Professional News Blog

28 September 2006
Masyarakat Tambak dan Pengungsi Resah Atas Keputusan Presiden
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengizinkan pembuangan lumpur beracun Lapindo Brantas Inc ke laut melalui Kali Porong memunculkan keresahan bagi masyarakat tambak di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Mereka khawatir, langkah membuang lumpur secara langsung tanpa melalui water treatment itu menjadi awal tercemarnya tambak-tambak mereka. Selain itu, ancaman banjir seiring dengan meningkatnya endapan lumpur di kali Porong sanggup memunculkan bencana yang jauh lebih besar.

Seperti diberitakan The Jakarta Post Kamis ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merestui beberapa langkah mengatasi lumpur panas Lapindo. Di antaranya, membuang lumpur panas itu secara langsung ke laut melalui Kali Porong. Selain itu, Presiden SBY meminta lumpur yang ada di Sidoarjo bisa diolah di Desa Ngoro dan Krian Sidoarjo. Daerah di sekitar pusat semburan lumpur, yang terdiri dari tujuh desa ditetapkan sebagai daerah rawan dan tidak bisa ditinggali. Untuk itu akan ada relokasi penduduk.

Semua biaya yang diperkirakan mencapai Rp.1,5 trilyun akan ditanggung sepenuhnya oleh Lapindo Brantas Inc. Muchtar, salah satu pekerja tambak di Kecamatan Plumbon mengungkapkan hal itu pada The Jakarta Post, Kamis (28/09) ini. Menurutnya, setelah pemerintah memutuskan untuk membuang lumpur ke laut, hampir seluruh pekerja tambak merasa tidak memiliki lagi harapan. "Kalau sudah diputus oleh Presiden Sby, siapa lagi yang akan membela para petambak," kata Muchtar pada The Post.

Padahal, sejak awal masyarakat tambak di Sidoarjo sudah mengingatkan efek yang ditimbulkan air lumpur lapindo bagi 7 ribu ha lahan tambak. "Pada awalnya, sebelum air lumpur dibuang ke laut, sudah ada rembesan air lumpur ke tambak, itu saja sudah membuat ikan-ikan mati, sekarang apa lagi bila dibuang secara langsung," katanya. Udang dan ikan bandeng yang ada di tambak pun sudah banyak yang mati.

Hingga petani tambak memutuskan untuk melakukan panen dini. "Nah, sekarang, bila dibuang secara langsung, besar kemungkinan, seluruh tambak yang ada di Sidoarjo akan tercemar," jelas Muchtar. Kerugian yang terjadi akibat hal itu bisa mencapai trilyunan rupiah. Untuk biaya sewa tambak saja, di Sidoarjo bernilai Rp.90-Rp.150 juta/tahun. Belum lagi biaya pembibitan ikan dan udang yang mencapai ratusan juta setiap bulannya. "Siapa yang akan mengganti semua itu? Apa Lapindo atau pemerintah?," tanya Muchtar.

Namun, agaknya keresahan petambak tidak bersambut. Tim Pelaksana Tim Nasional (Timnas) Penanggulangan Semburan Lumpur Lapindo Brantas Inc tetap akan melanjutkan keputusan Presiden dengan mendatangkan tiga unit pompa lumpur dari Batam dan Jakarta. Ketiga unit pompa itu mampu memiliki kapasitas menyedot lumpur sebanyak 25 ribu meter kubik per hari. Selain itu, saat ini sudah dilakukan pengalihan pipa yang awalnya menuju ke laut, berubah menuju ke Kali Porong dan selat Madura, untuk membuang lumpur. Proses pembuangan lumpur akan dilakukan 5 Oktober mendatang.

Berdasarkan penelitian Puslitbang Geologi Kelautan, pembuangan luapan lumpur langsung ke Kali Porong (Kali Brantas) secara teknik masih mungkin dilakukan karena debit aliran air Kali Porong jauh lebih besar daripada debit aliran lumpur ini. Demikian pula kualitas air (kandungan suspended solid) Kali Porong di hilir juga sudah sangat pekat, dicirikan oleh cepatnya proses pembentukan delta-delta pada muara Kali Porong.

Lumpur Lapindo secara megaskopis memiliki kemiripan dengan sedimen permukaan di Selat Madura. Lumpur Lapindo juga dinilai lebih cepat mengendap pada medium air laut dibandingkan pada medium air tawar, dengan kata lain, air laut juga tidak keruh. Hanya saja, dalam prosesnya, lumpur itu perlu diencerkan agar bisa mengalir lebih cepat di pipa berdiameter 54 cm. Bila tidak, akan terjadi penyumbatan.

Untuk menghindari pecahnya lumpur karena ombak, sedapat mungkin lumpur ditempatnya pada kedalaman di bawah 14 m. Pada kedalaman ini lumpur akan merayap oleh efek gravitasi menuju kedasar cekungan dasar laut selat Madura dan akan terus mengalir ke timur secara alami.

Selain petambak, pengungsi yang menjadi korban lumpur pun mengalami resah. Apalagi ada wacana memindah ribuan pengungsi itu ke luar pulau seperti Kepulauan Riau dan Kalimantan. "Seluruh pengungsi hampir pasti akan menolak bila dipindahkan ke luar pulau, karena hal itu sama saja dengan membuang kami dan menjadikan kami sebagai transmigran," kata Ahmad Novi, warga Jatirejo yang kini mengungsi di Pasar Porong pada The Jakarta Post.

Ahmad Novi mengatakan, seluruh penduduk Sidoarjo adalah petani dan memiliki usaha sampingan sebagai sandaran hidup. Bila dipindah ke luar pulau, hampir pasti semua usaha yang dirintas selama ini akan mati. "Apa yang kami lakukan di sana, bagaimana dengan usaha yang kami rintis selama ini," kata Novi dengan nada tinggi. Penolakan yang sama juga dikatakan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Muhammad Saiful Aris menilai, langkah pemerintah melakukan relokasi penduduk korban lumpur Lapindo bisa dibatalkan bila masyarakat melakukan tuntutan hukum atas hal itu. Hanya saja, Aris menilai masyarakat korban Lapindo seakan tidak memiliki kuasa untuk itu, karena selama ini selalu diposisikan sebagai pihak yang terpojok. "Masyarakat tidak punya pilihan, karena mereka selalu diposisikan terpojok, tapi kalau mau menuntut secara hukum bisa saja," jelasnya.

Karena itu, saat ini hal terbaik yang bisa dilakukan adalah terus menagih janji pemerintah untuk memenuhi semua hak masyarakat korban Lapindo. Bila hal itu tidak dikontrol, Aris khawatir pemerintah akan lari dari tanggungjawab. "Perlu diingat, masyarakat adalah korban dalam kasus Lapindo, jangan disia-siakan," kata Aris.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Thursday, September 28, 2006   0 comments
27 September 2006
Relokasi Bersyarat Masyarakat Korban Lumpur adalah Langkah Terbaik
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur meminta pemerintah segera melakukan relokasi bersyarat penduduk yang tinggal di sekitar lokasi semburan lumpur panas beracun milik Lapindo Brantas Inc di Porong, Sidoarjo. Langkah itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan warga dari kemungkinan bencana yang lebih parah. Apalagi, penangan semburan lumpur itu hingga menjelang bulan ke lima ini tidak segera bisa di atasi.

Desakan itu dikatakan Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Ridho Saiful Ashadi pada The Jakarta Post, Rabu (27/09) ini. "Kami mendesak segera dilakukan relokasi bersyarat pada masyarakat sekitar lokasi semburan," kata Saiful. Relokasi bersyarat yang dimaksud itu adalah upaya merelokasi masyarakat, tanpa meninggalkan hak-hak yang melekat pada masyarakat tujuh desa yang kemungkinan akan ditenggelamkan itu.

Hal mendasar yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam relokasi bersyarat adalah mengikut sertakan warga dalam pembicaraan relokasi itu. "Warga harus ditanya, apa mau direlokasi di tempat yang disediakan pemerintah? Apa yang harus disediakan pemerintah dalam relokasi itu? dan lain-lain, karena selama ini warga tidak pernah diajak bicara, khususnya masalah relokasi," ungkap Saiful.

Persoalan tempat yang benar-benar aman, juga hal penting untuk diperhatikan. Jangan sampai, relokasi nanti berada di wilayah yang juga memiliki tingkat resiko yang tinggi. Mengingat, berdasarkan analisis dampak lingkungan (Amdal) milik Lapindo Brantas inc, Sidoarjo memiliki kurang lebih 43 titik sumur minyak yang tersebar di 42 desa.

Dalam pembicaraan itu, harus dilakukan hitung-hitungan secara menyeluruh kerugian-kerugian yang selama ini diderita oleh masyarat. Tidak hanya kerugian ekonomi, melainkan kerugian sosial, psikologi dll. "Semua kerugian itu harus ditanggung oleh pihak yang bertanggungjawab atas kasus lumpur ini," katanya. Polisi juga harus memastikan, pelaksanaan relokasi bersyarat itu tidak mengapuskan pertanggungjawaban hukum atas kasus itu.

Dan yang terpenting adalah hak atas keadilan masa depan pengeboran di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Walhi Jatim menduga, akan ada upaya untuk kembali melakukan pengeboran setelah penduduk selesai di relokasi. "Hal-hal seperti ini harus diatur, pemerintah harus adil memberikan sisi keadilan masyarakat, bila nanti ada pengeboran di lahan yang pernah menjadi milik masyarakat, meski masyarakatnya sudah direlokasi, bagi hasil pertambangan itu harus tetap ada," jelas Saiful.

MEMUNCULKAN MASALAH BARU

Sementara itu, Walhi Jatim menilai pembuangan lumpur Lapindo ke laut secara langsung akan memicu berbagai persoalan baru yang benih-benihnya mulai terasa mulai sekarang. Yang secara langsung bisa dirasakan adalam munculnya konflik horisontal antara penduduk dari berbagai daerah menentang pembuangan ke laut, "melawan" penduduk yang merasa pembuangan ke laut adalah solusi satu-satunya. Belum lagi pro-kontra penduduk di salah satu daerah, seperti di Mojokerto yang punya dua sikap, menolak dan menerima buangan lumpur lapindo.

"Sayangnya, isu yang muncul kemudian adalah pilihan "menyelamatkan manusia" atau "menyelamatkan ikan", padahal bukan itu persoalannya, karena ketika lumpur beracun itu dibuang ke laut, maka bukan hanya ikan, tapi manusia juga akan terkena dampaknya secara tidak langsung,"kata Saiful. Yang lebih mengerikan, bila laut sudah teracuni, maka dampaknya akan terasa di seluruh dunia, yang penduduknya bergantung pada hasil laut.

Karena itulah, beberapa NGO lingkungan dari dalam dan luar negeri saat ini sedang bersiap-siap untuk melakukan gugatan kepada pemerintah RI, bila pembuangan lumpur ke laur secara langsung itu benar-benar dilakukan. "Sudah ada pertemuan-pertemuan untuk membicarakan hal itu," kata Saiful.

Ironisnya, Pemerintah melalui Polwil Surabaya merespon segala penolakan masyarakat terhadap langkah penanganan lumpur dengan ancaman tembak di tempat. Hal itu menurut Atoillah dari LBH Surabaya adalah teror kepada masyarakat oleh polisi. "Ancaman itu adalah teror polisi pada masyarakat, seakan-akan polisi tidak mau melihat bahwa penolakan masyarakat itu adalah reaksi dari apa yang sudah dialaminya," jelas Atoillah pada The Post.

Karena itulah, Atoillah meminta polisi segera mencabut hal itu. Bila hal itu tidak dilakukan maka instansi yang ada di atasnya, seperti Kapolda Jatim maupun Kapolri harus memerintahkan anak buahnya untuk mencabut perintah tembak ditempat itu. "Penetapan tembak di tempat itu ada ukurannya, nanti malah bisa disalahtafsirkan oleh anak buah di lapangan, untuk itu Kapolda Jatim dan Kapolri harus turun tangan mencabut penetapan tembak ditempat itu," katanya.***

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Wednesday, September 27, 2006   0 comments
24 September 2006
Dokumen Vatikan Tentang Islam Yang Pantas Dicatat
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Dalam beberapa dialog, beberapa sahabat beragama Katolik dan Kristen mereaksi beragam atas komentar Paus Benedictus tentang Islam yang sempat menjadi kontoversi. Sebagian sahabat sangat menyayangkan komentar itu, sementara sebagian sahabat lain menoleransi dengan menilai Paus Benedictus adalah "manusia" yang bisa juga melakukan kesalahan. Tapi, hampir semua bersyukur, Paus asal Jerman itu dan Vatikan secara kelembagaan segera meminta maaf atas komentar yang merujuk tulisan Prof Th. Khoury itu.

Dalam perkembangan agama-agama di dunia, cara pandang antar agama pun mengalami pasang surut. Dalam buku La Bible, Le Coran Et La Sciene (Bibel, Quran dan Sains Modern) yang dikarang oleh DR. Maurice Bucaille yang diterbitkan tahun 1976 dan diterjemahkan oleh Prof. DR. H.M Rasjidi pada tahun 1978, mencatat hal itu.

DR. Maurice Bucaille menilai, hal-hal mengenai Islam pada umumnya tidak diketahui oleh orang di negeri barat. Pemakaian kata "religion Mahomatane" (Mohammedanism) dan "Mohametans" (Mohammedans) masih dipakai untuk memelihara suatu anggapan yang salah tentang Islam adalah kepercayaan yang disiarkan oleh manusia, dan dalam Islam tidak ada tempat bagi Tuhan.

Banyak kaum terpelajar yang tertarik oleh aspek Islam mengenai filsafat, kemasyarakatan dan ketatanegaraan. Tetapi mereka tidak menyelidiki lebih lanjut bahwa aspek-aspek itu berdasar pada Wahyu Islam dan berdasar pada wahyu-wahyu yang diterima nabi-nabi sebelumnya.

Pada akhir-akhir ini (disekitar tahun 1976-an) terjadi perobahan besar dalam tingkat tertinggi dalam dunia Kristen. Setelah Konsili Vatican II (1963-1965), sekretariat Vatikan untuk urusan urusan dengan agama Non-Kristen, menyiarkan dokumen "Orientasi untuk dialog antara Umat Kristen dan Umat Islam".

Dokumen tersebut menunjukkan pergantian sikap yang mendalam secara resmi. Mula-mula, dokumen tersebut mengajak umat Kristen untuk melempar jauh image yang diperoleh umat Kristen tentang Islam. Yaitu "Image usang, yang telah diwarisi dari masa silam, atau image yang salah karena karena didasarkan prasangka dan fitnahan".

Kemudian, dokumen tersebut mengakui adanya ketidakadilan di masa lalu, yaitu "Ketidakadilan yang dilakukan oleh Pendidikan Kristen terhadap Umat Islam" di antaranya mengenai gambaran umat Kristen yang salah tentang fatalisme Islam, juridisma Islam, fanatisma dan lain-lain.

Dokumen tersebut menegaskan kesatuan akan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta menyebutkan bahwa Kardinal Koenig telah membikin para pendengarnya tercengang ketika ceramah resmi di Universitas Al Azhar pada bulan Maret 1969, menerangkan hal tersebut.

Dokumen tersebut juga mengatakan bahwa sekretariat Vatikan untuk urusan urusan dengan agama Non-Kristen, mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk mengucapkan selamat kepada umat Islam sehubungan dengan berakhirnya bulan puasa Ramadhan dan menyebutkan puasa itu sebagai "sesuatu nilai agama yang autentik."

Ketua sekretariat Vatikan untuk urusan urusan dengan agama Non-Kristen, Kardinal Pignedoli pernah mengunjungi Sri Baginda Raja Faisal (almarhum) dari Arab Saudi pada 24 April 1974. Dalam kunjungan itu Kardinal Pignedoli menyampaikan pesan Paus Paulus VI yang berisi: Rasa hormat Paus Paulus VI, yang diiringi dengan keyakinan mendalam tentang Kesatuan Dunia Islam dan Dunia Kristen yang kedua-duanya menyembah Tuhan yang Satu.

Paus Paulus VI juga mengatakan,"Dijiwai dengan kepercayaan penuh tentang kesatuan Dunia Islam dan Kristen yang menyembah Tuhan Yang Satu", akan membuka lembaran baru dalam hubungan kedua agama. Enam bulan kemudian, pada Oktober 1974, Paus Paulus VI secara resmi menetima ulama-ulama Saudi Arabia di Vatikan.

Pada waktu itu juga diadakan diskusi antara pihak Islam dan Kristen mengenai: Hak-hak Manusia dalam Islam. Ulama-ulama Arabia kemudian mengunjungi Majelis Ekumeni Gereja di Geneva yang diterima oleh Monsigneur Elchenger, Uskup Strasbourg, yang kemudian meminta kepada mereka untuk bersembahyang Dhuhur di Katedral.

DR. Maurice Bucaille menilai, sikap kepala Gereja Katolik terhadap Umat Islam sangat perlu sekali, karena banyak orang Kristen terpelajar berpikir seperti yang dilukiskan oleh Dokumen Orientasi untuk dialog antara Umat Kristen dan Umat Islam dan tetap menolak menyelidiki ajaran-ajaran Islam. Dan karena sikap tersebut, mereka tetap tidak memahami realitas dan tetap berpegang kepada ide yang sangat salah mengenai Wahyu Islam.

*Terima kasih untuk saudaraku dari Katolik dan Kristen tentang kesediaannya berdialog dan menjelaskan semua hal tentang ke-Kristen-an. Semoga menjadi awal yang baik.
posted by iddaily[dot]net @ Sunday, September 24, 2006   0 comments
23 September 2006
Anak-Anak Sutet
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


ANAK DAN SUTET. Nasib anak kota memang mengenaskan. Minimnya lahan bermain, menyebabkan mereka bermain di bawah saluran tegangan tinggi (sutet) dan areal proyek. Seperti yang terlihat di bantaran kali Jagir Surabaya di Nginden ini. Foto diambil Jumat (22/09).
posted by iddaily[dot]net @ Saturday, September 23, 2006   0 comments
Mahasiswa vs Jurnalis, Bentrokan Dua Saudara se-Kandung
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Artikel ini sengaja ditulis, sehari setelah peristiwa bentrokan antara aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan jurnalis terjadi di sela-sela demonstrasi di depan kantor Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Kamis (21/09) lalu. Karena memerlukan check and richeck dari kedua belah pihak, sebelum berbicara dalam pertanyaan besar: Mengapa Dua Saudara se-Kandung (aktivis mahasiswa dan jurnalis) bisa bentrok? Jawabnya sederhana: Nasi sudah menjadi bubur, bagaimana cara menciptakan bubur yang lezat dan bermanfaat.

Tidak ada orang waras di seluruh dunia, yang tidak menyesalkan insiden yang terjadi di sela-sela kondisi Indonesia yang tengah dirundung duka bertubi-tubi ini. Terutama bila kita menilik sejarah, betapa aktivis mahasiswa dan jurnalis ibarat dua pedal sepeda yang satu sama lain saling membutuhkan. Ketika ”pedal” aktivis mahasiswa mengayuh dengan isu-isu konstruktif yang dibuatnya, ”pedal” jurnalis berada di belakang untuk meliputnya.

Ketika ”pedal” jurnalis berada di depan untuk melanjutkan (baca: memberitakan) pada masyarakat, ”pedal” aktivis mahasiswa berada dibelakang untuk melihat efek dari langkah yang sudah dibuatnya. Bila keduanya berjalan dengan baik, akan tercipta sebuah gerakan ”rantai” solidaritas dan kesadaran masyarakat. Langkah selanjutnya adalah berputarnya ”roda” kehidupan yang membuat seluruh kondisi berjalan maju, seperti sepeda yang melaju kencang.

Ingat bagaimana aktivis mahasiswa dan pers saling bahu-membahu di jalan perjuangan menuju kemerdekaan. Atau ketika pers mendukung gerakan mahasiswa di tahun 1966. Dan yang paling fenomenal, bagaimana mahasiswa dan pers berperan aktif dalam gerakan reformasi 1998. Semoga bulan madu mahasiswa dan pers ini tidak mudah dilupakan.
Tapi yang terjadi Kamis itu, tidak demikian adanya. Entah mengapa, sebuah kesalahan sejarah terjadi. ”Pedal” yang seharusnya mengayuh, justru menabrak ”pedal” jurnalis. Merasa tertabrak, ”pedal” jurnalis pun balas menabrak. Ratai solidaritas masyarakat yang seharusnya bisa terbangun akhirnya rontok. Sepeda pun untuk sementara berhenti melaju. Siapa yang salah? Tidak ada. Hanya sebuah kealpaan sesaat.

Kawan-kawan mahasiswa mungkin lupa, pers punya mekanisme untuk menyelesaikan sengketa pemberitaan yang dibuatnya. Lihat UU no.40 tahun 1999 tentang Pers, pada Pasal 5. Pada ayat dua dan ayat tiga menyebutkan Pers wajib melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi. Artinya, lihat Pasal 1, Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

Sementara Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Nah, berbicara soal ketidaksetujuan tentang pemberitaan pers, harusnya melakukan sesuatu yang sesuai pasal-pasal itu. Kalau hal itu masih dianggap tidak memuaskan, bisa melakukan dialog dengan anggota redaksi atau Tim Obudsman untuk memberikan penjelasan yang dianggap benar. Bila kurang memuaskan juga, laporkan lembaga pers yang dimaksud ke Dewan Pers. Dewan Pers akan ”mengadili” media yang bersangkutan. Mekanisme di atas adalah mekanisme yang juga dipakai di seluruh dunia (pada negara-negara yang coba berdemokrasi tentunya), untuk menyesaikan sengketa dengan pers.

Untuk teman-teman jurnalis. Kealpaan yang mungkin hinggap dalam benak jurnalis ketika itu adalah memandang demonstrasi sebagai demonstrasi. Demonstrasi adalah langkah yang diambil akibat buntunya saluran komunikasi yang ada. Nah, kita tentu ingat bagaimana psikologi massa ketika demonstrasi terjadi. Semangat yang memuncak, berpadu dengan sinar matahari yang terik dan keringat yang mengucur, akan menciptakan efek-efek temporer. Kalimat-kalimat pendek dan to the point meluncur begitu saja dari seorang orator.

Lihat saja bagaimana demonstran dengan santainya melantunkan lagu,”Angkatan Bersenjata Republik Indonesia,...Tidak Berguna,...Lupakan Saja,...Diganti Menwa,...Ya Sama Saja,..Lebih Baik Diganti Pramuka,..”. Bahkan, ada kalimat-kalimat lebih pedas yang dinyanyikan dengan santai. Wah, bisa kita bayangkan betapa merah telinga orang-orang yang mendengarnya.

Atau, dengan tindakan-tindakan yang secara hukum jelas melanggar. Ingat bagaimana demonstran menentang AS dan Israel membakar bendera dua negara itu? Atau mencoreng moreng atau membakar gambar mantan pejabat yang mereka lawan? Tapi begitulah demonstrasi. Lugas dan apa adanya. Saya yakin, kawan-kawan jurnalis ingat betul dengan lagu-lagu itu. Sebagian dari jurnalis mungkin juga seorang demonstran dikala muda.

Ketika demonstran dengan kealpaannya mengkritik pers, mungkin kalimat yang terlontar bukan kalimat seperti orang yang berdiskusi, melainkan kritik lugas, pedas bahkan terkesan menghina. Mengapa jurnalis lantas mempersoalkan hal itu? Sekali lagi, itulah bahasa demonstran, bahasa jalanan.

Oke. Nasi memang sudah menjad bubur. Tidak ada persoalan yang selesai dengan jalan kekerasan. Saya yakin, jauh dilubuk hati kawan-kawan mahasiswa dan kawan-kawan jurnalis yang Kamis lalu sempat bersitegang, ada penyesalan. Seperti ketika kita bentrok dengan saudara kandung kita. Mari membuka lembaran baru. Berjabat tangan dengan saudara sekandung, jelas lebih mulia dari pada terus mengobarkan bendera peperangan.

Alhamdulillah, langkah ke arah perdamaian sudah terintis. Mahasiswa dan jurnalis yang sama-sama menjadi korban kejadian ini mencabut laporannya. Keduanya sepakat untuk saling memaafkan atas kekeliruan sejarah yang Kamis kelabu lalu pecah di tengah demonstrasi mahasiswa.

Ingat kawan, masih banyak persoalan rakyat yang harus kita pikirkan dan kita bela bersama-sama. Hingga pedal kembali saling mengayuh, rantai solidaritas kembali menguat dan sepeda bisa melaju kencang. Wuss...Hidup Mahasiswa! Hidup Jurnalis!

Labels: ,

posted by iddaily[dot]net @ Saturday, September 23, 2006   0 comments
19 September 2006
Pidato Paus Benedictus yang Kontroversial itu,...
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

Ada posting menarik soal pidato Ilmiah dari Paus Benediktus, yang diterjemahkan oleh Romo BS Mardi. Hasil posting dari mailing list Jurnalisme. Semoga bermanfaat.

"Iman, Akal Budi dan Universitas"
Kuliah Paus Benedictus, 12.9.2006


Bagiku merupakan saat mengharukan, bahwa saya berdiri lagi di mimbar Universitas ini dan sekali lagi boleh memberikan kuliah. Dalam pada itu pikiranku kembali ke tahun-tahun, ketika saya menerima tugas sebagai guru akademis di Universitas Bonn setelah suatu kurun waktu indah di Sekolah Tinggi Freising. Waktu itu ? 1959 ? masih jaman tata Universitas lama. Untuk setiap mata kuliah tidak ada asisten atau sekretaris: tetapi untungnya malah ada perjumpaan yang amat langsung dengan mahasiswa dan terutama juga antara para Profesor satu sama lain.

Di ruang dosen kami dapat ketemu sebelum atau sesudah kuliah. Kontak antara ahli sejarah, filsuf, filolog dan tentu saja juga antara para teolog dari kedua fakultas teologi (Protestan dan Katolik) sangat akrab. Tiap semester ada Hari Akademi: pada saat itu Profesor dari semua fakultas memperkenalkan diri kepada para mahasiswa seluruh Universitas dan dengan demikian menjadi mungkinlah untuk mengalami Universitas benar-benar.

Bahwa kami (dengan semua spesialisasinya kadang kala membuat kami tidak dapat bicara satu sama lain), toh merupakan satu kesatuan dan semuanya bekerja dengan satu akal budi dengan aneka dimensinya serta sama-sama mengalami pertanggungjawaban penggunaan akal budi secara benar. Universitas juga bangga dengan kedua fakultas teologinya (Protestan dan Katolik). Jelas, bahwa kedua fakultas itu, dengan mengajukan pertanyaan rasional kepada iman, yang perlu agar menjadi bagian dari seluruh 'Universitas scientiarum' , pun kalau imannya tidak dapat sama, mendorong para teolog untuk sama-sama menggunakan akal budi.

Kesatuan batin dalam dunia akal budi itu tidak juga terganggu, tatkala pernah terdengar, katanya ada kolega dosen yang berucap: di Universitas kita katanya ada hal aneh, yaitu bahwa ada 2 fakultas yang mempelajari 'sesuatu yang tidak ada' (yaitu Allah). Bahwa di tengah sikap skepsis seperti ini tetap perlu dan rasional saja, mengajukan pertanyaan secara rasional tentang Allah dan melakukannya dalam kaitan dengan Tradisi iman katolik, tidaklah dipermasalahkan di seluruh Universitas.

Semua itu muncul dalam kesadaranku lagi, ketika belum lama ini saya membaca bagian dialog yang diterbitkan oleh Prof Th. Khoury (Muenster): di situ: dialognya dari tahun 1391 di suatu barak musim dingin dekat Ankara antara Kaisar terpelajar Manuel II Palaeologos dengan sang bijak dari Persia mengenai agama kristiani dan Islam dan mengupas soal kebenaran keduanya. Kaisar mungkin menuliskan dialog itu saat pengepungan Konstantinopel antara 1394 dan 1402 (maka ia menguraikan pendiriannya sendiri jauh lebih rinci daripada jawab sang ahli dari Persia.) Dialog itu mencakup seluruh jaringan iman dalam Alkitab dan Al Qur'an serta terutama berkisar tentang citra Allah dan gambaran manusia, tetapi juga tentu saja lagi dan lagi mengenai hubungan antara ketiga Kitab Hukum Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al Qur'an.

Dalam kuliah ini saya hanya akan menyebut satu butir (yang juga tidak merupakan inti dialog itu): satu butir yang menarik perhatian saya dalam kaitan dengan tema "Iman dan Akal Budi" dan dapat bermanfaat untuk menjadi pangkal pemikiran saya.

Dalam buku yang diterbitkan Prof Khoury itu pada lingkaran diskusi yang ketujuh, Kaisar sampai pada tema Jihad (Perang Suci). Kaisar pasti tahu, bahwa dalam Surah 2, 256 dikatakan mengenai tiadanya paksaan untuk urusan iman ? itu satu di antara Surah-surah pertama dari masa, ketika Muhammad sendiri dalam kondisi lemah dan terancam. Kaisar tentu tahu juga akan yang tertulis dalam Al Qur'an ? kelak tersusunnya ? ketentuan mengenai Perang Suci. Tanpa mau masuk ke dalam rinci-rincian, bagaimana hubungan antara umat Ahli Kitab dan Orang Tak Beriman, Kaisar secara mengherankan memakai cara langsung ke dalam pertanyaan utama tentang hubungan antara agama dan kekuasaan kepada rekan bicaranya.

Ia berkata "Tunjukkanlah, apa yang dibawa Muhammad dan Anda hanya akan menemukan yang buruk dan tidak manusiawi, seperti bahwa ia memerintahkan agar iman yang diwartakannya disebarluaskan dengan pedang. Hal itu bertentangan dengan kodrat Allah dan kodrat jiwa". "Allah tidak mencintai darah dan tidak bertindak rasional itu bertentangan dengan hakikat Allah. Iman itu buah jiwa, bukan dari tubuh. Maka siapa yang menyuruh orang untuk beriman, perlu menggunakan argumentasi yang baik dan cara berpikir yang benar, bukan kekuatan dan ancaman. Untuk meyakinkan seseorang yang rasional, perlulah orang bukan tangan atau alat kekerasan atau sesuatu alat, yang dapat mengancamkan kematian". Kalimat yang menentukan dalam argumentasi terhadap pentobatan dengan kekerasan berbunyi: "bertindak tidak secara rasional, itu bertentangan dengan kodrat Allah".

Si penyunting (Th. Khoury) memberi komentar sbb: Bagi Kaisar itu (yang dibesarkan sebagai orang Byzantium dalam filsafat Yunani) kalimat itu sudah jelas. Sebaliknya bagi ajaran Islam, Allah itu mutlak transenden. KehendakNya tidak terikat pada kategori-kategori kita mana pun, termasuk rasionalitas. Untuk itu Khoury mengutip suatu karya dari Islamolog Perancis yang terkenal (R. Arnaldez), yang mengatakan, bahwa Ibn Hazn sampai menyatakan, bahwa Allah tidak dibatasi oleh SabdaNya sendiri dan tak ada yang mewajibkanNya untuk mewahyukan kebenaran. Bila ia menghendaki itu, mestinya bisa menyembah berhala.

Di sini terkuaklah perbedaan cara orang memahami Allah dan dengan demikian juga dalam secara konkret melaksanakan agama, yang sekarang merupakan tantangan langsung bagi kita. Hanya cara Yunanikah utk berpendapat bhw "bertindak tak rasional itu bertentangan dengan hakikat Allah", ataukah itu berlaku selalu dan memang secara hakiki demikian?

Saya pikir, di sini ada nada sama antara apa yang secara Yunani tepat dan apa yang tampak dalam Alkitab mendasari iman akan Allah. Seraya mengubah ayat pertama Kitab Kejadian, Yohannes membukan Prolog Injilnya dengan kata: "Pada awal mula ada Sabda". Itulah yang persis dipakai oleh Kaisar: Allah bertindak dengan Sabda. Sabda itu akal budi dan sekaligus kata ? suatu akal budi, yang kreatif dan dapat mengkomunikasikan diri tetapi memang secara rasional. Dengan demikian Yohannes memberi kata penutup pada paham alkitabiah ttg Allah: di situ semua jalan yang sering sulit dan samar2 mengenai iman alkitabiah sampai di tujuan akhir dan menemukan sintesisnya.

Pada awal mula ada Sabda, dan Sabda adalah Allah: begitulah kata Pengarang Injil. Ketemunya pesan Alkitab dengan pemikiran Yunani tidaklah kebetulan. Visi St. Paulus, (yang tertutup jalannya ke Asia dan yang kemudian melihat wajah orang Macedonia dan mendengarnya memanggilnya utk datang dan menolong ? Kis 16: 6-10) ? visi itu dapat menjadi pengentalan perjumpaan batin antara iman alkitabiah dan pertanyaan hidup pola Yunani.

Sementara itu, perjumpaan seperti itu sesungguhnya sudah lama berlangsung. Nama Allah yang penuh misteri dari Semak Berduri yang terbakar, yang mengkhususkan Allah ini dari banyak nama dan menyebut sebagai Sang Ada adalah penolakan Mitos, sangat analog dengan cara jaman Socrates mengatasi dan melampaui mitos. Proses yang dimulai di Semak Berduri menjadi masak lagi dalam Perjanjian Lama sewaktu Pengungsian: di situ Allah Israel yang tanpa negeri dan tanpa bakti diwartakan sebagai Allah bumi-langit dan diperkenalkan dengan istilah sederhana ? meneruskan kata-di-Semak- Berduri yi "Akulah Yang Ada". Bersama dengan pengenalan baru Allah ini terjadilah suatu pencerahan ttg Dewa2 yang secara merendahkan disebut "buatan manusia" (bdk. Mzm 115).

Demikianlah, pada masa hellenistik, dalam ketegangan tajam kepada para penguasa Yunani, yang mau memaksakan cara hidup dan cara bakti hellenistik, iman alkitabiah bersentuhan dengan segi terbaik pemikiran Yunani dari dalam ? sebagaimana khususnya akan terwujud dalam Sastra Kebijaksanaan. Sekarang kita tahu, bahwa terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang terwujud di Alexandria ? Septuaginta ? itu lebih daripada sekedar terjemahan teks Ibrani (pun kalau dinilai sedikit lebih positif): malah merupakan saksi sastra yang mandiri dan langkah penting tersendiri dari Sejarah Perwahyuan: di situ perjumpaan itu terlaksana dengan suatu cara, yang untuk berdirinya agama Kristiani dan persebarannya mempunyai arti yang menentukan.

Pada lapisan terdalam terjadilah pertemuan antara iman dan akal budi, antara pencerahan dan religi. Manuel II telah dapat berkata sungguh dari kedalaman hakikat iman kristiani dan sekaligus dari hakikat budaya Yunaninya, yang menyatu dengan iman: bertindak "tidak bersama Logos" itu bertentangan dengan hakikat Allah. Di sini, demi kejelasan perlu disebutkan bahwa pada akhir Abad Pertengahan berkembang kecenderungan2 dalam teologi, yang merombak sintesis antara Yang Yunani dan Yang Kristiani itu.

Berhadapan dengan yang disebut intelektualisme Agustinus dan Tomas, mulailah Duns Scotus dengan Voluntarisme, yang kemudian sampai mengatakan, bahwa mengenai Allah kita hanya mengenal kehendakNya, voluntas ordinata. Lebih jauh daripadanya, ada kehendak bebas Allah: karena kekuatan itu, Ia sesungguhnya dapat melakukan dan bertindak bertentangan dengan segala yang telah dilakukannya. Di situ terkuaklah pendirian-pendirian , yang dekat dengan Ibn Hazn dan dapat mengarah pada Serba-bebasnya Kehendak Allah, yang malah tidak terikat pada kebenaran dan kebaikan.

Transendensi dan keberbedaan Allah sedemikian dilampaui, sehingga akal budi, prarasa kita akan kebenaran dan kebaikan bukan lagi citra sejati Allah, yang kemampuan dasarNya di balik segala keputusanNya yang nyata itu memang bagi kita tidak terjangkau dan akan tetap tersembunyi. Terhadap hal itu, iman Gereja selalu berpegangan, bahwa antara Allah dengan kita, antara Roh PenciptaNya yang abadi dan akal budi kita yang tercipta sungguh ada analogi nyata: di situ 'ketidak-miripan' secara mutlak lebih besar dari pada kemiripan; namun di situ analogi dan bahasa tidak akan disingkirkan (bdk Lat IV).

Allah tidaklah menjadi lebih ilahi karena kita desak menuju pada Voluntarisme yang murni dan tak terbayangkan. Allah yang sungguh ilahi adalah Allah, yang menunjukkan diri sebagai Logos dan sebagai Logos dengan penuh kasih telah bertindak dan senantiasa bertindak sekarang. Tentu saja cintakasih "mengatasi 'pemahaman' dan karena itu lebih menangkap dari pada sekedar berpikir saja" (bdk Ef 3: 19 ). Namun cinta tetaplah kasih Logos Allah, asal dari ibadat kristiani ... ? ibadat, yang sesuara dengan Sabda Abadi dan dengan akal budi kita (bdk Rom 12:1).

Tindak saling mendekat yang disiratkan di sini, yaitu yang terjadi antara iman alkitabiah dan pertanyaan-pertanya an filosofis Yunani, bukanlah hanya peristiwa yang menentukan dari sudut keagamaan saja, melainkan juga dari sejarah dunia. Bila kita menangkap perjumpaan ini, tidaklah mengherankan bahwa iman kristiani, memang bermula dan tumbuh di Timur namun toh ternyata memberi meterai yang menentukan secara historis di Eropa. Kita dapat juga mengatakan sebaliknya: perjumpaan itu, yang masih ditambah warisan romawi, telah menciptakan Eropa dan tetap menjadi dasar dari yang secara sebenarnya disebut Eropa. Tesis, yang menyatakan bahwa warisan Yunani yang dimurnikan secara kritis itu merupakan bagian dari iman kristiani, sesungguhnya membawa tuntutan bahwa Yang Kristiani harus dibersihkan dari Yang Yunani: suatu gerakan yang sejak Jaman Baru mempengaruhi refleksi teologis.

Bila diperhatikan lebih jauh lagi, dapatlah dicermati adanya 3 gelombang, yang memang berkaitan satu sama lain, tetapi toh jelas terbedakan dasar dan sasarannya. Pembersihan dari sifat Yunani muncul pertama-tama dalam keprihatinan dasar Reformasi abad 16. Para Reformator melihat dari sudut filsafat, dalam tradisi sekolah2 teologis suatu sistematisasi iman tertentu: hal yang asing terhadap iman bertolak dari cara berpikir tertentu. Di situ iman tampil tidak lagi sebagai Sabda yang secara historis hidup, melainkan ditancapkan sebagai sistem filosofis.

Sebaliknya 'Sola scriptura' mencari wujud perdana iman, sebagaimana Sabda alkitabiah pada awalnya. Metafisik tampil sebagai masukan dari luar: orang beriman harus membebaskan diri darinya agar dapat menjadi dirinya lagi. Dengan cara yang bagi kaum Reformator tidak terbayangkan radikalnya, Kant telah melangkah jauh dengan mengatakan bahwa ia harus menyingkirkan pikiran, agar dapat memberi tempat kepada iman. Akhirnya ia menempatkan akar iman pada akal budi praktis dan tidak mengaitkannya dengan keseluruhan kenyataan.

Teologi Liberal abad 19-20 membawa gelombang baru dalam program pembersihan sifat2 keyunanian. Bagi mereka, Adolf von Harnack menjadi tokoh utamanya. Pada tahun studi dan masa awal pelayanan akademis saya, program itu sangat tampak dalam Gereja. Pascal membedakan Allah para filsuf dan Allah Abraham, Isak dan Yakub: itu menjadi titik pangkal pemikirannya.

Dalam kuliah saya mengawali masa bakti di Bonn (1959) saya telah mencoba mengupas masalah tersebut. Sekarang tidak akan saya telaah lagi. Namun saya sekurang2nya akan secara ringkas mencoba, memperlihatkan hal baru pada gelombang kedua dibanding gelombang pertama. Inti gagasan bagi Harnack rupanya adalah kembali ke Jesus, si manusia dan inti pesan Yesus, yang ada sebelum teologisasi atau helenisasi: pesan dasar itu menyebutkan tingkatan perkembangan sejati kemanusiaan.

Katanya Yesus menyisihkan kultus untuk digantikan moral. Ia diketengahkan sebagai bapak pesan moral yang penuh cinta kepada manusia. Sebenarnya pada dasarnya kekristenan disejajarkan dengan akal budi modern: yaitu dengan melepaskannya dari unsur2 filosofis dan teologis, seperti iman akan keilahian Kristus dan Tritunggal. Sejauh itu tafsir historis-kritis atas Alkitab menempatkan teologi dalam universitas: bagi Harnack, teologi secara hakiki historis dan ilmiah. Yang dihasilkannya dengan kritik atas Yesus adalah semacam ungkapan akal budi praktis dan dengan demikian dapat ditempatkan di universitas.

Di latar belakang kita temukan akal budi masa baru yang membatasi diri, sebagaimana ditemukan dalam Kant dan kemudian diradikalkan lagi oleh pemikir filsafat alam. Ringkasnya, paham modern mengenai akal budi ini bersandar pada hasil sintesis antara Platonisme (Cartesianisme) dan Empirisme. Di satu fihak, diandaikan struktur matematik materia (katakanlah rasionalitas batinnya), yang memungkinkan kita dapat memahami dan memakainya. Pengandaian dasar itu bisa disebut unsur platonis dari pemahaman modern tentang alam. Di sisi lain, ada soal tentang dapat berfungsinya alam untuk tujuan kita: kepastian baru kita peroleh kalau dapat dibenarkan atau disangkal dengan eksperimen.

Bobot antara keduanya dapat saja berada di salah satu sisi. Seorang pemikir yang sedemikian positivistik seperti Monod telah menyebut diri sebagai seorang Platonis atau Cartesian yang sadar dan yakin. Di sini kita mendapat 2 orientasi dasar bagi permasalahan kita. Hanya bentuk kepastian yang diperoleh dari matematik dan empirik yang memungkinkan orang bicara mengenai sifat ilmiah. Bila mau disebut ilmiah ya harus dapat diukur dengan matematik dan empirik. Maka berusahalah ilmu-ilmu seperti sejarah, psikhologi, sosiologi dan filosofi mendekati tata-kanon keilmuan (positivstik) ini.

Namun, untuk pemikiran kita masih penting bahwa metode ini menyisihkan masalah keallahan dan menyiratkan penilaian bahwa soal itu tidak ilmiah atau hanya pra-ilmiah. Dengan demikian kita ditatapkan pada penyempitan radius Ilmu dan Akal Budi: itu harus dipermasalahkan. Kita akan kembali lagi nanti. Sementara itu harus diperjelas, bahwa dengan cara pandang ini, usaha untuk menjadikan teologi itu ilmu, tinggallah kepingan upaya kecil saja. Kita harus mengatakan lebih lanjut: si manusia sendiri diperkerdil dengan cara pandang itu. Sebab, masalah-masalah yang khas manusiawi, yaitu pertanyaan mengenai dari mana dan ke mana manusia itu, pertanyaan tentang religi dan etos, tidaklah dapat mengambil tempat bersama, yang oleh akal budi dikatakan bernama ilmu dan harus ditaruh di bagian 'subyektif'. Si subyek menentukan dengan pengalamannya, apa yang agaknya dapat disebut religi dan suara hati subyektif menjadi satu-satunya instansi etis terakhir.

Kalau demikian etos dan religi kehilangan kekuatannya membentuk persekutuan dan jatuh pada sifat sewenang-wenang subyektif. Keadaan ini bagi manusia berbahaya: kita melihatnya dalam ancaman patologi religi dan akal budi, yang harus meledak, di mana akal budi disempitkan, sehingga masalah religi dan etos tidak bergandengan lagi. Tidak cukup lagilah usaha-usaha etis dari pengaturan evolusi, psikhologi dan sosiologi. Sebelum saya sampai pada kesimpulan, haruslah saya dengan singkat menyebutkan gelombang ketiga dari pembersihan unsur hellenistik masa kini.

Berkaitan dengan perjumpaan banyak kebudayaan, jaman sekarang orang biasa mengatakan, sintesis dengan kebudayaan Yunani yang terlaksana dalam Gereja Perdana, itu kan inkulturasi awal iman kristiani: kita tidak boleh memancangkan kebudayaan lain di situ. Adalah hak kebudayaan lain untuk masuk ke masa sebelum inkulturasi pertama itu: sampai ke pesan awal Perjanjian Baru, untuk berinkulturasi lebih lanjut.

Tesis ini tidak keliru, namun terlalu kasar dan kurang akurat. Sebab Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani dan di dalamnya bersentuhanlah dengan semangat keyunanian, yang sudah matang pada masa sebelumnya waktu Perjanjian Lama berkembang. Tentu saja ada lapisan-lapisan dalam proses terjadinya Gereja Perdana, yang tidak dalam semua kebudayaan masuk. Tetapi keputusan-keputusan dasar, yang berkaitan dengan iman dalam pertemuannya dengan akal budi manusia, itu merupakan bagian dari iman sendiri dan perkembangannya. Sekarang kesimpulan akhirnya: Kritik diri atas akal budi modern yang baru dilakukan, tidaklah mencakup pendirian, seakan-akan manusia harus masuk ke balik pencerahan dan meninggalkan masa modern. Besarnya perkembangan budi modern diakui tanpa dikecilkan. Kita semua bersyukur untuk kemungkinan2 besar, yang terbuka bagi manusia dan untuk kemajuan2 bagi umat manusia, yang dianugerahkan bagi kita.

Pada dasarnya etos keilmiahan adalah kehendak untuk taat pada kebenaran dan sejauh itu merupakan ungkapan sikap dasar, yang merupakan bagian dari pengambilan keputusan kristiani. Bukan menarik kembali atau kritik negatiflah yang kita maksudkan, melainkan
soalnya adalah mengenai perluasan faham tentang akal budi dan pemakaian akal budi. Sebab kita memang bersukacita dengan kemungkinan2 baru, namun kita juga melihat ancaman2 yang terbit dari kemungkinan2 itu dan kita harus mempertanyakan, bagaimana kita dapat mengatasinya.

Kita hanya dapat melakukannya, bila akal budi dan iman saling bertemu dengan cara baru; bila kita dapat mengatasi pembatasan diri akal budi atas hal-hal yang dapat dibuktikan keliru dengan eksperimen dan kembali membuka akal budi secara luas lagi. Dalam arti ini, teologi termasuk tidak hanya sebagai ilmu historis dan manusiawi, melainkan sebagai khas teologis, sebagai pertanyaan akal budi terhadap iman di universitas dan dalam dialognya dengan ilmu2 lain. Hanya dengan demikian kita akan mampu mengadakan dialog sejati antara kebudayaan dan religi, yang amat kita butuhkan.

Sejauh ini di dunia barat tersebar pendirian, hanyalah akal budi positivistis dan bentuk2 filosofis yang serupa sajalah yang bersifat universal. Tetapi dari kultur religius dunia justru dikeluarkannya Yang Ilahi dari universalitas akal budi menjadi pelanggaran terhadap keyakinan-keyakinan batin yang terdalam. Akal budi, yang tuli terhadap Yang Ilahi dan Religi yang terdesak bersembunyi dalam subkultur saja, tidaklah mampu mendorong dialog lintas budaya.

Sementara itu, saya baru saja mencoba menunjukkan, bagaimana akal budi ilmu alam modern dengan unsur platonis di dalamnya membawa-serta pertanyaan, yang menjangkau melebihi dirinya dan mengatasi kemungkinan2 metodisnya. Akal budi modern sendiri harus menerima kehadiran struktur rasional materi, sebagai saling bertemunya budi manusia dan struktur rasional yang ada dalam alam: di situlah jalan metodisnya harus berkembang.

Namun pertanyaan, mengapakah semuanya itu: itu tetap ada dan harus diserahkan oleh ilmu alam kepada tingkat lain dan cara lain manusia berpikir ? kepada filsafat dan teologi. Bagi filsafat dan dengan cara lain untuk teologi, "mendengarkan pengalaman-pengalam an besar dan faham-faham tradisi religius manusia, khususnya iman kristiani, adalah suatu sumber pencerahan, yang menolak segala penyempitan mendengar dan menjawab bisikan alam".

Saya teringat satu kata dari Socrates dalam tulisannya Phaidon. Dalam percakapan-percakap an yang lalu orang sering menyinggung pandangan2 filosofis yang keliru, dan kemudian Socrates berkata: Haruslah difahami, kalau karena jengkel atas sekian banyak kesalahan sepanjang hidupnya orang benci akan segala percakapan tentang Ada dan mencercanya. Namun kalau demikian ia hanya akan melecehkan kebenaran dan mengalami kerugian yang besar.

Dunia Barat telah membahayakan akal budi dengan menghindari pertanyaan-pertanya an mendasar ini dan dapat dengan demikian hanya mengalami kerugian besar. Berani memasuki keluasan akal budi, tidak menolak keagungannya ? itulah program, yang harus dilaksanakan oleh teologi yang memiliki komitmen pada iman alkitabiah dalam perjumpaan dengan masa kini "Bertindak tidak rasional (dengan Logos) itu bertentangan dengan hakikat Allah", itulah inti ucapan Manuel II mengenai citra Allah yang difahaminya sebagai orang kristiani kepada rekan bicaranya sang bijak dari Persia. Dalam Logos yang agung ini, dalam keluasan akal budi ini kami mengundang para rekan bicara kami untuk berdialog. Tugas universitas adalah senantiasa menemukan hal itu.

-BS Mardi-

*Photo by:http://gertjan.kole.info/pivot/entry.php?id=952
posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, September 19, 2006   2 comments
18 September 2006
Enam Bulan Untuk Penganiaya Wartawan
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Edi Susilo dan Mujiadi, Penganiaya Wartawan Divonis 6 Bulan

Dua satpam Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, yang melakukan penganiayaan pada wartawan, 24 April 2006 lalu divonis enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (18/09) ini. Mereka terbukti melakukan pengeroyokan secara bersama-sama hingga menyebabkan wartawan terluka dan rusaknya peralatan liputan.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Anggota Ketua Nursiah Kadir SH ini menyatakan dua tersangka yakni Edi Susilo dan Mujiadi terbukti melanggar pasal 170 ayat 1 dan ayat 2 KUHP tentang pengeroyokan. "Atas hal itu, terdakwa divonis enam bulan penjara dipotong masa tahanan," kata Nursiah. Dia terdakwa hanya akan menjalani dua bulan penjara, karena sudah ditahan selama sekitar empat bulan.

Tragedi kekerasan itu menimpa kontributor ANTV, Moch. Sandi Irwanto dan kontributor TPI Andreas Wicaksono saat meliput demonstrasi di Kampus UPN Veteran. Tanpa babibu, beberapa satpam memukuli mereka dengan alasan tidak izin dalam melakukan tugas jurnalistiknya. Kasus itu segera dilaporkan polisi dan dituntut secara hukum. Selain itu, Wartawan Surabaya juga menuntut secara perdata pihak Akademik UPN Veteran Jawa Timur membayar ganti dan permintaan maaf di media nasional.

Jaksa penuntut Asri Susiantina tidak banyak berkomentar atas vonis yang dijatuhkan ini. Dalam tuntutannya terdakwa dinilai melanggar Pasal 351 junto Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan berat yang disertai pengeroyokan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. "Saya masih pikir-pikir," kata Jaksa Asri Susiantina. Penasehat hukum kedua terdakwa, Sudjino pun berkomentar hal yang sama. "Saya masih pikir-pikir, kita lihat saja nanti," katanya usai sidang.***

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Monday, September 18, 2006   0 comments
17 September 2006
AREMA MALANG JUARA!
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


VICTORY LAP. Arema Malang melakukan victory lap, usai ditetapkan sebagai pemenang Copa Dji Sam Soe, dengan memenangkan pertandingan final melawan Persipura, Jaya Pura, 2-0, Sabtu(16/09) ini di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur.
posted by iddaily[dot]net @ Sunday, September 17, 2006   0 comments
16 September 2006
posted by iddaily[dot]net @ Saturday, September 16, 2006   0 comments
Ketika Sejarah NU Dikomikkan
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Cover Komik NU


Adegan awal ketika ABG bertanya foto Hasyim Ashari


Adegan ketika Hasyim Ashari memilih nama NU


Adegan ketika Hasyim Ashari muda berdakwah


Generasi Muda NU yang berada dibalik pembuatan Komik NU
posted by iddaily[dot]net @ Saturday, September 16, 2006   2 comments
15 September 2006
Tim Anti Teror TNI AL Akan Ditambah
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Aksi Tim Anti Teror TNI AL ketika melumpuhkan teroris.

Peningkatan kualitas dan kuantitas aksi terorisme di seluruh dunia, termasuk Indonesia, membuat TNI Angkatan Laut (AL) mempersiapkan diri. Dalam beberapa bulan ini, Tim Detasemen anti teror Explosive Ordonance Deposal (EOD) TNI AL akan menambah jumlah personelnya. Dari 15 personel menjadi 30 personel yang dibagi menjadi empat tim. Hal itu dikatakan Panglima Armada Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Moekhlas Sidik di sela-sela latihan pelumpuhan teroris di Bandara Juanda, Surabaya, Kamis (14/09) ini.

"Melihat perkembangannya, jumlah personel EOD akan ditambah dua tim lagi menjadi masing-masing 15 orang per tim," kata Laksda TNI Moekhlas Sidik. Dalam rangka penambahan personel EOD itu, sebelumnya perlu dilakukan proses pendidikan ke luar negeri. Dua negara yang akan dijadikan tujuan pendidikan itu adalah Singapura dan Australia. Melalui dua negara itu diharapkan detasemen EOD bisa mengikuti perkembangan penanganan teroris sebagai bagian dari kejahatan trans nasional

Rencana penambahan personal EOD itu juga terkait dengan rencana pemekaran Bandara Udara Juanda. Karena lokasinya menjadi satu dengan pangkalan udara TNI AL, maka secara otomatis menjadi tanggungjawab TNI AL. "Institusi pengamanan utama adalah TNI AL, tapi ada institusi lain seperti PMK dan petugas kesehatan yang juga kita ajak kerjasama," kata Moekhlas Sidik.

Pengarmatim yang baru menduduki jabatannya selama dua minggu ini mengungkapkan, perkembangan itu sangat penting mengingat blue print rencana pengembangan TNI hingga 2024 akan merubah TNI AL menjadi Green Water Navy. Dan Armatim Surabaya direncanakan menjadi pusat Armada RI. "Kalau kita kaitkan, ini adalah bagian dari rencana itu dengan meningkatkan Sistem Senjata Api (SSAP) berupa peningkatan empat komponen, kapal, pesawat terbang dan pangkalan. Dari situ terlihat, keamanan pesawat udara adalah tanggung jawab TNI AL," katanya.

Sementara itu, latihan pelumpuhan teroris yang dilakukan di Bandara Juanda Kamis ini berlangsung lancar, meskipun ada beberapa peristiwa di luar skenario. Pesawat Merpati Nusantara Airlines dengan nomor penerbangan MZ-831 jurusan Kuala Lumpur Malaysia menuju Bandara Selaparang Mataram diceritakan berhasil "dibajak" oleh empat Teroris. Dalam "pembajakan" itu, teroris empat mengaktifkan satu bom di dalam pesawat.

Para teroris menuntut pembebasan teroris lain yang selama ini dipenjara di Indonesia. Bila permintaan itu ditolak, teroris mengancam akan membunuh seluruh penumpang. "Tuntutan itu dibuktikan dengan ditembaknya satu crew Merpati yang mencoba melarikan diri," kata M. Faisal, Komandan Satuan Pasukan Katak. Tim EOD kontra teroris segera turun tangan melaksanakan operasi pembebasan sandera.

Satu tim anti teror EOD segera di merapat ke pesawat melalui bagian belakang pesawat. Tiga pesonel menaiki atap pesawat, sementara keempat lainnya menyiapkan penyergapan di bagian bawah pesawat. Saat proses ini, seorang anggota tim anti teror terpeleset dari atap pesawat dan jatuh ke landasan. Tim lain yang menyaru sebagai petugas catering bandara berhasil menerobos masuk ke dalam pesawat.

"Penyergapan pun dilakukan, keempat teroris berhasil dilumpuhkan dan seluruh penumpang beserta crew pesawat diselamatkan," kata M. Faisal. Pekerjaan belum selesai, sebuah bom cair disetting untuk meledak 20 menit. Operasi pelumpuhan bom segera digelar. Dengan menggunakan bomb blanket, bom dibawa ke save area dan diledakkan. Sayangnya simulasi ledakan sebagai puncak latihan ini pun gagal dilakukan.***
posted by iddaily[dot]net @ Friday, September 15, 2006   0 comments
07 September 2006
Meski Bromo Berstatus Siaga, Kasada 2006 Berlangsung Aman!
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Purnama Di Atas Pura Bromo


Pesta Rakyat Dalam Kasada Bromo


Dua Generasi Perempuan Tengger


Menunggu Pelaksanaan


Membawa Sajian Untuk Dewa


Dukun Tengger


Pura Bromo


Khusus Berdoa


Menghantar Sesajian


"Penangkap" Sesaji Para Dewa

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Thursday, September 07, 2006   4 comments
05 September 2006
posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, September 05, 2006   0 comments
REFLEKSI KEKERASAN MASSA KELAS BAWAH DALAM FENOMENA BONEK
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Senin(04/09) sore, Surabaya, Jawa Timur, benar-benar memanas. Ribuan suporter kesebelasan sepak bola Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya)-akrab disebut Bonek (Bondo Nekad)- yang menyaksikan laga Copa Dji Sam Soe antara Persebaya dan Arema Malang mengamuk di Stadion Sepuluh November, Tambaksari, Surabaya. Mereka melempari pemain kedua kesebelasan, membakar papan iklan serta menyerang polisi yang berusaha menenangkan mereka.

Di luar stadion pun sama. Ribuan Bonek yang kesetanan mengempari mobil pribadi, mobil parat keamanan hingga truk berisi peralatan satelit milik stasiun TV yang menyiarkan secara langsung pertandingan itu. Belum puas, suporter berbaju hijau itu membakarnya. Polisi yang coba mengamankan pun lari kuwalahan dengan jumlah perusuh yang jauh lebih banyak. Enam orang ditangkap dalam peristiwa beringas itu.

BONEK, SUPORTER SEKALIGUS DESTROYER

Suporter Bonek adalah fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan olah raga di Indonesia. Khususnya sepak bola. Sama seperti suporter-suporter kesebelasan sepak bola lain di seluruh dunia, sebut saja Ultras, pendukung kesebelasan Italia dan Holigans pendukung setia Inggris, Bonek pun hadir untuk mendukung kesebelasannya bertanding. Sayangnya, budaya dukungan berlebihan dari Ultras dan Holigans yang berlebihan dan kerap kali membuat keributan itu juga dilakukan oleh Bonek.

Bila dirunut kebelakang, fenomena Bonek mulai ada sejak akhir tahun 80-an. Hanya saja, kekuasaan Rezim Orde Baru ketika itu berhasil meredam kebrutalan Bonek. Nah, ketika Rezim di bawah Soeharto itu lengser, lambat laun kebrutalan pun semakin muncul. Kesetiaan Bonek pada Persebaya membuat Bonek selalu menemani Persebaya, di mana pun kesebelasan itu bertanding. Hal itu juga menciptakan persoalan tersendiri. Karena Bonek yang berarti modal nekad itu hampir pasti tidak memiliki cukup uang saku, dalam lawatannya ke luar kota.

Ujungnya, di kota yang didatangi itulah Bonek berulah dan bikin keributan dengan ulah kriminalnya. Merampas, mengeroyok pedagang kaki lima, hingga menyerang warga kota setempat. Jakarta adalah kota yang sering menjadi korban. Bonek yang datang ke Jakarta untuk mendukung Persebaya (biasanya dalam event final Liga Indonesia), membuat Ibu Kota "Siaga Satu". Ribuan aparat keamanan pun disiapkan untuk antisipasi kebrutalan Bonek. Meski seringkali, keributan oleh Bonek tetap saja tidak terelakkan.

Bagi dunia olah raga di Indonesia, kehadiran suporter yang sangat militan seperti Bonek, justru berdampak negatif. Kebijakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menghukum kesebelasan karena ulah suporternya-kebijakan yang sama diberlakukan pula di negara lain-membuat Persebaya tidak bisa bergerak bebas. Tak terhitung sanksi yang diberikan PSSI kepada Persebaya karena ulah Bonek. Mulai membayar ganti rugi uang, hingga larangan bermain di kandang sendiri.

Efek negatif itu direpon positif oleh Pemerintah Kota Surabaya yang sekaligus pemilik Persebaya dengan membentuk Yayasan Suporter Persebaya (YSS) pada tahun 2000. Maunya sih, melalui YSS ada koordinasi antar suporter olah raga termasuk Bonek. Termasuk memfasilitasi suporter bila ada pertandingan Persebaya ke luar kota. Namun, di sisi lain, kehadiran YSS seakan melegitimasi (bahkan memanjakan) Bonek. Kebrutalan tidak berhenti.

Kota-kota lain di luar Surabaya pun seakan ikut jengah dengan Bonek. Hampir di setiap pertandingan yang dihadiri Persebaya (dan Bonek-nya), membuat penduduk kota setempat bersiaga. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menyerang rombongan Bonek yang melintas. Di Jawa Timur, dua kota yang memiliki "dendam" dengan Bonek adalah Malang dan Lamongan. Keributan hampir pasti meletus bila Bonek hadir di kedua kota itu. Itulah sebabnya, pada tahun 2001 Polda Jatim sempat membuat kesepakatan dengan Koordinator Suporter Arema Malang dan YSS untuk tidak memobilisasi suporter ke dua kota.

Fenomena yang hampir sama, meski dengan tingkat kebrutalan yang lebih rendah juga dilakukan Jakmania pendukung Persija dan Maung Bandung pendukung Persib. Di luar negeri, khususnya bila terjadi pertandingan Derby (pertandingan kesebelasan se-daerah), juga terjadi aksi saling menyerang. Di Italia, misalnya, dua suporter kesebelasan Inter Milan dan AC Milan selalu bentrok. Juga suporter kesebelasan Lazio dan AS Roma. Di Inggris, aksi berdarah-darah terjadi antara suporter kesebelasan Liverpol dan Everton. Kerugian selalu hadir bagi kesebelasan yang suporternya bermasalah.

Namun, hal itu tetap tidak membuat Pemerinkah Kota Surabaya "belajar". Bahkan, aksi untuk melindungi Bonek terus dilakukan. Yang paling konyol terjadi tahun 2005, ketika Persebaya memutuskan untuk mundur dari babak 8 besar Liga Indonesia 2005, dengan alasan ingin "menyelamatkan" Bonek dari serangan warga yang tidak senang dengan kehadiran Bonek di Jakarta. Aksi itu membuat Persebaya disanksi turun dari Divisi Utama menjadi Divisi satu. Ironisnya, aksi Bonek tidak juga berubah.

BONEK DI MANA-MANA

Banyak yang menilai, Bonek adalah ekspresi dari kelompok masyarakat yang menjadikan sorak sorai kebebasan suporter sebagai pelampiasan kehidupan yang terjepit oleh berbagai persoalan. Kelompok masyarakat jenis ini hampir merata di seluruh Indonesia. Buktinya, banyak "bonek-bonek" sejenis di setiap kota. Hanya saja, Bonek di Surabaya yang paling terkenal dan eksis serta tidak takut menunjukkan identitas konyolnya.

"Bonek" juga terjadi dalam bidang lain. Sebut saja bidang politik. Militansi pada partai tertentu membuat ribuan orang datang ke sebuah tempat yang jauh, dengan bekal yang pas-pasan hanya untuk melihat tokoh politik yang dianggap mewakili rakyat tertindas berpidato. "Bonek" juga terjadi dalam dunia seni, dimana ribuan orang datang ke konser penyanyi tertentu untuk menikmati pujaan yang juga mewakili ketertindasan, beraksi di atas panggung. Tujuannya sama, mencari "kebebasan" sesaat dari himpitan persoalan.

Persoalan mulai muncul, ketika semua way out kebebasan sesaat itu akan usai, sementara energi kebebasan yang dimilikinya masih belum semuanya terlampiaskan. Dalam kasus Persebaya melawan Arema kemarin misalnya, persebaya yang diharapkan mampu mengalahkan Arema yang direfleksikan dengan terialan "Goooollll,..."panjang dari suporternya, tidak juga terjadi. Tidak ada klimaks di sana. Mulailah muncul keinginan untuk mencari kambing hitam. Pemain Arema yang dianggap mengulur waktu pertandingan dipilih menjadi common enemy. Aksi penyerangan dengan lemparan pun terjadi.

Dalam skala yang lebih besar, kerusuhan massa di berbagai tempat di Indonesia seringkali diawali dengan tanda-tanda serupa. Mulai adanya kelompok menengah bawah dalam jumlah besar yang butuh way out, menemukan trigger untuk melampiaskan bebannya, tidak puas dan berujung pada aksi massa. Ingat tragedi Mei di Jakarta, Sangauledo, Ambon, Sampit, Papua dan berbagai daerah yang menyimpan kenangan buruk kerusuhan massa. Agaknya, hal fenomena akan terus terjadi, karena kondisi tidak berubah bahkan lebih buruk.

Lalu bagaimana mengatasinya? Pembahasan ini harus dijalankan dalam semua aspek kehidupan bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum hingga pertahanan dan keamanan (hankam). Dengan bahasa lain, mengurangi beban ketertekanan masyarakat dari beban hidupnya melalui pengelolaan birokrasi yang tepat. Mau tidak mau, solusi ini memposisikan negara sebagai pelaksana. Ah,..tampaknya jalan menghapus Bonek masih terlalu panjang dan berliku. Ole,..ole,..ole,..oleeeee,....

*Terima kasih untuk sahabat saya: Jojo Raharjo (LSPP), Sugeng Irianto (Radar Surabaya) dan Dodik Puji (TV7) yang membagi informasi ke-bonek-annya dengan saya.
posted by iddaily[dot]net @ Tuesday, September 05, 2006   0 comments
01 September 2006
Gresik dan Mojokerto Ditarget Menjadi Tempat Pembuangan Lumpur
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

Meski menyadari langkah membuang air lumpur ke laut tidak akan menjadi solusi signifikan karena jumlah lumpur yang tersembur tidak sebanding dengan kemampuan pembuangan air ke laut, namun PT. Lapindo Brantas Inc akan tetap melakukan hal itu. Apalagi hasil penelitian baku mutu air hasil oleh water treatment menunjukkan tidak terlanggarnya batu mutu yang ditetapkan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Persoalannya, lumpur padat sisa water treatment tetap menjadi problem selanjutnya.

Hal itu dikatakan Johanes Sudarsono, Project Manager Health Savety Environment (HSE) PT. Lapindo Brantas Inc. "Secara total jumlah lumpur memang jauh lebih banyak, saat ini sedang dipikirkan bagaimana cara membuang lumpur padat yang tidak bisa diolah dengan water treatment itu," kata Johanes Sudarsono. Salah satu cara yang akan dilakukan untuk mengatasi lumpur yang tidak bisa diolah dengan water treatment itu adalah dengan membuangnya ke Mojokerto dan Gresik.

Di Mojokerto, lumpur sisa water treatment itu akan digunakan untuk proses reklamasi lubang-lubang hasil pengerukan tanah. Sementara di Gresik, lumpur itu akan digunakan untk menutup lubang-lubang tanah areal penambangan milik PT. Semen Gresik. Untuk rencana pembuangan lumpur yang sempat mendapat tentangan dari masyarakat itu, saat ini Lapindo Brantas Inc tengah meminta persetujuan KLH.

"Namun sekali lagi, hal itu masih berupa rencana, Lapindo akan terus mengkaji apakah semua rencana kita workable, termasuk persoalan jarak dan waktu pembuangan," kata Johanes Sudarsono. Untuk sekali angkut, satu truk berkapasitas 25m3 memerlukan waktu selama 4 jam.

Hingga saat ini, jumlah lumpur panas yang tersembur di Kecamatan Porong, Sidoarjo sudah mencapai 6,1 juta m3. Untuk menampung lumpur panas itu, disiapkan waduk-waduk penampungan (pond) seluas 340 ha. Dari keseluruhan jumlah lumpur itu, 70 persen di antaranya adalah lumpur padat sementara sisanya adalah cairan. Kehadiran water treatment salah satunya untuk mengurai kembali 30 persen cairan itu. "Hasil penelitian sementara, dari hasil pengolahan water treatment menunjukkan bahwa air yang akan dibuang ke laut itu sama sekali tidak mengandung minyak dan lemak dengan PH antara 7,3-7,65," kata Johanes Sudarsono.

Hasil itu sesuai dengan Surat Kementerian Lingkungan Hidup no.B-537/Dep.II/LH/8/2006 yang menyatakan batas baku mutu air yang akan dibuang ke laut yang ditandatangani Deputi Menteri LH Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Mochamad Gempur Adnan. Dalam surat itu disebutkan, kadar maksimul air yang akan dibuang ke laut harusnya memiliki kandungan minyak dan lemak sebanyak 50 mg/l, sementara PH yang diperbolehkan 6,0-9,0 mg/lt.

Meski begitu, secara teknis masih ditemukan kendala pengolahan air. Kendala paling besar adalah jumlah lumpur dan air yang sangat banyak. Apalagi, lumpur yang terkandung berupa lumpur harus yang susah dipisahkan. "Yang bisa dilakukan hanya mendiamkan lumpur di pond selama beberapa hari sampai satu minggu, lumpur akan mengendap," katanya. Untuk mempercepat proses pemisahan lumpur dan air, akan dilakukan pencampuran polimer dengan lumpur yang kini dalam proses pengendapan di pond, menggunakan water treatment milik Kaltim Primer Coal (KCP). Alat inilah akan mencampur bahan kimia coagulant.

Selain KCP, Lapindo Brantas Inc juga mendatangkan water treatment berkapasitas 3000m3/hari yang dirancang oleh ilmuan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan sebuah water treatment lain berkapasitas 1250m3/hari. Selain itu, infrastruktur pipa pembuangan ke arah laut sepanjang 17 KM juga sudah disiapkan. Ujung pipa itu terendam di bawah laut. "Pipa akan terendam, untuk menghindari kucuran saat laut surut, meskipun lokasi pastinya belum diputuskan," katanya.

Langkah Lapindo Brantas Inc untuk membuang jutaan m3 air ke laut dan lumpur padat ke Mojokerto dan Gresik itu ditentang oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur. Divisi Informasi Kampanye dan Database Walhi Jatim, Yuliani mengatakan, dalam skala kecil, mungkin tidak berbahaya. Namun bila jumlahnya sangat banyak, jelas hal itu memunculkan persoalan lingkungan sendiri.

"Masyarakat benar-benar dalam kondisi yang serba sulit, di satu sisi lumpur harus diatasi, namun di sisi lain ada ancaman lingkungan yang sangat berbahaya," kata Yuliani pada The Jakarta Post. Untuk itu, Yuliani meminta Lapindo Brantas Inc untuk benar-benar maksimal dalam mengatasi persoalan lumpur, dengan mengerahkan semua ahli yang dimiliki. Sekaligus memberi informasi yang jujur pada masyarakat. "Kalau ada ahli yang tidak becus, silahkan mundur saja, juga pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi dalam kasus ini," tegas Yuliani.
posted by iddaily[dot]net @ Friday, September 01, 2006   0 comments
posted by iddaily[dot]net @ Friday, September 01, 2006   0 comments
Revolusi dan Mur Baut
:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Kata "revolusi", sangat berarti bagi saya. Bukan karena artinya mengisyaratkan sebuah semangat dan percepatan yang luar biasa, tapi ada roh dalam kata itu yang menggetarkan kesadaran. Berbeda dengan kata "evolusi", yang bagi saya, terasa pelan, bertele-tele dan cenderung kompromistis.

"Revolusi" pertama kali saya dengar dari pelajaran sejarah. Kalau tidak salah, untuk menyebut jajaran pahlawan yang dibunuh PKI (menurut guru saya) dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Melihat background cerita versi guru saya itu, yang muncul adalah perasaan ngeri dan resistensi atas kata itu. Pahlawan Revolusi itu harus mati dengan kondisi mengenaskan, tertumpuk dalam sebuah lubang, hingga akhirnya "diselamatkan" oleh Jenderal Soeharto.

Untuk kedua kalinya, kata "revolusi" kembali saya dengar dalam penjelasan pelajaran sejarah dunia. Yaitu ketika Prancis mengalami perubahan besar-besaran. Revolusi Prancis! Meski kesan menakutkan itu masih ada, namun "revolusi" kali ini kesannya lebih positif. Kalau tidak salah ingat, Revolusi Prancis-lah yang membuat negara itu menemukan babak baru. Tanpa revolusi, Prancis tidak akan modern.

Melompat ke zaman kekinian. Tahun 1998 adalah tahun dimana saya paling sering mendengar kata "revolusi". Ketika itu mahasiswa dan masyarakat yang marah meminta Rezim Orde Baru untuk mengakhiri kekuasaannya. Kata "reformasi" yang menjadi kata sakti di zaman itu berubah menjadi revolusi. "Yang mau revolusi ikut kami,..Yang mau revolusi ikut kami,..Revolusi,..Revolusi,..sampai mati!" teriak mahasiswa dan rakyat yang berdemonstrasi ketika itu. Kali ini, kata "revolusi" berarti mencerahkan.

Pada tahun 2003, kembali saya mendengar kata itu, "revolusi", dengan tambahan Riza Zulverdi di belakangnya. Revolusi Riza Zulverdi. Sebuah nama dari seorang kawan. Sebuah nama yang aneh. Yang lebih aneh, pada sosok "revolusi" yang terakhir inilah, tiga sifat kata "revolusi" yang pernah saya rasakan, bersatu di dalamnya. Mengerikan (dalam pemikiran), positif (dalam berperilaku) dan mencerahkan (dalam semua hal).

Ibunda "revolusi" adalah seorang pendidik. Yang kebetulan mendidik saya dalam bidang (maaf) agama. Ayahnya, bekerja di pabrik gula. Saya tidak pernah tahu, mengapa keturunan pendidik dan pekerja pabrik gula ini bisa menyenangi musik alternative "Seatle Sound" ala Nirvana, Pearl Jam dan semacamnya. Ironisnya, musik jenis itu juga yang menggila di kepala saya. Dan tentu saja ada Metallica, Iwan Fals hingga Slank. Alinea di atas, memang sangat personal. Tapi bagi saya, ada keunikan. Terserah Anda mau setuju atau tidak.

Beberapa kali, "revolusi", saya dan seorang kawan lagi, menjadi "team inti". Haha,..sebutan konyol bagi kami yang sering meliput berita kemana-mana. Kedatangan Jenazal "haibar" Faturochman Al Gozi di Madiun, Banjir dan Tanah Longsor di Jember, Bom Bali II di Bali hingga aksi konyol mencari buronan Noordin M. Top di pegunungan di Mojokerto. "Kita benar-benar wartawan tanpa batas,.." katanya. Haha,..konyol!

Revolusi ala "revolusi" yang mungkin anda rasakan adalah sajian berita-berita dari TV7 Jawa Timur. Tahukah Anda, "revolusi" yang dia ciptakan ketika kawan saya ini sendirian menjadi wartawan TV7 di Jawa Timur? Dia harus bersaing berhadapan dengan "gempuran" TV lain yang memiliki tim lebih banyak dan peralatan lebih canggih pula. Hingga pelan-pelan muncul "pasukan" TV7 lain, plus tiga koresponden di Malang, Jember dan Kediri. "Wartawan itu cuma mur dan baut dalam sebuah rangkaian mesin perusahaan," katanya. Entah apa maksudnya.

Karena mur dan baut itulah, Revolusi harus mengakhiri "revolusinya". Jumat (01/09) pagi ini, ia berangkat ke Jakarta, menempati pos baru sebagai Asisten Koordinator Daerah, meninggalkan "revolusi" di Jawa Timur yang belum tuntas. "Saya tidak akan pernah mengatakan selamat tinggal, never say goodbye, pada tim solid di TV7 di Jawa Timur, ini adalah konsekuensi saya sebagai pekerja," katanya. Entah apa maksudnya...

"I hope some day you'll have a beatiful life,"---kutipan syair Pearl Jam dalam lagu Black.
posted by iddaily[dot]net @ Friday, September 01, 2006   1 comments

English Version
News Index 10
Think Sport
Jojo Raharjo
Seandainya pertarungan Tyson dan Holyfield digelar di Stadion Manahan Solo atau di Lapangan Simpang Lima Semarang dan disaksikan Kapolda Jateng Alex Bambang Riatmodjo, bisa jadi, Mike Tyson segera menjalani proses verbal di polsek terdekat.
Kumpulan informasi tentang tentang Wolrd Cup 2010 Afrika Selatan. Plus, panduan bagi penggila bola yang gemar mengadu nasib tebak skor.
Atmosphere
Syarief Wadja Bae
Kubaca lagi tulisanmu. Kemudian aku simpulkan, sebenarnya jalan kita sama, hanya saja cara kita beda dalam memahami rambu-rambu.
My Family
Balgis Muhyidin
Mungkin judul tulisan ini, Nasibmu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) seolah olah menyatakan bahwa saya tidak berpihak kepada mereka.
Photo Corner
Fully Syafi
Keindahan dan kemewahan sel Artalita Suryani atau Ayin di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, membuat saya ingin menyuguhkan "keindahan" sel yang sebenarnya.
Book For Good
Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara adil dengan pemilik tanah,..
Monthly Index
Column
Atmosfir | Atmosphere
Resensi Buku | Book for Good
Pojok Foto | Photo Corner
Nol Kilometer | Zero Km
Keluargaku | My Family
Olah Raga | Think Sport
Wallpaper | Wallpaper
Galeri Foto | Photo Gallery
Theme
Bencana | Disaster
Budaya | Culture
Central Borneo
Cerita Pendek | Short Story
Hukum | Law
Jambi Sumatera
Jurnalistik | Jurnalism
Kabar Dari Seberang
Kesehatan | Health
Lingkungan Hidup | Environment
Luar Negeri | Oversea
Olah Raga | Sport
Opini | Opinion
Pendidikan | Education
Politik | Politic
Sosial | Social
Timor Barat | West Timor
Profile
Blog Profile
Advertisement
Code of Ethic
Twitter: @iddaily
Facebook: Iddailys Book
Tamu Negara
kado_obama
Special Column
Badai ini tak kalah heboh dari badai yang terjadi dua pekan sebelumnya.
imn_fixer_us_gerak
Download
Want to know about Indonesia? Please see this movie.
Focus
Organisasi lingkungan Internasional, Greenpeace mencatat beberapa poin penting yang dikatakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Copenhagen.
Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi terlibat kasus Bank Century?
iklanblog_gerak
Netter Said
"Selamat Ultah untuk Iddaily.net. Menurutku, perlu pembenahan untuk mengenalkan IDDAILY pada publik agar lebih tahu lebih luas. Salut pada citizen jurnalismnya. Lain kali Aku masukin tulisan di sini dan harus dimuat! Hehe,.."
Nurdiyana Munir | Surabaya
Comment Please

ShoutMix chat widget

counter
Dewan Redaksi
Iman Dwianto Nugroho, Jojo Raharjo, Fully Syafi, Balgis Muhyidin, Agung Purwantara, Diana Sasa, Syarief Wadja Bae.
Penulis Special: Maya Mandley (Kabar Dari Seberang), Senja Madinah (Cerita Pendek)
Email: iddaily@yahoo.com
Phone: +62.81.6544.3718
Redaksi menerima kiriman berita, foto dan press release melalui iddaily@yahoo.com.
BCA Bank | no.610006740 | Mandiri Bank | 1420005410716 | an. Iman D. Nugroho