07 September 2006

Meski Bromo Berstatus Siaga, Kasada 2006 Berlangsung Aman!

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Purnama Di Atas Pura Bromo


Pesta Rakyat Dalam Kasada Bromo


Dua Generasi Perempuan Tengger


Menunggu Pelaksanaan


Membawa Sajian Untuk Dewa


Dukun Tengger


Pura Bromo


Khusus Berdoa


Menghantar Sesajian


"Penangkap" Sesaji Para Dewa

05 September 2006

REFLEKSI KEKERASAN MASSA KELAS BAWAH DALAM FENOMENA BONEK

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Senin(04/09) sore, Surabaya, Jawa Timur, benar-benar memanas. Ribuan suporter kesebelasan sepak bola Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya)-akrab disebut Bonek (Bondo Nekad)- yang menyaksikan laga Copa Dji Sam Soe antara Persebaya dan Arema Malang mengamuk di Stadion Sepuluh November, Tambaksari, Surabaya. Mereka melempari pemain kedua kesebelasan, membakar papan iklan serta menyerang polisi yang berusaha menenangkan mereka.

Di luar stadion pun sama. Ribuan Bonek yang kesetanan mengempari mobil pribadi, mobil parat keamanan hingga truk berisi peralatan satelit milik stasiun TV yang menyiarkan secara langsung pertandingan itu. Belum puas, suporter berbaju hijau itu membakarnya. Polisi yang coba mengamankan pun lari kuwalahan dengan jumlah perusuh yang jauh lebih banyak. Enam orang ditangkap dalam peristiwa beringas itu.

BONEK, SUPORTER SEKALIGUS DESTROYER

Suporter Bonek adalah fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan olah raga di Indonesia. Khususnya sepak bola. Sama seperti suporter-suporter kesebelasan sepak bola lain di seluruh dunia, sebut saja Ultras, pendukung kesebelasan Italia dan Holigans pendukung setia Inggris, Bonek pun hadir untuk mendukung kesebelasannya bertanding. Sayangnya, budaya dukungan berlebihan dari Ultras dan Holigans yang berlebihan dan kerap kali membuat keributan itu juga dilakukan oleh Bonek.

Bila dirunut kebelakang, fenomena Bonek mulai ada sejak akhir tahun 80-an. Hanya saja, kekuasaan Rezim Orde Baru ketika itu berhasil meredam kebrutalan Bonek. Nah, ketika Rezim di bawah Soeharto itu lengser, lambat laun kebrutalan pun semakin muncul. Kesetiaan Bonek pada Persebaya membuat Bonek selalu menemani Persebaya, di mana pun kesebelasan itu bertanding. Hal itu juga menciptakan persoalan tersendiri. Karena Bonek yang berarti modal nekad itu hampir pasti tidak memiliki cukup uang saku, dalam lawatannya ke luar kota.

Ujungnya, di kota yang didatangi itulah Bonek berulah dan bikin keributan dengan ulah kriminalnya. Merampas, mengeroyok pedagang kaki lima, hingga menyerang warga kota setempat. Jakarta adalah kota yang sering menjadi korban. Bonek yang datang ke Jakarta untuk mendukung Persebaya (biasanya dalam event final Liga Indonesia), membuat Ibu Kota "Siaga Satu". Ribuan aparat keamanan pun disiapkan untuk antisipasi kebrutalan Bonek. Meski seringkali, keributan oleh Bonek tetap saja tidak terelakkan.

Bagi dunia olah raga di Indonesia, kehadiran suporter yang sangat militan seperti Bonek, justru berdampak negatif. Kebijakan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menghukum kesebelasan karena ulah suporternya-kebijakan yang sama diberlakukan pula di negara lain-membuat Persebaya tidak bisa bergerak bebas. Tak terhitung sanksi yang diberikan PSSI kepada Persebaya karena ulah Bonek. Mulai membayar ganti rugi uang, hingga larangan bermain di kandang sendiri.

Efek negatif itu direpon positif oleh Pemerintah Kota Surabaya yang sekaligus pemilik Persebaya dengan membentuk Yayasan Suporter Persebaya (YSS) pada tahun 2000. Maunya sih, melalui YSS ada koordinasi antar suporter olah raga termasuk Bonek. Termasuk memfasilitasi suporter bila ada pertandingan Persebaya ke luar kota. Namun, di sisi lain, kehadiran YSS seakan melegitimasi (bahkan memanjakan) Bonek. Kebrutalan tidak berhenti.

Kota-kota lain di luar Surabaya pun seakan ikut jengah dengan Bonek. Hampir di setiap pertandingan yang dihadiri Persebaya (dan Bonek-nya), membuat penduduk kota setempat bersiaga. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menyerang rombongan Bonek yang melintas. Di Jawa Timur, dua kota yang memiliki "dendam" dengan Bonek adalah Malang dan Lamongan. Keributan hampir pasti meletus bila Bonek hadir di kedua kota itu. Itulah sebabnya, pada tahun 2001 Polda Jatim sempat membuat kesepakatan dengan Koordinator Suporter Arema Malang dan YSS untuk tidak memobilisasi suporter ke dua kota.

Fenomena yang hampir sama, meski dengan tingkat kebrutalan yang lebih rendah juga dilakukan Jakmania pendukung Persija dan Maung Bandung pendukung Persib. Di luar negeri, khususnya bila terjadi pertandingan Derby (pertandingan kesebelasan se-daerah), juga terjadi aksi saling menyerang. Di Italia, misalnya, dua suporter kesebelasan Inter Milan dan AC Milan selalu bentrok. Juga suporter kesebelasan Lazio dan AS Roma. Di Inggris, aksi berdarah-darah terjadi antara suporter kesebelasan Liverpol dan Everton. Kerugian selalu hadir bagi kesebelasan yang suporternya bermasalah.

Namun, hal itu tetap tidak membuat Pemerinkah Kota Surabaya "belajar". Bahkan, aksi untuk melindungi Bonek terus dilakukan. Yang paling konyol terjadi tahun 2005, ketika Persebaya memutuskan untuk mundur dari babak 8 besar Liga Indonesia 2005, dengan alasan ingin "menyelamatkan" Bonek dari serangan warga yang tidak senang dengan kehadiran Bonek di Jakarta. Aksi itu membuat Persebaya disanksi turun dari Divisi Utama menjadi Divisi satu. Ironisnya, aksi Bonek tidak juga berubah.

BONEK DI MANA-MANA

Banyak yang menilai, Bonek adalah ekspresi dari kelompok masyarakat yang menjadikan sorak sorai kebebasan suporter sebagai pelampiasan kehidupan yang terjepit oleh berbagai persoalan. Kelompok masyarakat jenis ini hampir merata di seluruh Indonesia. Buktinya, banyak "bonek-bonek" sejenis di setiap kota. Hanya saja, Bonek di Surabaya yang paling terkenal dan eksis serta tidak takut menunjukkan identitas konyolnya.

"Bonek" juga terjadi dalam bidang lain. Sebut saja bidang politik. Militansi pada partai tertentu membuat ribuan orang datang ke sebuah tempat yang jauh, dengan bekal yang pas-pasan hanya untuk melihat tokoh politik yang dianggap mewakili rakyat tertindas berpidato. "Bonek" juga terjadi dalam dunia seni, dimana ribuan orang datang ke konser penyanyi tertentu untuk menikmati pujaan yang juga mewakili ketertindasan, beraksi di atas panggung. Tujuannya sama, mencari "kebebasan" sesaat dari himpitan persoalan.

Persoalan mulai muncul, ketika semua way out kebebasan sesaat itu akan usai, sementara energi kebebasan yang dimilikinya masih belum semuanya terlampiaskan. Dalam kasus Persebaya melawan Arema kemarin misalnya, persebaya yang diharapkan mampu mengalahkan Arema yang direfleksikan dengan terialan "Goooollll,..."panjang dari suporternya, tidak juga terjadi. Tidak ada klimaks di sana. Mulailah muncul keinginan untuk mencari kambing hitam. Pemain Arema yang dianggap mengulur waktu pertandingan dipilih menjadi common enemy. Aksi penyerangan dengan lemparan pun terjadi.

Dalam skala yang lebih besar, kerusuhan massa di berbagai tempat di Indonesia seringkali diawali dengan tanda-tanda serupa. Mulai adanya kelompok menengah bawah dalam jumlah besar yang butuh way out, menemukan trigger untuk melampiaskan bebannya, tidak puas dan berujung pada aksi massa. Ingat tragedi Mei di Jakarta, Sangauledo, Ambon, Sampit, Papua dan berbagai daerah yang menyimpan kenangan buruk kerusuhan massa. Agaknya, hal fenomena akan terus terjadi, karena kondisi tidak berubah bahkan lebih buruk.

Lalu bagaimana mengatasinya? Pembahasan ini harus dijalankan dalam semua aspek kehidupan bidang sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum hingga pertahanan dan keamanan (hankam). Dengan bahasa lain, mengurangi beban ketertekanan masyarakat dari beban hidupnya melalui pengelolaan birokrasi yang tepat. Mau tidak mau, solusi ini memposisikan negara sebagai pelaksana. Ah,..tampaknya jalan menghapus Bonek masih terlalu panjang dan berliku. Ole,..ole,..ole,..oleeeee,....

*Terima kasih untuk sahabat saya: Jojo Raharjo (LSPP), Sugeng Irianto (Radar Surabaya) dan Dodik Puji (TV7) yang membagi informasi ke-bonek-annya dengan saya.

01 September 2006

Gresik dan Mojokerto Ditarget Menjadi Tempat Pembuangan Lumpur

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::

Meski menyadari langkah membuang air lumpur ke laut tidak akan menjadi solusi signifikan karena jumlah lumpur yang tersembur tidak sebanding dengan kemampuan pembuangan air ke laut, namun PT. Lapindo Brantas Inc akan tetap melakukan hal itu. Apalagi hasil penelitian baku mutu air hasil oleh water treatment menunjukkan tidak terlanggarnya batu mutu yang ditetapkan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Persoalannya, lumpur padat sisa water treatment tetap menjadi problem selanjutnya.

Hal itu dikatakan Johanes Sudarsono, Project Manager Health Savety Environment (HSE) PT. Lapindo Brantas Inc. "Secara total jumlah lumpur memang jauh lebih banyak, saat ini sedang dipikirkan bagaimana cara membuang lumpur padat yang tidak bisa diolah dengan water treatment itu," kata Johanes Sudarsono. Salah satu cara yang akan dilakukan untuk mengatasi lumpur yang tidak bisa diolah dengan water treatment itu adalah dengan membuangnya ke Mojokerto dan Gresik.

Di Mojokerto, lumpur sisa water treatment itu akan digunakan untuk proses reklamasi lubang-lubang hasil pengerukan tanah. Sementara di Gresik, lumpur itu akan digunakan untk menutup lubang-lubang tanah areal penambangan milik PT. Semen Gresik. Untuk rencana pembuangan lumpur yang sempat mendapat tentangan dari masyarakat itu, saat ini Lapindo Brantas Inc tengah meminta persetujuan KLH.

"Namun sekali lagi, hal itu masih berupa rencana, Lapindo akan terus mengkaji apakah semua rencana kita workable, termasuk persoalan jarak dan waktu pembuangan," kata Johanes Sudarsono. Untuk sekali angkut, satu truk berkapasitas 25m3 memerlukan waktu selama 4 jam.

Hingga saat ini, jumlah lumpur panas yang tersembur di Kecamatan Porong, Sidoarjo sudah mencapai 6,1 juta m3. Untuk menampung lumpur panas itu, disiapkan waduk-waduk penampungan (pond) seluas 340 ha. Dari keseluruhan jumlah lumpur itu, 70 persen di antaranya adalah lumpur padat sementara sisanya adalah cairan. Kehadiran water treatment salah satunya untuk mengurai kembali 30 persen cairan itu. "Hasil penelitian sementara, dari hasil pengolahan water treatment menunjukkan bahwa air yang akan dibuang ke laut itu sama sekali tidak mengandung minyak dan lemak dengan PH antara 7,3-7,65," kata Johanes Sudarsono.

Hasil itu sesuai dengan Surat Kementerian Lingkungan Hidup no.B-537/Dep.II/LH/8/2006 yang menyatakan batas baku mutu air yang akan dibuang ke laut yang ditandatangani Deputi Menteri LH Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Mochamad Gempur Adnan. Dalam surat itu disebutkan, kadar maksimul air yang akan dibuang ke laut harusnya memiliki kandungan minyak dan lemak sebanyak 50 mg/l, sementara PH yang diperbolehkan 6,0-9,0 mg/lt.

Meski begitu, secara teknis masih ditemukan kendala pengolahan air. Kendala paling besar adalah jumlah lumpur dan air yang sangat banyak. Apalagi, lumpur yang terkandung berupa lumpur harus yang susah dipisahkan. "Yang bisa dilakukan hanya mendiamkan lumpur di pond selama beberapa hari sampai satu minggu, lumpur akan mengendap," katanya. Untuk mempercepat proses pemisahan lumpur dan air, akan dilakukan pencampuran polimer dengan lumpur yang kini dalam proses pengendapan di pond, menggunakan water treatment milik Kaltim Primer Coal (KCP). Alat inilah akan mencampur bahan kimia coagulant.

Selain KCP, Lapindo Brantas Inc juga mendatangkan water treatment berkapasitas 3000m3/hari yang dirancang oleh ilmuan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan sebuah water treatment lain berkapasitas 1250m3/hari. Selain itu, infrastruktur pipa pembuangan ke arah laut sepanjang 17 KM juga sudah disiapkan. Ujung pipa itu terendam di bawah laut. "Pipa akan terendam, untuk menghindari kucuran saat laut surut, meskipun lokasi pastinya belum diputuskan," katanya.

Langkah Lapindo Brantas Inc untuk membuang jutaan m3 air ke laut dan lumpur padat ke Mojokerto dan Gresik itu ditentang oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur. Divisi Informasi Kampanye dan Database Walhi Jatim, Yuliani mengatakan, dalam skala kecil, mungkin tidak berbahaya. Namun bila jumlahnya sangat banyak, jelas hal itu memunculkan persoalan lingkungan sendiri.

"Masyarakat benar-benar dalam kondisi yang serba sulit, di satu sisi lumpur harus diatasi, namun di sisi lain ada ancaman lingkungan yang sangat berbahaya," kata Yuliani pada The Jakarta Post. Untuk itu, Yuliani meminta Lapindo Brantas Inc untuk benar-benar maksimal dalam mengatasi persoalan lumpur, dengan mengerahkan semua ahli yang dimiliki. Sekaligus memberi informasi yang jujur pada masyarakat. "Kalau ada ahli yang tidak becus, silahkan mundur saja, juga pihak-pihak yang mengambil keuntungan pribadi dalam kasus ini," tegas Yuliani.

Revolusi dan Mur Baut

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::



Kata "revolusi", sangat berarti bagi saya. Bukan karena artinya mengisyaratkan sebuah semangat dan percepatan yang luar biasa, tapi ada roh dalam kata itu yang menggetarkan kesadaran. Berbeda dengan kata "evolusi", yang bagi saya, terasa pelan, bertele-tele dan cenderung kompromistis.

"Revolusi" pertama kali saya dengar dari pelajaran sejarah. Kalau tidak salah, untuk menyebut jajaran pahlawan yang dibunuh PKI (menurut guru saya) dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Melihat background cerita versi guru saya itu, yang muncul adalah perasaan ngeri dan resistensi atas kata itu. Pahlawan Revolusi itu harus mati dengan kondisi mengenaskan, tertumpuk dalam sebuah lubang, hingga akhirnya "diselamatkan" oleh Jenderal Soeharto.

Untuk kedua kalinya, kata "revolusi" kembali saya dengar dalam penjelasan pelajaran sejarah dunia. Yaitu ketika Prancis mengalami perubahan besar-besaran. Revolusi Prancis! Meski kesan menakutkan itu masih ada, namun "revolusi" kali ini kesannya lebih positif. Kalau tidak salah ingat, Revolusi Prancis-lah yang membuat negara itu menemukan babak baru. Tanpa revolusi, Prancis tidak akan modern.

Melompat ke zaman kekinian. Tahun 1998 adalah tahun dimana saya paling sering mendengar kata "revolusi". Ketika itu mahasiswa dan masyarakat yang marah meminta Rezim Orde Baru untuk mengakhiri kekuasaannya. Kata "reformasi" yang menjadi kata sakti di zaman itu berubah menjadi revolusi. "Yang mau revolusi ikut kami,..Yang mau revolusi ikut kami,..Revolusi,..Revolusi,..sampai mati!" teriak mahasiswa dan rakyat yang berdemonstrasi ketika itu. Kali ini, kata "revolusi" berarti mencerahkan.

Pada tahun 2003, kembali saya mendengar kata itu, "revolusi", dengan tambahan Riza Zulverdi di belakangnya. Revolusi Riza Zulverdi. Sebuah nama dari seorang kawan. Sebuah nama yang aneh. Yang lebih aneh, pada sosok "revolusi" yang terakhir inilah, tiga sifat kata "revolusi" yang pernah saya rasakan, bersatu di dalamnya. Mengerikan (dalam pemikiran), positif (dalam berperilaku) dan mencerahkan (dalam semua hal).

Ibunda "revolusi" adalah seorang pendidik. Yang kebetulan mendidik saya dalam bidang (maaf) agama. Ayahnya, bekerja di pabrik gula. Saya tidak pernah tahu, mengapa keturunan pendidik dan pekerja pabrik gula ini bisa menyenangi musik alternative "Seatle Sound" ala Nirvana, Pearl Jam dan semacamnya. Ironisnya, musik jenis itu juga yang menggila di kepala saya. Dan tentu saja ada Metallica, Iwan Fals hingga Slank. Alinea di atas, memang sangat personal. Tapi bagi saya, ada keunikan. Terserah Anda mau setuju atau tidak.

Beberapa kali, "revolusi", saya dan seorang kawan lagi, menjadi "team inti". Haha,..sebutan konyol bagi kami yang sering meliput berita kemana-mana. Kedatangan Jenazal "haibar" Faturochman Al Gozi di Madiun, Banjir dan Tanah Longsor di Jember, Bom Bali II di Bali hingga aksi konyol mencari buronan Noordin M. Top di pegunungan di Mojokerto. "Kita benar-benar wartawan tanpa batas,.." katanya. Haha,..konyol!

Revolusi ala "revolusi" yang mungkin anda rasakan adalah sajian berita-berita dari TV7 Jawa Timur. Tahukah Anda, "revolusi" yang dia ciptakan ketika kawan saya ini sendirian menjadi wartawan TV7 di Jawa Timur? Dia harus bersaing berhadapan dengan "gempuran" TV lain yang memiliki tim lebih banyak dan peralatan lebih canggih pula. Hingga pelan-pelan muncul "pasukan" TV7 lain, plus tiga koresponden di Malang, Jember dan Kediri. "Wartawan itu cuma mur dan baut dalam sebuah rangkaian mesin perusahaan," katanya. Entah apa maksudnya.

Karena mur dan baut itulah, Revolusi harus mengakhiri "revolusinya". Jumat (01/09) pagi ini, ia berangkat ke Jakarta, menempati pos baru sebagai Asisten Koordinator Daerah, meninggalkan "revolusi" di Jawa Timur yang belum tuntas. "Saya tidak akan pernah mengatakan selamat tinggal, never say goodbye, pada tim solid di TV7 di Jawa Timur, ini adalah konsekuensi saya sebagai pekerja," katanya. Entah apa maksudnya...

"I hope some day you'll have a beatiful life,"---kutipan syair Pearl Jam dalam lagu Black.

.: Halaman Populer