06 December 2006

Sebenarnya, Perjuangan Belum Selesai

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


SEEKING COMPENSATION: Residents of Jatirejo, Kedungbendo, Siring and Renokenongo villages stage a protest at the Sidoarjo Regency office in East Java on Monday, seeking compensation for their mud-swamped homes. Lapindo Brantas, which operates the leaked gas well site in the area, eventually complied.

03 December 2006

Korban Ledakan Lapindo Menjadi 13 Orang

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Photo by Reuters/Yahoo

Jumlah korban tewas pasca meledaknya pipa gas Pertamina di sekitar lokasi semburan lumpur panas dan gas beracun Lapindo terus bertambah. Minggu (3/11) dini hari ini, Eko Riyandi,43, salah satu korban terparah yang dirawat di RSU Dr.SOetomo Surabaya meninggal dunia. Luka bakar di tubuhnya yang mencapai 52 persen dan menciptakan kegagalan multi organ (multy organ failure) membuat Eko tidak tertolong.

Juru bicara RSU Dr.Soetomo, Dr.Urip Murtejo mengungkapkan multy organ failure adalah penyebab utama meninggalnya Eko. Upaya dokter untuk menyelamatkan nyawa Eko gagal karena terlalu banyak organ yang rusak. "Akhirnya Eko meninggal dunia Minggu malam sekitar pukul 02.00 WIB," kata Dr. Urip Murtejo pada The Jakarta Post, Minggu (3/11) ini. Kematian Eko mengejutkan tim dokter yang merawatnya. Karena sejak pertama diwarat di RS itu, Eko selalu menunjukkan perkembangan positif.

Seperti diberitakan The Jakarta Post sebelumnya, ledakan pipa gas Pertamina yang terjadi Rabu (23/11) lalu di Porong, Sidoarjo menyebabkan tujuh orang tewas seketika. Sejumlah 14 orang dirawat di RS karena luka-luka di sekujur tubuhnya. Dua korban luka terparah Andri Kuntoro (Karyawan perusahaan keamanan Fergaco) dan Eko Riyandi (Karyawan CV. Guna Bangun Pratama) dirawat di RSu. Dr. Soetomo Surabaya, sementara sisanya dirawat di RSUD Sidoarjo.

Dalam keterangan persnya, Dr.Urip Murtejo mengatakan dua pasien yang dirawat di RS tempatnya bekerja menjapai 50-80 persen. "Kondisinya parah karena blast injuries 50-80 persen, kita khawatirkan akan terjadi multy organ failure, namun semoga seja tidak terjadi," kata Urip. Namun harapan tinggal harapan, Andri Kuntoro menghembuskan napas terakhir pada Rabu (29/11) lalu. Dan Eko Riyandi menyusulnya pada Minggu ini.

Keluarga Eko sangat terpukul dengan kematian petugas supervisi tanggul utama proyek penanggulangan semburan lumpur Lapindo ini. Apalagi, ketika peristiwa itu terjadi, istri Eko Nurul Hasanah sedang hamil tua. Bahkan, Sabtu malam menjelang kematian Eko, Nurul sedang mempersiapkan kelahiran anak ketiganya di Malang, Jawa Timur. Tuhan berkehendak lain, belum juga bayi itu lahir, Eko meninggal dunia, meninggalkan Nurul dan dua anaknya, Rio Adam F,10, dan Firda Amalia Hapsari,12. Jenazahnya dikebumikan di daerah Candi, Sidoarjo.

Sementara itu, hingga Minggu ini semburan lumpur Lapindo masih terjadi. Tol Porong-Gempol yang tertutup luberan lumpur dari pond utama pasca ledakan masih tidak bisa digunakan. Upaya pencarian satu korban hilang terkubur lumpur oleh tim Search and Rescue (SAR) sudah dihentikan. Di jalan raya Sidoarjo-Porong, ratusan personel Dalmas dan Brimob Polda Jatim terlihat berjaga-jaga untuk mengantisipasi isu demonstrasi besar yang akan dilakukan masyarakat menyangkut tidak adanya kejelasan ganti rugi oleh Lapindo Brantas inc.

02 December 2006

Press Release AJI and UNICEF


Please click the Press Release title to read the story

Press Release
PENGUMUMAN PEMENANG
Lomba Nasional Penulisan Anak Untuk Wartawan 2006, AJI & UNICEF

Berbagai persoalan yang dihadapi anak telah dituliskan oleh para jurnalis. Sekitar 134 artikel telah masuk dalam “Lomba Nasional Penulisan Anak Untuk Wartawan 2006” yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Unicef.

Lomba ini dibuka selama sebulan yaitu dari tanggal 1 september -1 Oktober 2006. Seleksi awal kemudian dilakukan oleh tim dari AJI, yang kemudian seleksi pada sisi content/ isi tulisan dilakukan oleh tim Juri.

Tim Dewan Juri terdiri dari: Ninuk Mardiana Pambudy (Wartawan Kompas), Atmakusumah Astraatmadja (Pengamat Pers/ Lembaga Pers Dr. Soetomo), Mohammad Farid (Komnas HAM), Magdalena Sitorus (Komisi Perlindungan Anak), Antarini Arna (Yayasan Pemantau Hak Anak), Sumarni Dawam Rahardjo (Deputi Perlindungan Anak Kementrian Pemberdayaan Perempuan), Kendartanti Subroto (Unicef) dan Heru Hendratmoko (AJI).

Salah satu dewan juri, Atmakusumah mencatat bahwa hampir semua tulisan anak yang mengikuti lomba ini, bernada duka, penuh tangis dan hampir tiada keceriaan.

Analisa ini terus membuktikan bahwa anak di Indonesia ternyata punya banyak sisi kelam dari kehidupannya. Tentu saja, hal ini tidak sesuai dengan banyaknya media remaja yang muncul di Indonesia yang lebih banyak menawarkan gaya hidup perkotaan/ gaya hidup masa kini. Banyak media ini muncul dan menuliskan tentang keceriaan. Sangat kontras dengan tulisan para jurnalis ini.

Tulisan dari para jurnalis ini, cukup untuk meneropong sekaligus memetakan kondisi anak di Indonesia saat ini. Mulai dari anak yang harus hidup dengan HIV/AIDS tanpa ia tahu darimana mendapatkannya, anak yang kehilangan identitasnya, hingga anak-anak yang mendapatkan pelecehan dan kekerasan seksual dari orang-orang terdekatnya.

Di satu sisi lontaran maupun kritikan kerap ditujukan untuk media, dimana para jurnalis bekerja. Hingga saat ini, ternyata belum banyak media yang memberikan porsi khusus untuk peliputan dan penulisan anak. Disinilah kerja para jurnalis benar-benar diuji. Untuk menjadi anjing penjaga persoalan anak di masyarakat, sekaligus tetap siaga untuk terus menuliskan persoalan anak di medianya sendiri.

Namun dari tulisan para jurnalis ini selanjutnya membuktikan satu hal. Walaupun sedikit, kecil, namun ia mampu menembus ruang-ruang kecil. Ruang kecil yang biasanya selalu diisi oleh berita atau materi lain yang dianggap lebih penting. Namun yang sedikit dan kecil ini ternyata mampu menuliskan pengalaman kehidupan seorang anak, setiap anak, dengan segala cerita kesedihan sekaligus kepedihan mereka.

Dari beberapa tulisan ini, selanjutnya Dewan Juri memutuskan bahwa pemenang Lomba ini adalah:
1. Yuniarti Tanjung dari Majalah Femina (Jakarta) dengan judul tulisan : Stop! Kekerasan Seksual Pada Anak
2. Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung) dengan judul tulisan : Pengakuan Anak Yang Berkonflik dengan Hukum
3. Imam Dwianto Nugroho dari Harian The Jakarta Post (Surabaya) dengan judul tulisan : It’s the hard-knock life for juvenile offenders

Kemudian dari artikel ini, AJI dan UNICEF menerbitkan 3 tulisan mereka serta 8 tulisan finalis lain yang terpilih ke dalam bentuk buku yang berjudul : Sebab Ia Dijuluki “Hari Ini”.

Jakarta, 30 November 2006

.: Halaman Populer