan diteruskan ke Kecamatan Jajag-Pesanggaran-Sorogan-Sukamade. Dari arah Denpasar, Sukamade bisa dijangkau melalui Kabupaten Banyuwangi, dilanjutkan menuju menuju Kecamatan Jajag-Pesanggaran-Sorogan-Sukamade. Keseluruhan perjalanan bisa mencapai 6 jam perjalanan darat.

Tanpa menggunakan kendaraan pribadi berjenis off road, perjalanan ke Pantai Penyu Sukamade, Banyuwangi sangat menyusahkan. Angkutan umum yang terjadwal secara pasti, hanya bisa didapatkan hingga kawasan Pesanggaran. Setelah itu, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan truk bak terbuka langsung menuju ke Sukamade.

Truk, yang oleh masyarakat sekitar disebut "taksi" itu adalah satu-satunya kendaraan umum yang bisa menembus medan terjal menuju Sukamade. Selain mengangkut penumpang, truk ini juga digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan di daerah itu. Seperti cokelat, kelapa, karet, kopi dan kayu. Tidak jarang, truk yang sama digunakan untuk mengakut ternak yang akan dijual ke kota.

Ada empat unit "Taksi" Sukamade yang memiliki jadwal sekali jalan. Pada pukul 6.30 WIB, truk akan berangkat dari Sukamade menuju ke Pesanggaran yang berjarak 35 KM, dengan memakan waktu tiga jam perjalanan. Pukul 13.00 WIB, truk akan kembali ke dari Pesanggaran menuju Sukamade. "Itu kalau ada penumpang yang naik, kalau tidak ada penumpang, biasanya truk tidak akan jalan," kata Kariyono, salah satu pengemudi truk.

Ketika The Jakarta Post ke Sukamade Jumat ini misalnya, tidak ada truk yang melayani trayeknya. Pilihan kedua jatuh pada angkutan pedesaan berubah mobil station yang memiliki jalur Pesanggaran-Sorogan yang berjarak 18 KM. Tidak seperti angkutan di perkotaan, angkutan pedesaan jenis bemo ini tidak akan berangkat bila tidak full terisi penumpang. Selain penumpang, angkutan pedesaan juga melayani pengiriman barang belanjaan milik penduduk setempat. Sesampainya di Sarongan, biasanya bisa dilanjutkan dengan ojek sepeda motor.

Jalan turun-naik berbatu cadas sepanjang 17 KM plus menyisiri jurang di kanan kiri, menjadi warna perjalanan ke Sukamade. Pengunjung selain penduduk asli setempat diwajibkan mengisi buku tamu di Pos Penjagaan Perkebunan Sukamade. Dari pemukiman Sukamade, perjalan dilanjutkan dengan menembus kebun kopi sepanjang 4 KM. Kali ini perjalanan bisa dilakukan dengan menyewa sepeda motor atau berjalan kaki, menyeberangi Sungai Gethekan selebar 7 meter dengan kedalaman 40 cm. Di sungai ini seringkali membuat mogok sepeda motor yang nekad menyeberang.

Wisma Sukamade adalah pos terakhir sebelum masuk ke kawasan pantai. Di wisma inilah, Polisi Hutan dan petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) berkantor. Di tempat ini juga, proses pengumpulan dan penetasan telur penyu terjadi. Penyu-penyu yang sudah ditetaskan dilepaskan kembali ke laut lepas. Dari Wisma Sukamade ke pantai berjarak 300 meter. Menembus hutan bakau dan kembali menyeberangi sungai Gethek.

Full Story......

10 June 2007

"Rumah Bersalin" Penyu Itu,..


Pantai Penyu Sukamade, Banyuwangi Jawa Timur tetap menjadi salah satu "rumah bersalin" penyu liar. Di pantai inilah, hampir setiap hari ada penyu yang bertelur. Berharap suatu saat, telur-telur itu akan menetas menjadi tukik (anak penyu). Dan bila waktunya tiba, tukik-tukik itu tumbuh menjadi penyu dewasa dan berenang menjelajahi samudera. Ironisnya, manusia tercatat sebagai salah satu predator utama yang mampu membuyarkan siklus itu. Hingga kini, proses pencurian telur penyu masih berlangsung. Hmmm,..


Keindahan pantai penyu Sukamade, Banyuwangi, menyimpan pesona kealamian lain yang lebih dari sekedar pemandangan alam: Rumah Bersalin Penyu.


Untuk sampai ke pantai penyu Sukamade, Banyuwangi, harus ditempuh dengan menggunakan gethek (perahu bambu).


Jenis pasir, suhu dan faktor kealamian lain yang membuat penyu merasa pas bertelur di pantai penyu Sukamade, Banyuwangi.


Banyaknya kasus pencurian telur penyu, membuat Polisi Hutan melakukan penjagaan pantai penyu Sukamade, Banyuwangi.

Jejak-jejak penyu banyak ditemukan di pantai penyu Sukamade, Banyuwangi.

Polisi Hutan Resort Sukamade, Banyuwangi memeriksa setiap sarang peneluran penyu.


Telur-telur yang dikumpulkan di tempat penetasan Resort Sukamade, Banyuwangi


Tukik Penyu yang siap dilepaskan di laut lepas.


Full Story......

07 June 2007

Mahasiswa Korban Lapindo Bersaing Untuk Mendapatkan Beasiswa

Bantuan untuk korban semburan lumpur panas Lapindo Brantas Inc terus mengalir. Kali ini datang dari Singapore Airlines melalui program Singapore Airlines untuk Pendidikan (SIAP). Salah satu bentuknya dengan memberi beasiswa kepada mahasiswa berprestasi yang kesulitan untuk melanjutkan studinya karena masalah keuangan keluarga akibat bencana lumpur Lapindo.

Seleksi dengan wawancara dilakukan oleh tim panel SIAP pada tanggal 7-8 Juni 2007 di Surabaya. Sejumlah 70 kandidat dari beberapa universitas di Jawa Timur, seperti Universitas Airlangga, Institut Teknik 10 Nopember, Universitas Brawijaya, STIE Perbanas, Universitas DR. Soetomo, dan Universitas Negeri Surabaya hadir dalam test lanjutan itu.

Program SIAP telah memasuki tahun terakhir dari periode tujuh tahun, sejak dimulai tahun 2001-2002. Target SIAP pada tahun ke-tujuh ini adalah untuk menawarkan beasiswa kepada pelajar di Surabaya, Malang dan daerah sekitarnya. Beasiswa diberikan agar mahasiswa dapat tetap berkonsentrasi pada pendidikannya, walaupun sedang mengalami masalah karena bencana lumpur panas Lapindo.

“Beasiswa SIAP bertujuan untuk memberi bantuan keuangan kepada mahasiswa dari latar belakang ekonomi sederhana dan memiliki potensi akademik tinggi, yang tanpa bantuan pihak ketiga akan mengalami kesulitan untuk melanjutkan studinya,” jelas General Manager Indonesia Singapore Airlines, Lee Eugene. Beasiswa akan diberikan selama satu tahun penuh.

Program Beasiswa SIAP merupakan program komunitas dari Singapore Airlines untuk Indonesia. Ini adalah program tujuh tahun dengan total alokasi dana sebesar Rp 10 miliar. SIAP diluncurkan tahun 2000-2001 di Jakarta (UI dan IPB), tahun berikutnya seleksi dilakukan di Surabaya (ITS dan Airlangga) dan di Yogya – Solo (UGM & UNS) di tahun 2004. Manado (Universitas Samratulangi dan Universitas Klabat) pada tahun 2005, dengan kunjungan terakhir pada tahun 2006 ke Bandung (Universitas Pajajaran, Universitas Pasundan, Universitas Pendidikan Indonesia dan Institut Teknologi Bandung).

Pada tahun 2002, beasiswa SIAP ditawarkan kepada mahasiswa di Surabaya. Tiga puluh tiga mahasiswa dari ITS dan Unair menerima bantuan keuangan untuk menyelesaikan pendidikan tingginya. Tahun ini, karena terjadi bencana Lapindo, Singapore Airlines memutuskan untuk menawarkan beasiswa kepada mahasiswa dari Surabaya.

Hingga saat ini, secara akumulatif sebanyak 427 mahasiswa dari 12 universitas menerima beasiswa SIAP. Selain itu masih ada 2.336 pelajar SD hingga SMU yang menerima beasiswa SIAP. Seluruhnya ada 2763 pelajar dan mahasiswa yang telah menerima beasiswa SIAP.

Full Story......

Korban Semburan Lumpur Lapindo Mengadu Ke KPK

Sekitar 200 orang korban semburan lumpur Lapindo Brantas Inc mengadu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (6/6) ini di Surabaya. Mereka melaporkan adanya indikasi penyelewengan dana dengan mengatasnamakan penanganan korban lumpur Lapindo. Termasuk adanya pungutan-pungutan liar oleh pemerintah yang dibebankan kepada korban lumpur. Jumlah dana yang tidak jelas penggunaannya itu mencapai Rp.1,3 trilyun.

Pengaduan korban Lumpur Lapindo kepada KPK itu dilakukan dua kelompok, dan diterima Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK Junino Yahya, Deputi Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Eko Soesanto dan Deputi Peyelidikan KPK Iswan Ilmi. Kelompok pertama mewakili warga Renokenongo, POrong yang saat ini menjadi pengungsi di Pasar Baru Porong.

Mereka memperjuangkan hak 2800 jiwa yang sampai detik ini menolak pembayaran ganti rugi 20 persen. Pembayaran itu dianggap tidak adil dan cenderung menyengsarakan masyarakat korban lumpur Lapindo. Kelompok lain mewakili warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) dan warga empat desa yang hingga kini belum dimasukkan ke dalam wilayah yang akan memperoleh ganti rugi.

Sunarto, 46, warga Renokenongo mengatakan, hingga kini ada 2800 jiwa di lokasi pengungsian Pasar Baru Porong yang menolak ganti rugi 20 persen. Karena ganti rugi senilai 20 persen itu hanya cukup untuk memberli tanah petak, tanpa bisa membangun lagi perekonomian masyarakat yang hilang karena lumpur menerjang. "Banyak warga Renokenongo yang terpaksa menerima ganti rugi 20 persen itu, akhirnya hidupnya terlunta-lunta, bahkan akhirnya menjadi pengemis," kata Sunarto.

Warga pernah menawarkan konsep ganti rugi relokasi mandiri. Yaitu dengan memberikan uang muka 50 persen dari seluruh kerugian, dan memberiarkan masyarakat mencari rumah dan membangun perekonomiannya secara mandiri. Mayoritas masyarakat sepakat untuk merelokasi diri ke Kabupaten Pasuruan. "Ketika hal ini kami ungkapkan ke Pt. Minarak Lapindo Jaya, justru mereka (PT. Minarak Lapindo Jaya-red), menolak ide ini dan bersikukuh untuk merelokasi kami ke kawasan Sidoarjo Baru, padahal harga tanah di sana lebih mahal, kok malah pilih tanah yang mahal?" kata SUnarto.

Juga persoalan pemberian jatah makan yang senilai Rp.5000,-/orang/sekali makan, yang kenyataannya, jenis makanan yang dibagikan hanya seharga Rp.2000,-. Ketika pengungsi mereaksi dengan menuntut jatah makan itu diberikan dalam bentuk uang, justru pihak Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menolak. "Ada ada ini, mengapa Pemkab Sidoarjo meminta untuk mengatur keuangan jatah makan pengungsi? Kami minta KPK menyelidiki hal ini," kata Sunarto.

Yunianto Wahyudi mewakili warga Perumtas mengungkapkan adanya berbagai persoalan ketidakjelasan penggunaan dana yang mengatasnamakan penanganan korban lumpur Lapindo. Yunianto mencontohkan tindakan DPRD Jawa Timur yang menggunakan dana APBD Jawa Timur untuk pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Lumpur Lapindo tanpa kejelasan hasil. Padahal, Pansus Lumpur DPRD Jawa Timur itu sudah menggunakan uang APBD untuk menggelar sebagai seminar di Jakarta. "Siapa yang akan mengusut penggunaan dana itu kalau bukan KPK," kata Yunianto.

Kecurigaan penyelewengan dana juga terlihat pada penanganan lumpur yang dilakukan aparat Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, melalui dana pengamanan. Jumlah dana itu mencapai Rp.225 juta. Hingga kini, tidak pernah ada perincian penggunaan dana yang oleh warga disinyalir dibagi-bagi kepada aparat terkait dari berbagai instansi itu. "Cara pembagiannya dengan cara memmark-up jumlah tanah yang digunakan untuk menanggul," kata Yunianto.

Sementara Nurhadi, yang mewakili empat desa mengungkapkan tidak dibagikannya dana gagal panen dan dana evakuasi yang mencapai Rp.800 juta. Padahal, dana itu seharusnya diterima masyarakat Desa Mindi, Kedungcangkring, Desa Pajarakan dan Desa Besuki yang mengalami gagal panen. "Saya pernah ditelepon orang BPLS dan meminta saya untuk tidak mendorong demonstrasi, sebagai gantinya, warga empat desa akan diberi uang kompensasi gagal panen, sejumlah Rp.100 juta, lalu kemana sisa Rp.700 juta yang seharusnya jga dibagikan?" ungkap Nurhadi.

Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Junino Yahya mengatakan, KPK tidak akan memberikan harapan muluk-muluk kepada warga korban Lumpur Lapindo. Apalagi KPK melihat masyarakat korban meminta KPK untuk mengusut semua dugaan korupsi yang mungkin terjadi. "KPK hanya akan memeriksa data-data menyangkut dugaan korupsi yang dilakukan aparat negara dan penegak hukum, selebihnya tidak," kata Junino.

Untuk mempercepat dan mempermudah penanganan, KPK meminta masyarakat memberikan semua data dan informasi menyangkut dugaan korupsi kepada KPK. Jika bukti permulaan itu sudah cukup untuk menjerat aparat negara dan penegak hukum yang terlibat korupsi, maka berkas akan segera dilimpihkan ke Kejaksaan. "Semakin lengkap laporang, semakin matang penanganannya," kata Junino.

Full Story......

02 June 2007

Mengadu Pada Patung



MENGADU PADA PATUNG. Aktifis dari Angkatan Muda Muhammadyah (AMM) Jawa Timur berdemonstrasi di rumah Dinas Pangarmatim Laksda Mukhlas Sidik, Sabtu (2/6) ini di Surabaya. Selain memberikan karangan bunga duka cita atas penembakan warga sipil di Pasuruan, demonstran juga mengadu ke pada Patung "Bapak TNI" Jenderal Sudirman, yang terletak di depan rumah dinas itu.

Full Story......

Kutipan Hari Ini