Professional News Blog

26 December 2006
Lumpur Semakin Meluas.
MELUAS. Luberan lumpur panas Lapindo Brantas Inc semakin meluas. Daerah Ketapang, Porong yang awalnya hanya terluberi air lumpur, Selasa (26/12) ini sudah ditanggul, karena lumpur mulai masuk. Beberapa pabrik pun mengevakuasi barang-barangnya.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, December 26, 2006   1 comments
25 December 2006
Damai Natal di Surabaya
AMAN. Perayaan Natal 2006 di Surabaya berlangsung aman. Seperti Misa Natal yang berlangsung di Gereja Bethany Surabaya, Minggu (24/12) tengah malam ini. Di gereja terbesar di Asia Tenggara itu, sekitar 50 ribu umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat.
posted by iddaily[dot]net @ Monday, December 25, 2006   0 comments
23 December 2006
Merry X-Mas!
posted by iddaily[dot]net @ Saturday, December 23, 2006   0 comments
21 December 2006
Warga TAS Sidoarjo Gagal!
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

GAGAL. Perjuangan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) dalam mendapatkan ganti rugi atas teredamnya rumah mereka karena lumpur, gagal. Demonstrasi yang mereka lakukan Kamis (21/12) ini di Pendopo Kabupaten Sidoarjo hari ini tidak mendapatkan jawaban pasti. Massa berteriak-teriak meluapkan kekecewaan mereka.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Thursday, December 21, 2006   0 comments
20 December 2006
Semoga Damai Natal Menyinari Pengungsian Porong
Senyum mengembang, seiring sorot mata menerawang, ketika Yuliana Thomas menceritakan kenangan perayaan Natal yang pernah dialaminya. Sejenak, perempuan berusia 30 tahun itu mengabaikan nasi bungkus jatah makan siang pengungsi yang tinggal separuh. Beberapa lalat mulai mendekat. Sapuan tangan kiri Yuliana menghalau.

"Senang rasanya bila Natal tiba, kami sekeluarga pergi bersama-sama ke gereja, untuk berdoa," kata Yuliana, Selasa (19/12) siang itu, pada The Jakarta Post. Gereja Bethel Indonesia (GBI) Sidoarjo yang biasa menjadi tempat masyarakat keturunan Ambon merayakan Natal, menjadi pilihan keluarga Yuliana yang juga berdarah Ambon. Usai Misa Natal, sang suami, Cornelis Bale, Yuliana dan tiga anaknya, Rafael Corintius(12), Rachel Cornelia(8) dan Renaldi(6) biasa menghabiskan waktu sejenak di "rumah Tuhan" itu.

Ketiga anak mereka bermain dengan teman sabaya, sementara Cornelius dan Yuliana mengobrol dengan jemaat lain. Bila waktu sudah beranjak siang, keluarga yang memilih hidup Perumahan Tanggul Angin Sejahtera (TAS) di Porong Sidoarjo itu pulang, untuk saling mengucapkan selamat Natal kepada tetangga. "Ada beberapa tetangga yang juga merayakan Natal, kami saling mengunjungi untuk mengucapkan selamat Natal," kenang Yuliana.

Kenangan itu seperti bayangan yang enggan dihapus dari ingatan Yuliana. Apalagi Ia tahu, indahnya perayaan Natal yang selama ini dialaminya, tidak akan bisa terjadi lagi. Sejak Minggu(27/11) lalu, empat hari setelah ledakan pipa gas pertamina di sekitar lokasi semburan lumpur panas Lapindo Rabu (23/11) lalu, keluarga Yuliana memilih untuk mengungsi di Pasar Porong. Rumahnya di Jl. Sentosa blok AA IV no.14 perumahan TAS Sidoarjo terendam lumpur.

Supriyadi lain lagi. Salah satu umat Kristiani yang juga menjadi pengungsi di Pasar Porong ini mengaku bahwa meski pun sengsara, dirinya dan keluarga akan tetap merayakan Natal 2006. Meskipun perayaan itu akan dilakukan dengan sangat sederhana. "Mungkin kami sekeluarga akan ke Gereja Katolik Porong, tidak jauh dari lokasi pengungsian," kata Supriyadi pada The Jakarta Post.

Sebelum tragedi ini terjadi Supriyadi memiliki dua rumah di Perumahan TAS. Satu rumah di gunakan untuk tempat tinggal, sementara yang lain digunakan untuk bisnis jual beli burung dan pakan ternak yang digelutinya. Dua rumah yang dimilikinya itu kini tinggal kenangan. "Ketua RT di tempat kami mengabarkan, lumpur sudah meremdam hingga ke atap rumah," kata laki-laki asal Kediri Jawa Timur yang sudah tinggal di pengungsian selama dua minggu itu.

Sampai Rabu ini, ada sejumlah 12 ribu pengungsi yang mencari selamat di 50 ruko dan 272 kios Pasar Porong. Keluarga Yuliana tinggal di kios L2 18, sementara keluarga Supriyadi tinggal di Kion Q1 23. Keduanya berbagi ruangan dengan satu keluarga lain. Karena tidak ada penyekat, Yuliana membagi ruangan berukuran 5x4 meter dengan kelambu dari kain gorden. Pakaian dan surat-surat penting ditumpuk di dalam kios, sementara peralatan masak dan alat cuci baju ditata di teras depan. "Lumayan, yang penting bisa tidur, meskipun panas sekali," katanya.

Tiga minggu tinggal di pengungsian, bagi Yuliana bagai setahun rasanya. Di lokasi yang hiruk pikuk dengan ribuan orang ini, waktu seakan berjalan lamban. Hilangnya kenyamanan dan privasi adalah penyebabnya. "Sejak pagi menjelang, kami harus bersabar untuk melewatinya," kata Yuliana. Soal mandi saja, keluarga Yuliana harus berebut dengan 12 ribuan pengungsi. Hanya ada 22 ruang mandi cuci kakus (MCK) permanen di Pasar Porong. Jelas jumlah yang tidak sebanding dengan ribuan pengungsi.

Yang lebih parah, pasokan air di pengungsian tidak selalu lancar. Bahkan tidak jarang, ketika waktu mandi tiba, air yang sebelumnya mengucur deras itu tiba-tiba mengecil dan mati. Air bersih yang disimpan di tujuh truk tanki dan dua bak besar pun tidak mencukupi. Kalau sudah begitu, tidak sedikit pengungsi yang mengurungkan niatannya untuk mandi. Minimal menundanya.

Untuk keluarga yang memiliki anak balita. Jelas, butuh energi ekstra. Tubuh balita yang rentan terkena penyakit adalah hal terburuk yang harus dihadapi. "Anak-anak saya paling sengsara, pertama kali tinggal di pengungsian, ketiganya sakit. Rafael dan Rachel, keduanya terserang batuk dan pilek pada minggu-minggu pertama. Sementara Revaldi terkena diare. Beruntung, ada posko kesehatan yang menjadi tempat ketiganya berobat secara gratis.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Wednesday, December 20, 2006   0 comments
19 December 2006
Ketika Harus Mengungsi di Kandang Kambing,..
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::
Suara keras kereta minyak yang melintas di rel KA jalur Porong-Sidoarjo, Selasa siang ini, memaksa Kastanah sejenak menghentikan ceritanya. Tangan kiri perempuan itu mempererat pelukan pada Muhamad Rizki Wahyudi(1), anak terakhirnya, yang ketika itu berada di gendongan. Sementara tangan kanannya menutupi wajah anak bayi itu dengan kaos lusuh yang dikenakannya. Menghindarkan anak itu dari debu yang beterbangan. "Debu dan Suara kereta api semacam itu membuat kami tidak bisa tidur nyenyak," kata Kastanah, usai gerbong minyak terakhir berlalu.

Kastanah adalam potret kelam pengungsi lumpur panas Lapindo. Gara-gara lumpur yang mulai memasuki tempat tinggalnya di Desa Ketapang, Sidoarjo, perempuan mengungsi. Bersama suaminya Qoirul Amin dan tiga anak balitanya, Angelina Fernanda(5), Trias Wahyu Anggraeni(3,5) dan Muhamad Rizki Wahyudi(1), Kastanah memilih menyelamatkan diri di kandang kambing tak jauh dari tempat tinggalnya.

Kandang kambing? Iya, sebuah kandang kambing berukuran 5x2. Keputusan memboyong keluarganya ke kandang kambing itu bukan tanpa alasan. Kastanah menceritakan, kandang kambing yang sedianya akan digunakan pemiliknya untuk berjualan kambing Idul Adha itu dipilih, lantaran ongkos memindah barang-barang dari rumah ke Pasar Porong, sangat mahal. "Biaya pindahnnya sampai ratusan ribu, darimana kami dapat dana untuk itu?" kata Kastanah. Butiran air mata mengalir.

Dari penelusuran The Jakarta Post, ongkos sewa truk untuk memindahkan barang-barang pengungsi, melonjak tajam. Ongkos sewa yang biasanya hanya berkisar Rp.150-Rp.200 ribu untuk sekali trayek itu, kini bisa berkisar Rp.500 ribu. Itupun masih ditambah uang tambahan yang harus diberikan kepada kuli angkutnya. Jumlah itu tergolong besar bagi keluarga Kastanah yang kini tidak memiliki penghasilan tetap, lantaran sang suami di-PHK dari sebuah pabrik rokok.

Namun, mau tidak mau, keluarga Kastanah harus tetap pindah. Lumpur Lapindo yang Senin malam bertambah jumlahnya karena hujan deras pada Senin jam 16.00-21.00 WIB itu mulai mengalir menuju rumahnya. Sebuah becak milik tetangga dipilih untuk mengangkut barang seperlunya. "Terlalu jauh bila becak harus mengantar ke Pasar Porong," kata perempuan berprawakan kurus itu. "Untung ada kandang kambing ini," tambahnya.

Kandang kambing itu berupa rangka bangunan dari bambu tanpa dinding, beratap plastik. Telaknya di samping rel KA, pinggir trotoar jalan raya Sidoarjo-Porong. Tas, kompor, lemari kayu berwarna coklat dan peralatan lain ditumpuk di pojokan. Di tengahnya, ranjang kayu berkasur kapuk lusuh. Dua kursi tamu yang alasnya sudah robek-robek ditempatkan di trotoar jalan. Tidak ada tempat cuci baju, apalagi kamar mandi.

Bisa dibayangkan, betapa "nikmat"nya menghabiskan waktu di tempat itu. Jalan Raya Porong adalah akses satu-satunya menuju ke Malang, Banyuwangi dan sekitarnya. Di jalan itulah, sejak lumpur Lapindo tersembur liar, ribuan kendaraan terjebak macet. Di sisi lain, rel KA yang juga merupakan akses satu-satunya KA jurusan Surabaya-Malang-Banyuwangi. "Debu, asap dan suara kendaraan benar-benar menyiksa," kata Kastanah.

Tiga anak balita Kastanah dan Qoirul Amin, selalu rewel. Ketika The Jakarta Post dan beberapa wartawan lain mengunjungi tempat itu, beberapa kali disuguhi tangisan ketiganya. Muhamad Rizki Wahyudi menangis, sambil menarik kaos ibunya, tanda meminta disusui. Sementara Trias Wahyu Anggraeni, merengek sambil meminta ibunya membuatkan susu coklat yang biasa dinikmatinya memalui botol susu. "Eh,..tidak boleh rewel," kata Kastanah pada keduanya. Tapi dua anak kecil itu terus menangis.

Jumlah pengungsi akibat luapan lumpur Lapindo, terus bertambah seiring meluasnya luberan lumpur. Data dari Pasar Porong menyebutkan, saat ini ada 2.605 KK atau 9.936 Jiwa. Jumlah itu bertambah menjadi 12 ribuan, pada Senin malam lalu, lantaran ada penduduk daerah baru yang ikut mengungsi. Di beberapa puskesmas dan rumah sakit terdapat puluhan ribuan pasien rawat jalan. Sementara 845 orang lain sempat menjalani rawat inap, 13 di antaranya masih dirawat di RS setempat.

Penyelesaian yang diharapkan pun seakan menunjukkan kebuntuan. Dua relief well sudah tidak beroperasi. Begitu juga dengan spill way yang mengalirkan lumpur ke kali porong yang teronggok mati. Di sisi lain, ancaman putusnya transportasi semakin tampak di depan mata. Lumpur sudah hampir menggenangi rel. Jarak lumpur dan rel tinggal sekitar 5 meter. Bila itu terjadi, Jalan Raya Porong tinggal menunggu giliran.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, December 19, 2006   4 comments
18 December 2006
Melirik Cara Media Membangun Kesadaran Perempuan
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Tangan Idah Ernawati terus menari, ketika Manager Radio Kosmonita itu berdiskusi serius dengan Elly, salah satu penyiar terbarunya."Aku mengamati, kamu terlalu sering meminta maaf kepada pendengar ketika sedang on air, itu terdengar tidak cerdas," kata Idah. "Kita harus terlihat cerdas saat kita on air, sekaligus menularkan kecerdasan itu pada pendengar," tambah Idah.

"Mungkin, kalimat minta maaf itu bisa diganti dengan penyebutan kembali kalimat yang salah, tanpa ada kata maaf di dalamnya," celetuk Novie, salah satu produser di radio itu. Elly lebih banyak diam dan mendengarkan. Sesekali menyahut dengan pertanyaan lain seputar radio. Diskusi tentang bagaimana sosok penyiar yang cerdas itupun berjalan ganyeng.

Berdiskusi dan mengevaluasi sebuah program radio, adalah budaya di Radio Kosmonita, salah satu radio perempuan di Surabaya. Melalui forum yang biasa dilakukan setelah sebuah program radio digelar itu, bisa diketahui apakah sebuah program sudah seirama dengan benang merah radio, atau tidak. "Pada dasarnya, Kosmonita ingin problem perempuan bisa terhapus, salah satunya melalui program yang kami sajikan, mungkin pelan, tapi proses penghapusan itu harus tetap ada," kata Idah pada The Jakarta Post.

Problem perempuan kembali muncul menjelang Hari Ibu 22 Desember ini. Dan sekali lagi, hal itu tidak pernah ada habisnya. Mulai peran perempuan dalam keluarga yang terlilit kekerasan (KDRT). Posisinya di masyarakat yang masih dinomorduakan. Hingga prilaku yang melecehkan kaum Hawa. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Sekali lagi, posisi perempuan memang masih terpuruk. Kondisi itu juga yang mendorong beberapa media mengkhususkan diri sebagai media yang concern membahas persoalan perempuan.

Dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, jumlah media cetak di Surabaya yang mengkhususkan diri sebagai media perempuan hanya sekitar 20 persen dari seluruh media yang terbit di Surabaya. Sementara Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Timur mencatat, ada ada empat dari 25 radio di Surabaya yang menjadikan perempuan sebagai bidang garap. "Pertanyaannya, apakah media perempuan itu sudah benar-benar melayani perempuan dan bisa memberikan solusi atasnya," kata Sunudyantoro, Divisi Program AJI Surabaya pada The POst.

Pertanyaan serupa juga terngiang dalam benak redaksi media perempuan. Idah Ernawati dari Radio Kosmonita misalnya. Evaluasi tahunan di radio yang on air pertama kali pada 22 Desember 2000 itu selalu membahas efek radio itu pada pendengarnya. "Hingga saat ini, kami menyadari efektivitas media perempuan belum maksimal," kata Idah. Dan itu bukan tanpa sebab. Budaya masyarakat yang sejak awal mencetak perempuan sebagai makhluk nomor dua seakan menjadi problem terberat. Belum lagi tidak adanya program pemerintah yang efektif menyelesaikan problem-problem itu.

"Program pemerintah untuk menyelesaikan problem perempuan, belum terlihat, padahal sampai saat ini perempuan masih diposisikan menjad mahkluk nomor dua," kata Idah. Posisi itu membentuk psikologi perempuan menjadi tidak care dengan problem-problemnya. Nah, media yang ingin menyelesaikan problem perempuan bagaikan membentur "tembok". Khususnya "tembok" perubahan pola pikir. "Dan jujur saja, hal itu bukan persoalan mudah," katanya.

Hal yang sama dikatakan Abdurohman, Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Venus. Satu-satunya majalah bertajuk fashion dan kecantikan asal Surabaya ini menilai, banyak kendala muncul ketika media bersegment perempuan secara frontal berusaha merubah mind set perempuan. Kesadaran tentang posisi perempuan pun tidak merata. “Akhirnya harus ada strategi yang jitu untuk itu,” kata Abdurohman.

Abdurohman merasakan, menentukan strategi itu pun bukan hal yang mudah. Majalah Venus memerlukan perubahan tiga kali format selama dua tahun. “Awalnya, kami memmbuat format majalah keluarga, setelah itu majalah wanita kelas atas, dan yang terakhir, majalah wanita kelas menengah,” kata Abdurohman. Dalam format terakhirnya itulah majalah beroplag 25 ribu itu mampu menembus pasar perempuan dengan berita-berita fashion dan kecantikan.

“Memang, main content yang kami sajikan adalah life style, tapi di sela-sela itu kami juga menyajikan content yang mendidik seperti kesehatan alat reproduksi, kesehatan bayi dll,” katanya. Cara itu paling berhasil. Salah satu ukuran keberhasilannya adalah sambutan pasar yang konstan. "Kami bisa melayani permintaan majalah dari pasar Indonesia Timur, di samping itu pengiklan pun puas dengan format yang kami sajikan," katanya.

Bagaimana pun kondisinya, Ketua Komite Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Erma Susanti menilai, kepedulian media terhadap isu-isu perempuan patut dihargai. Karena diakui atau tidak, keterbukaan media pada isu perempuan itu yang menjadikan perempuan Indonesia lebih care pada persoalan-persoalan yang memilitnya. Contohnya adalah isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Awalnya KDRT dipandang sebagai aib rumah tangga yang tidak pantas di persoalkan. "Tapi karena media memberi ruang untuk membicarakan KDRT, maka pelan-pelan KDRT bisa dibicarakan secara terbuka, meski belum seluruh perempuan memiliki kesadaran itu," katanya pada The Post.

Namun, Erma meminta media tidak lalai mengangkat problem-problem perempuan yang sudah banyak di-alert-kan oleh aktivis perempuan. Sebut saja trafficking dan kesetaraan gender. Dua hal itu belakangan semakin tampak penting karena banyaknya kasus trafficking yang berdasar pada ketidaksetaraan gender. "Saya melihat, media masih belum intens memberitakan dua hal itu, padahal keduanya sangat urgent," kata Erma.

Dan yang terpenting, media pun hendaknya tidak terjebak menjadi eksploitator perempuan. Bukan tidak mungkin, keinginan untuk membela perempuan malahan memposisikan perempuan sebagai konsumen, dengan terus menawarkan produk-produk kecantikan dan fashion belaka. "Kalau itu dilakukan, maka perempuan akan terjebak dalam budaya konsumerisme, dan itu akan semakin membuat perempuan tidak cerdas, pada ujungnya, keinginan untuk merubah nasib perempuan akan semakin jauh," katanya.
posted by iddaily[dot]net @ Monday, December 18, 2006   0 comments
16 December 2006
Masih Tertutup
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::
TOL DAN ASAP.Tol Porong-Gempol KM 37 masih tertutup lumpur Lapindo, setelah ledakan pipa gas pertamina, pertengahan Oktober lalu. Sampai saat ini tidak ada perkembangan berarti, Tim Nasional hanya memperkkuat tanggul. (JP/ID Nugroho)
posted by iddaily[dot]net @ Saturday, December 16, 2006   0 comments
13 December 2006
Buruh Jawa Timur Demonstrasi Tuntut Perubahan UMK
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Penetapan upah minimum kota (UMK) 2007 di propinsi Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menuai protes. Sejumlah seribuan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Menggugat (ABM) Jawa Timur menggelar demonstrasi menuntut UMK dirubah. Demonstran menilai, nilai yang ditetapkan gubernur tidak sesuai dengan hasil survei kebutuhan hidup layak (KHL) di Jawa Timur.

Demonstrasi itu digelar Rabu (13/12) ini di depan kantor Gubernur Jawa Timur, Jl. Pahlawan, Surabaya. Massa buruh datang bergelombang dengan menggunakan truk dan ratusan sepeda motor. Buruh asal beberapa perusahaan di Surabaya datang terlebih dahulu dan melakukan demonstrasi di jalan protokol Surabaya itu. Berangsur-angsur, massa buruh dari berbagai kota di Jawa Timur, seperti Malang, Pasuruan dan SIdoarjo bergabung. Karena besarnya jumlah buruh, polisi dari Polwiltabes Surabaya dan Polda Jatim memblokade jalan di samping Tugu Pahlawan.

Kepada The Jakarta Post, Humas ABM Jamaludin mengatakan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Timu No.188/2006 yang dikeluarkan 8 Desember 2006 ini, ditetapkan atas hasil survei KHL yang tidak valid. Bupati dan Walikota di seluruh Jawa Timur dan Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota yang diminta masukannya oleh Gubernur Jawa Timur pun, tidak aspiratif pada kepentingan buruh. "Sangat tidak masuk akal, KHL Surabaya yang diusulkan oleh bupati, walikota dan dewan pengupahan Surabaya hanya Rp.748 ribu, lebih rendah dari kota-kota lain di Jawa Timur, itu tidak valid," kata Jamaludin.

Padahal, ketika ABM melakukan survey KHL independen, nilai yang ditetapkan jauh besar, sekitar Rp.975 ribu. Bahkan, ABM mensinyalir adanya "permainan" dalam penetapan usulan KHL. Terbukti dari dikembalikannya usulan KHL dari Gresik, Pasuruan dan Malang oleh Gubernur Jawa Timur, dan akhirnya direvisi kembali dengan nilai yang lebih kecil. "Karena itu ABM menuntut Gubernur Jawa Timur mencabut SK dan merevisi UMK. Harus ada transparansi dan akuntabilitas atas penetapan UMK dan KHL," katanya.

Selain itu, ABM menuntut Gubernur Jawa Timur mempertimbangkan tingkat inflasi 8 persen pada penetapan UMK Jawa Timur tahun 2007. "Inflasi 8 persen harus diperhitungkan, karena buruh adalah kelompok masyarakat yang juga merasakan dampak inflasi di Indonesia," jelas Jamaludin.

Kadisnaker Jawa Timur Bahruddin yang juga Anggota Dewan Pengupahan Jawa Timur mempertanyakan kembali protes yang dikatakan ABM. "Dari mana mereka tahu kalau KHL tidak valid?" kata Bahruddin pada The Jakarta Post, balik bertanya. Meski begitu, Disnaker akan menampung usulan ABM dan akan mendiskusikan dengan pemerintah Provinsi Jawa Timur. "Setelah kami diskusikan, akan kami sosialisasikan," katanya.

DATA UMK JAWA TIMUR

1. Surabaya
- Hasil Survey ABM Desember 2006 Rp.975.000
- Hasil Survey Dewan Pengupahan Rp.748.000
- Usulan BUpati/Walikota RP.746.000
- SK Gubernur Jawa Timur Rp.746.000

2. Malang
- Hasil Survey ABM Desember 2006 -
- Hasil Survey Dewan Pengupahan Rp.770.109
- Usulan BUpati/Walikota Rp.770.109 (direvisi menjadi Rp.745.109)
- SK Gubernur Jawa Timur Rp.743.000

3. Sidoarjo
- Hasil Survey ABM Desember 2006 Rp.952.000
- Hasil Survey Dewan Pengupahan Rp.753.975
- Usulan BUpati/Walikota Rp.743.500
- SK Gubernur Jawa Timur Rp.743.500

4. Gresik
- Hasil Survey ABM Desember 2006 -
- Hasil Survey Dewan Pengupahan Rp.769.015
- Usulan BUpati/Walikota Rp.739.000 (direvisi menjadi Rp.743.500)
- SK Gubernur Jawa Timur Rp.743.500

5. Jember
- Hasil Survey ABM Desember 2006 -
- Hasil Survey Dewan Pengupahan Rp.625.000
- Usulan BUpati/Walikota Rp.743.500
- SK Gubernur Jawa Timur Rp.743.500
posted by iddaily[dot]net @ Wednesday, December 13, 2006   0 comments
12 December 2006
Perantara TNT Milik Noordin M. Top Divonis Tiga Tahun Penjara
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

Ahmad Arief Hermansyah, 20, yang selama ini dikenal sebagai perantara bahan bom jenis TNT milik Noordin M. Top divonis tiga tahun penjara oleh PN Surabaya. Arief dianggap bersalah karena membantu tindakan terorisme, dengan tidak melaporkan barang berbahaya yang dititipkan kepadanya. Arief sekaligus dianggap menyembunyikan informasi tentang tokoh yang paling dicari di Indonesia itu.

Putusan PN Surabaya itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Yunus Wahab dalam persidangan di PN Surabaya, Selasa (12/12) ini. Yunus menjelaskan, dari pemeriksaan bukti dan saksi-saksi, Arief terbukti menerima barang berupa kardus yang dibungkus karung dari seseorang bernama Untung dan Khaidir.

Barang titipan seberat 20 kg yang disimpan Arief selama dua minggu di rumahnya itu berisi bahan peledak jenis TNT. Barang itu juga yang kemudian digunakan kelompok Noordin M. Top dan Dr. Azahari untuk meledakkan Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada tahun 2004. Dalam peristiwa itu 11 orang tewas dan 200-an luka-luka.

Karena bukti-bukti itulah Majelis Hakim menganggap Arief terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar UU no.22 tahun 2003 tentang Terorisme. “Terdakwa dinilai sah dan meyakinkan melanggar UU Terorisme, karena itu, terdakwa divonis tiga tahun penjara dipotong masa tahanan” kata Yunus dalam amar putusannya.

Seusai sidang, Arief mengatakan tidak terima dengan vonis itu. Secara tegas, mantan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu akan mengambil langkah banding. “Demi Allah saya tidak terima dengan vonis ini dan saya akan naik banding,” katanya berapi-api. Koordinator penasehat hukum Arief dari Tim Pembela Muslim (TPM), Fahmi Bachmid mengatakan keputusan majelis hakim atas kliennya adalah tindakan dholim.

Karena keputusan itu secara tidak langsung bisa memposisikan semua orang menjadi bagian dari aksi terorisme. “Arief itu hanya pihak yang dititipi barang dan dia sama sekali tidak tahu apa isi barang yang dititipkan kepadanya, ini keputusan yang dholim,” kata Fahmi Bachmid usai persidangan.

Persidangan kali ini sempat diwarnai dengan tangis histeris pihak keluarga. Ibunda Arief, Aisyah Basilim yang hadir bersama Arief Firmansyah (adik Ahmad Arief Hermansyah) berteriak-teriak sambil menangis ketika majelis hakim mengetukkan palu vonis. “Ini tidak adil, anak saya sudah didholimi,” katanya. Menurut keluarga, Arief sama sekali tidak bersalah. Yang dilakukan hanya upaya untuk membantu temannya yang menitipkan barang. “Anak saya sama sekali tidak tahu,” kata Aisyah di sela tangisannya.

Kepada The Jakarta Post dan Elshinta, Ketua Majelis Hakim Yunus Wahab mengatakan, bila terdakwa tidak terima dengan tuntutan itu, bisa melakukan upaya banding. “Menurut kami, sangat tidak mungkin Arief tidak menyadari barang yang dititipkan kepadanya adalah barang berbahaya, apalagi pada tahun-tahun itu aksi terorisme sedang gencar terjadi,” kata Yunus.
posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, December 12, 2006   1 comments
08 December 2006
Festival Barongsai se-Dunia
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


KOMPETISI SEDUNIA. 3rd World Dragon and Lion Dance Championship, digelar di Kenjeran Surabaya, Jumat-Minggu(8-10/12) ini. Sejumlah 12 negara menjadi negara peserta pagelaran yang melombakan keahlian menari budaya tradisional asal China itu.

Suara tambur, simbal dan teng teng terdengar meriah, mengiringi tarian Barongsai dalam 3rd Dragon and Lion Dance World Championship di Surabaya, akhir pekan ini. Ritme musik khas China itu mengikuti seluruh tingkah polah Barongsai. Kadang memelan, saat Barongsai melenggak-lenggok genit, tapi tiba-tiba berubah menjadi cepat ketika Barongsai meloncat-loncat di atas tonggak besi. Tepuk tangan penonton pun menggema usai Barongsai melakukan aksinya yang mendebarkan.

Warga Surabaya benar-benar dihibur oleh pertunjukan Barongsai dan Tari Naga dalam 3rd Dragon and Lion Dance World Championship yang berlangsung Jumat-Minggu (8-10/12) ini di Multifunction Hall Kenjeran Park, Surabaya. Dalam event itu, 23 tim dari 12 negara ikut ambil bagian. Seperti China, Malaysia, Singapura, Hongkong, USA, Belgia, Prancis, Korea hingga tentu saja Indonesia. Mereka berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam membawakan kesenian asal China itu.

Kejuaraan Dunia Barongsai dan Tari Naga pertama kali digelar di China pada tahun 2000. Dua tahun sesudah itu, tepatnya pada tahun 2002, Kejuaraan Dunia Barongsai dan Tari Naga ke dua digelar di Malaysia. Sejak merebaknya penyakit SARS, virus flu burung hingga kasus karikatur Nabi Muhammad yang menggegerkan dunia, membuat event dua tahunan itu terhenti. Baru tahun 2006 ini, kejuaraan ke-3 digelar di Indonesia.

Karena pentingnya momentum ini, Zhang Fa Qiang, Wakil Menteri Olah Raga Tiongkok yang juga Ketua International Dragon and Lion Dance Federation menyempatkan untuk hadir dan melihat secara langsung. “Pemerintah China ikut bangga atas terselenggaranya Kejuaraan Dunia Barongsai dan Tari Naga ini, apalagi, kejuaraan yang seharusnya dilakukan dua tahun sekali ini sempat terhenti karena menjangkitnya firus fu burung,” kata Zhang Fa Qiang .

Pemerintah China, kata Zhang Fa Qiang memberi dukungan penuh pada pelaksanaan Kejuaraan Dunia Barongsai dan Tari Naga ke tiga di Indonsia ini. Terutama karena Barongsai dan Tari Naga bukan lagi milik China, melainkan sudah menjadi budaya dunia. “Kami mengharapkan Barongsai dan Tari Naga menjadi salah satu olah raga baru dalam olimpiade mendatang," kata Zhang Fa Qiang.

Bagi Indonesia, terlaksananya 3rd Dragon and Lion Dance World Championship seakan menjadi puncak berkembangnya kesenian Barongsai. Seni yang pada Rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Mantan Presiden Soeharto sempat dilarang dimainkan di depan umum ini, mulai berkembang tujuh tahun lalu. Dalam event-event yang melibatkan keturunan China, Barongsai dan Tari Naga menjadi sajian “wajib”. Pemerintah Indonesia pun mendukung dengan membentuk Persatuan Seni Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin), sebagai bagian dari Federasi Barongsai Dunia.

Perkembangan Barongsai di Indonesia itu diakui oleh Pemerintah China melalui Wakil Menteri Olah Raga China Tiongkok Zhang Fa Qiang. “Kami sangat berterima kasih dengan pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia karena memberi tempat pada kesenian Barongsai dan Tari Naga,” kata Zhang Fa Qiang.

Tim Negara Favorit

Dalam Kejuaraan 3rd Dragon and Lion Dance World Championship ini, tim dari China, Malaysia dan Indonesia masih menjadi favorit. Terutama tim China yang dalam penyajiannya tampak lebih mampu mengembangkan permainan. Tim tiga negara itu juga yang diunggulkan menjadi juara. Dalam lomba kategori Barongsai Selatan yang berlangsung Jumat lalu misalnya, tim China memperoleh nilai tertinggi dibanding tim dari Taipei, Macau, Hongkong dan Indonesia.

Penilaian itu didapat dari tingkat kesulitan yang ditunjukkan oleh tim negara dengan julukan Tirai Bambu itu. Apalagi, dalam akhir pertunjukannya, Barongsai dari China-lah satu-satunya Barongsai yang mengakhiri pertunjukan dengan salto ke belakang. Bahkan, tim Indonesia yang coba mengejar tingkat kesulitan yang sama pun sempat terpeleset di salah satu tonggak besi dalam performa pertamanya.

Di hari kedua, Sabtu, dalam kategori Barongsai Utara dan Tari Naga, tiga tim unggulan benar-benar berjuang mati-matian untuk meraih nilai tertinggi yang diberikan tujuh juri dari berbagai negara. Sementara negara lain seperti Makau, Hongkong, Taipei, dan Singapura tidak mau kalah. Meskipun lagi-lagi tim China Tiongkok tampak paling atraktif dengan formasi piramidnya. Tim Malaysia dan Indonesia pun demikian, tari naga yang dimainkannya menyihir 15 ribuan penonton yang hadir. Meski diakhir cerita, hanya enam tim dari tiga negara, China, Malaysia dan Indonesia yang masuk ke babak final.

Babak final yang digelar Minggu (10/12) adalah puncak kejuaraan Barongsai. Tiga negara berlomba menunjukkan kemampuan terbaiknya. Di luar perkiraan, tim China yang dua hari sebelumnya habis-habisan, di hari terakhir ini justru terseok. Tari Barongsai yang ditunjukkan, sempat terjatuh. Sebaliknya, tim Indonesia dan Malaysia bermain sempurna. Tujuh juri memberikan penilaian yang sama pada tim Indonesia dan Malaysia, sementara tim China ada di nomor kedua.

“Juri sempat kebingungan untuk menentukan siapa pemenang 3rd Dragon and Lion Dance World Championship, apakah Indonesia atau Malaysia,” kata Soetiadji, Ketua Panitia 3rd Dragon and Lion Dance World Championship pada The Post. Sampai juri memutuskan untuk memberi kesempatan tim Indonesia dan Malaysia untuk kembali berlaga dalam demonstrasi terakhir. Saat itulah, Tim Indonesia berhasil menunjukkan performa terbaiknya dan ditetapkan sebagai juara pertama. "Semoga Indonesia bisa mempertahankan gelar juara dalam 4rd Dragon and Lion Dance World Championship yang kemungkinan akan dilakukan di Australia," kata Soetiadji.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Friday, December 08, 2006   2 comments
Tabung Petrochina Meledak, Masyarakat Ketakutan
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Pengeboran Petrochina dijaga ketat beberapa saat setelah tanki meledak.

Tabung pemisah (sparator) minyak dan air milik Perusahaan Pengeboran Minyak Petrochina, yang gunakan dalam proses pengeboran minyak di Kawasan Lengowangi Gresik Jawa Timur, Rabu (06/12) ini meledak. Ledakan keras disertai getaran itu sempat membuat tembok di beberapa rumah warga sekitar lokasi pengeboran pecah-pecah.

Ledakan disertai percikan api dari lokasi pengeboran yang berjarak 200 meter dari perumahan Gresik Kota Baru (GKB) itu terjadi Rabu ini sekitar pukul 08.30 WIB. Ketika itu warga yang sedang melakukan aktivitas di pagi hari dikejutkan oleh suara keras dari arah pengeboran. Tak lama berselang, tampak percikan api membumbung ke udara. Warga GKB dan Desa Suci, Gresik yang paling dekat dengan kawasan pengeboran itu sontak ketakutan.

Ada kekhawatiran terjadi bencana serupa dengan semburan lumpur seperti yang terjadi di Porong, Sidoarjo.Bahkan ada warga yang bersiap untuk mengungsi. "Habis bagaimana lagi, suara itu begitu keras, sampai-sampai pintu di rumah saya terguncang hebat," kata Ny. Mansyur, penduduk GKB pada The Jakarta Post. Tembok rumah warga di Jalan Tarakan perumahan GKB dan sekitarnya pecah-pecah.

Warga yang mencari tahu sebab terjadinya ledakan kepada petugas jaga di Pengeboran Petrochina itu tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Bahkan terkesan ada upaya menutup-nutupi. Hal itu membuat warga GKB dan Desa Suci marah dan menggelar demonstrasi. Mereka bergerombol di pintu masuk lokasi pengeboran sambil berteriak-teriak menuntut pihak Petrochina memberikan penjelasan.

Soleh, salah satu supervisor Pengeboran Petrochina yang menemui pengunjuk rasa mengatakan ledakan itu berasal dari tabung sparator yang ada di bagian belakang rig pengeboran. Tabung sepanjang 4 meter dengan tinggi 3 itu sebenarnya belum digunakan untuk proses produksi pengeboran minyak. "Karena suhu udara yang panas, membuat suhu di dalam tabung ikut memanas dan memicu tekanan bekas residu yang ada di dalam tabung, itu yang menyebabkan ledakan," kata Soleh.

Hal yang sama diungkapkan oleh Syafeki, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Gresik yang mengunjungi lokasi ledakan. Menurutnya, tabung berwarna hitam itu belum terkoneksi dengan sistem proses pengeboran minyak milik Petrochina. "Saya tadi sudah melakukan pengamatan, dan tabung itu belum tersambung dengan peralatan lain dalam proses pengeboran, jadi ini sepertinya murni karena suhu yang panas," kata Syafeki.

Karena itu pula, Syafeki memastikan tidak adanya efek merusak akibat ledakan ini. "Saya melihat bangunan yang berjarak satu meter dari sumber ledakan tidak mengalami kerusakan," katanya. Namun, Syafeki sempat kebigungan ketika wartawan menjelaskan bahwa ada beberapa rumah warga yang temboknya pecah-pecah pasca ledakan. "Kalau itu saya tidak bisa menjelaskan," katanya.

Dalam kesempatan itu Syafeki mengharapkan polisi untuk melakukan penyelidikan atas ledakan itu. Karena dalam dunia bisnis pengeboran, tidak boleh ada kesalahan-kesalahan teknis yang sebabkan oleh kecerobohan. Bahkan ada "sertifikat aman" yang harus dimiliki oleh perusahaan pengadaan atas barang-barangnya. "Tapi ternyata dalam kasus ini, tabung yang seharusnya aman malah memiliki sisa residu di dalamnya, ini tidak benar dan harus diusut," jelasnya. Hingga saat ini, kasus itu masih diselidiki oleh polisi.
posted by iddaily[dot]net @ Friday, December 08, 2006   0 comments
06 December 2006
Sebenarnya, Perjuangan Belum Selesai
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


SEEKING COMPENSATION: Residents of Jatirejo, Kedungbendo, Siring and Renokenongo villages stage a protest at the Sidoarjo Regency office in East Java on Monday, seeking compensation for their mud-swamped homes. Lapindo Brantas, which operates the leaked gas well site in the area, eventually complied.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Wednesday, December 06, 2006   0 comments
03 December 2006
Korban Ledakan Lapindo Menjadi 13 Orang
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Photo by Reuters/Yahoo

Jumlah korban tewas pasca meledaknya pipa gas Pertamina di sekitar lokasi semburan lumpur panas dan gas beracun Lapindo terus bertambah. Minggu (3/11) dini hari ini, Eko Riyandi,43, salah satu korban terparah yang dirawat di RSU Dr.SOetomo Surabaya meninggal dunia. Luka bakar di tubuhnya yang mencapai 52 persen dan menciptakan kegagalan multi organ (multy organ failure) membuat Eko tidak tertolong.

Juru bicara RSU Dr.Soetomo, Dr.Urip Murtejo mengungkapkan multy organ failure adalah penyebab utama meninggalnya Eko. Upaya dokter untuk menyelamatkan nyawa Eko gagal karena terlalu banyak organ yang rusak. "Akhirnya Eko meninggal dunia Minggu malam sekitar pukul 02.00 WIB," kata Dr. Urip Murtejo pada The Jakarta Post, Minggu (3/11) ini. Kematian Eko mengejutkan tim dokter yang merawatnya. Karena sejak pertama diwarat di RS itu, Eko selalu menunjukkan perkembangan positif.

Seperti diberitakan The Jakarta Post sebelumnya, ledakan pipa gas Pertamina yang terjadi Rabu (23/11) lalu di Porong, Sidoarjo menyebabkan tujuh orang tewas seketika. Sejumlah 14 orang dirawat di RS karena luka-luka di sekujur tubuhnya. Dua korban luka terparah Andri Kuntoro (Karyawan perusahaan keamanan Fergaco) dan Eko Riyandi (Karyawan CV. Guna Bangun Pratama) dirawat di RSu. Dr. Soetomo Surabaya, sementara sisanya dirawat di RSUD Sidoarjo.

Dalam keterangan persnya, Dr.Urip Murtejo mengatakan dua pasien yang dirawat di RS tempatnya bekerja menjapai 50-80 persen. "Kondisinya parah karena blast injuries 50-80 persen, kita khawatirkan akan terjadi multy organ failure, namun semoga seja tidak terjadi," kata Urip. Namun harapan tinggal harapan, Andri Kuntoro menghembuskan napas terakhir pada Rabu (29/11) lalu. Dan Eko Riyandi menyusulnya pada Minggu ini.

Keluarga Eko sangat terpukul dengan kematian petugas supervisi tanggul utama proyek penanggulangan semburan lumpur Lapindo ini. Apalagi, ketika peristiwa itu terjadi, istri Eko Nurul Hasanah sedang hamil tua. Bahkan, Sabtu malam menjelang kematian Eko, Nurul sedang mempersiapkan kelahiran anak ketiganya di Malang, Jawa Timur. Tuhan berkehendak lain, belum juga bayi itu lahir, Eko meninggal dunia, meninggalkan Nurul dan dua anaknya, Rio Adam F,10, dan Firda Amalia Hapsari,12. Jenazahnya dikebumikan di daerah Candi, Sidoarjo.

Sementara itu, hingga Minggu ini semburan lumpur Lapindo masih terjadi. Tol Porong-Gempol yang tertutup luberan lumpur dari pond utama pasca ledakan masih tidak bisa digunakan. Upaya pencarian satu korban hilang terkubur lumpur oleh tim Search and Rescue (SAR) sudah dihentikan. Di jalan raya Sidoarjo-Porong, ratusan personel Dalmas dan Brimob Polda Jatim terlihat berjaga-jaga untuk mengantisipasi isu demonstrasi besar yang akan dilakukan masyarakat menyangkut tidak adanya kejelasan ganti rugi oleh Lapindo Brantas inc.
posted by iddaily[dot]net @ Sunday, December 03, 2006   0 comments
02 December 2006
Press Release AJI and UNICEF

Please click the Press Release title to read the story

Press Release
PENGUMUMAN PEMENANG
Lomba Nasional Penulisan Anak Untuk Wartawan 2006, AJI & UNICEF

Berbagai persoalan yang dihadapi anak telah dituliskan oleh para jurnalis. Sekitar 134 artikel telah masuk dalam “Lomba Nasional Penulisan Anak Untuk Wartawan 2006” yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Unicef.

Lomba ini dibuka selama sebulan yaitu dari tanggal 1 september -1 Oktober 2006. Seleksi awal kemudian dilakukan oleh tim dari AJI, yang kemudian seleksi pada sisi content/ isi tulisan dilakukan oleh tim Juri.

Tim Dewan Juri terdiri dari: Ninuk Mardiana Pambudy (Wartawan Kompas), Atmakusumah Astraatmadja (Pengamat Pers/ Lembaga Pers Dr. Soetomo), Mohammad Farid (Komnas HAM), Magdalena Sitorus (Komisi Perlindungan Anak), Antarini Arna (Yayasan Pemantau Hak Anak), Sumarni Dawam Rahardjo (Deputi Perlindungan Anak Kementrian Pemberdayaan Perempuan), Kendartanti Subroto (Unicef) dan Heru Hendratmoko (AJI).

Salah satu dewan juri, Atmakusumah mencatat bahwa hampir semua tulisan anak yang mengikuti lomba ini, bernada duka, penuh tangis dan hampir tiada keceriaan.

Analisa ini terus membuktikan bahwa anak di Indonesia ternyata punya banyak sisi kelam dari kehidupannya. Tentu saja, hal ini tidak sesuai dengan banyaknya media remaja yang muncul di Indonesia yang lebih banyak menawarkan gaya hidup perkotaan/ gaya hidup masa kini. Banyak media ini muncul dan menuliskan tentang keceriaan. Sangat kontras dengan tulisan para jurnalis ini.

Tulisan dari para jurnalis ini, cukup untuk meneropong sekaligus memetakan kondisi anak di Indonesia saat ini. Mulai dari anak yang harus hidup dengan HIV/AIDS tanpa ia tahu darimana mendapatkannya, anak yang kehilangan identitasnya, hingga anak-anak yang mendapatkan pelecehan dan kekerasan seksual dari orang-orang terdekatnya.

Di satu sisi lontaran maupun kritikan kerap ditujukan untuk media, dimana para jurnalis bekerja. Hingga saat ini, ternyata belum banyak media yang memberikan porsi khusus untuk peliputan dan penulisan anak. Disinilah kerja para jurnalis benar-benar diuji. Untuk menjadi anjing penjaga persoalan anak di masyarakat, sekaligus tetap siaga untuk terus menuliskan persoalan anak di medianya sendiri.

Namun dari tulisan para jurnalis ini selanjutnya membuktikan satu hal. Walaupun sedikit, kecil, namun ia mampu menembus ruang-ruang kecil. Ruang kecil yang biasanya selalu diisi oleh berita atau materi lain yang dianggap lebih penting. Namun yang sedikit dan kecil ini ternyata mampu menuliskan pengalaman kehidupan seorang anak, setiap anak, dengan segala cerita kesedihan sekaligus kepedihan mereka.

Dari beberapa tulisan ini, selanjutnya Dewan Juri memutuskan bahwa pemenang Lomba ini adalah:
1. Yuniarti Tanjung dari Majalah Femina (Jakarta) dengan judul tulisan : Stop! Kekerasan Seksual Pada Anak
2. Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat (Bandung) dengan judul tulisan : Pengakuan Anak Yang Berkonflik dengan Hukum
3. Imam Dwianto Nugroho dari Harian The Jakarta Post (Surabaya) dengan judul tulisan : It’s the hard-knock life for juvenile offenders

Kemudian dari artikel ini, AJI dan UNICEF menerbitkan 3 tulisan mereka serta 8 tulisan finalis lain yang terpilih ke dalam bentuk buku yang berjudul : Sebab Ia Dijuluki “Hari Ini”.

Jakarta, 30 November 2006

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Saturday, December 02, 2006   2 comments

English Version
News Index 10
Think Sport
Jojo Raharjo
Seandainya pertarungan Tyson dan Holyfield digelar di Stadion Manahan Solo atau di Lapangan Simpang Lima Semarang dan disaksikan Kapolda Jateng Alex Bambang Riatmodjo, bisa jadi, Mike Tyson segera menjalani proses verbal di polsek terdekat.
Kumpulan informasi tentang tentang Wolrd Cup 2010 Afrika Selatan. Plus, panduan bagi penggila bola yang gemar mengadu nasib tebak skor.
Atmosphere
Syarief Wadja Bae
Kubaca lagi tulisanmu. Kemudian aku simpulkan, sebenarnya jalan kita sama, hanya saja cara kita beda dalam memahami rambu-rambu.
My Family
Balgis Muhyidin
Mungkin judul tulisan ini, Nasibmu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) seolah olah menyatakan bahwa saya tidak berpihak kepada mereka.
Photo Corner
Fully Syafi
Keindahan dan kemewahan sel Artalita Suryani atau Ayin di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, membuat saya ingin menyuguhkan "keindahan" sel yang sebenarnya.
Book For Good
Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara adil dengan pemilik tanah,..
Monthly Index
Column
Atmosfir | Atmosphere
Resensi Buku | Book for Good
Pojok Foto | Photo Corner
Nol Kilometer | Zero Km
Keluargaku | My Family
Olah Raga | Think Sport
Wallpaper | Wallpaper
Galeri Foto | Photo Gallery
Theme
Bencana | Disaster
Budaya | Culture
Central Borneo
Cerita Pendek | Short Story
Hukum | Law
Jambi Sumatera
Jurnalistik | Jurnalism
Kabar Dari Seberang
Kesehatan | Health
Lingkungan Hidup | Environment
Luar Negeri | Oversea
Olah Raga | Sport
Opini | Opinion
Pendidikan | Education
Politik | Politic
Sosial | Social
Timor Barat | West Timor
Profile
Blog Profile
Advertisement
Code of Ethic
Twitter: @iddaily
Facebook: Iddailys Book
Tamu Negara
kado_obama
Special Column
Badai ini tak kalah heboh dari badai yang terjadi dua pekan sebelumnya.
imn_fixer_us_gerak
Download
Want to know about Indonesia? Please see this movie.
Focus
Organisasi lingkungan Internasional, Greenpeace mencatat beberapa poin penting yang dikatakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Copenhagen.
Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi terlibat kasus Bank Century?
iklanblog_gerak
Netter Said
"Selamat Ultah untuk Iddaily.net. Menurutku, perlu pembenahan untuk mengenalkan IDDAILY pada publik agar lebih tahu lebih luas. Salut pada citizen jurnalismnya. Lain kali Aku masukin tulisan di sini dan harus dimuat! Hehe,.."
Nurdiyana Munir | Surabaya
Comment Please

ShoutMix chat widget

counter
Dewan Redaksi
Iman Dwianto Nugroho, Jojo Raharjo, Fully Syafi, Balgis Muhyidin, Agung Purwantara, Diana Sasa, Syarief Wadja Bae.
Penulis Special: Maya Mandley (Kabar Dari Seberang), Senja Madinah (Cerita Pendek)
Email: iddaily@yahoo.com
Phone: +62.81.6544.3718
Redaksi menerima kiriman berita, foto dan press release melalui iddaily@yahoo.com.
BCA Bank | no.610006740 | Mandiri Bank | 1420005410716 | an. Iman D. Nugroho